25 Februari 2017


Haiiiii!!!

Hehe…pagi-pagi sudah dapat kiriman gambar dari sahabat. Gambar bagus dan penuh makna. Aaah…, saya bahagia.

(P.S credit gambar pada pemilik. Diedit seperlunya tanpa tujuan komersil.)

Terharu saya atas pemilihan gambarnya. Huhuhu…semoga kesampaian bertemu mereka dalam keadaan kondisi sebaik-baiknya. Aamiin

Well, saya juga mau info. Yuk ikuti giveaway saya di instagram. Sudah mau masa habisnya lhoo. Caranya mudah. Yuk cek saja di Giveaway Saya Di instagram. Tidak bekerja sama dengan instagram dan pihak manapun. Murni dari saya sendiri. Tidak dipungut biaya apapun. Cuma modal akun media sosial dan kuota internet.Hadiahnya buku gratis. Ikutan yaa!!!

Oh iya…saya mau coba bikin fanfic dadakan ah.

Ini dia!!!

——————

Fanfic flash general alternate universe- fantasi  (intinya sih ngaco singkat)
Tabib yang Ingin Sebutir Jeruk

Suatu hari di bumi bagian timur selatan pada jaman jalan sutra baru mulai tendernya oleh kerajaan Tiga Orang, hiduplah seorang Tabib tersohor. Ilmu pengobatannya begitu tinggi hasil menimba dari sejumlah guru dari berbagai negeri yang telah dia lakukan semenjak kecil. Tabib tersebut bernama Zhang Lay. Dia tinggal di sebuah rumah besar di tepi ibu kota. Begitu tenang dan asri dengan sejumlah pelayan setia.

Pada hari-hari tertentu Tabib Zhang Lay menerima pasien secara cuma-cuma dari kalangan rakyat jelata. Pasiennya datang dari berbagai penjuru negeri. Dia sering sibuk mengobati setiap harinya. Orang dengan berbagai keluhan selalu saja menuju rumahnya.

Hingga suatu hari Tabib Zhang Lay merasa kelelahan. Selesai memeriksa pasien terakhir hari itu, sang tabib jatuh tertidur di meja kerjanya. Kepala pelayan Chen yang mengetahui hal tersebut segera meminta bantuan pelayan Minseok dan Kyungsoo untuk membantu memindahkan Tabib Zhang Lay ke kamarnya.

Tabib Zhang Lay tidak merasakan apapun. Dia tengah bermimpi aneh. Dalam mimpinya, dia tengah berjalan-jalan di dekat sebuah kebun luas. Di tengah kebun terdapat pohon jeruk yang tengah berbuah lebat. Buahnya besar-besar dan kuning menggiurkan. Tabib Zhang Lay pun terdorong untuk memasuki kebun tersebut.

“Hey, siapa kau?” Seru seseorang begitu sang tabib menginjakkan kaki ke tanah kebun.

Tabib Zhang Lay terhenti. Dia melihat seorang tinggi besar dengan wajah cemberut berkacak pinggang padanya. “Maaf kan saya. Saya adalah Zhang Lay. Apa ini kebun Anda?” Ujarnya sopan.

Orang itu mengangguk singkat. “Aku Sehun anak pemilik kebun. Apa mau Anda dengan memasuki kebun kami?” Dia mengerutkan dahi.

“Oh, Nak Sehun, maafkan saya. Tapi, jeruk di kebun Anda begitu menggiurkan. Apa kah saya boleh meminta sebutir?” Tanya Tabib Zhang Lay sopan.

Sehun menggeleng singkat. “Jangan ah. Menanamnya begitu susah, apalagi merawatnya.”

“Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu,” sahut Tabib Zhang Lay pasrah. Dia pun balik badan. Berjalan gontai keluar kebun.

“Ya! Tuan!” Seru Sehun.

Tabib Zhang Lay menoleh keheranan. “Ada apa Nak Sehun?” Tanyanya.

“Masak begitu sih? Ditawar dulu dong!” Protes Sehun merajuk.

Tabib Zhang Lay menggeleng. “Tidak ah. Jeruknya sudah tidak begitu menggoda. Pulang dulu ya.”

Sehun makin cemberut. “Tuan, tawarlah dulu,” desaknya.

“Hellooo…, kamu kan nggak jualan. Nawar gimana coba,” sahut Tabib Zhang Lay mulai geram.

“Gimana gitu kek. Biar peran saya banyakan dikit ini.” Sehun mulai menjejakkan kaki dengan manja.

Tabin Zhang Lay melambaikan tangan. “Ani, ani. Saya mau pulang saja. Annyeong!”

Sehun terus memanggil Tabib Zhang Lay yang berjalan santai pulang ke rumahnya. Hanya saja dia bingung lewat mana. Kebun dan jalan di sekitarnya tidak dia kenali. Petani muda bernama Sehun tadi saja juga terlihat aneh. Dia hanya terus berjalan sampai melihat senyum manis pria berpipi bagus yang sangat dia kenal.

“Ehem-ehem.”

Tabib Zhang Lay bangkit seketika dari tidurnya. Rupanya dia sudah selesai bermimpi. Di sampingnya duduk kepala pelayan Chen yang siap berjaga.

“Ah, kepala pelayan Chen, aku senang kau di sini,” kata sang tabib yang disambut anggukan pelayannya. “Aku ingin sebutir jeruk yang segar.”

Kepala pelayan Chen tersenyum makin manis. Dari balik jubahnya dia mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kertas. Kertas itu bercetak sebuah wajah yang tidak asing. “Tentu saja, Tuan. Nikmatikan jeruk segar dari kebun Sehun ini.” Kepala pelayan Chen menyerahkan jeruk tersebut dengan ceria.

Hanya saja, Tabib Zhang Lay malah kesal. Anak ini gigih juga, pikirnya. Bisa-bisanya nekat muncul lagi lewat bungkusan jeruk. Tapi tak apalah. Dia makan saja jeruk lezat itu bersama pelayannya yang baik hati.
Selesai 
——-
Kkk~

Gaje ya? Hahaha….lumayan lah buat pemanasan. 
Selamat malam minggu!!!
😘😘😘

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s