15 Januari 2017

on

Roti Basi
Hujan. Saat hujan harusnya banyak yang mampir. Seiris kue yang baru keluar dari pemanggang bersama secangkie teh hijau tentu menarik mereka. Tapi mereka tak satu pun membuka pintu kaca berlabel pita krem itu. Pintu sepertu tersegel besar. Lonceng di atasnya tidak akan berdenting meningkahi derai air hujan yang meruntuki kanopi.

Diam, kau, hujan! Jangan mengejek!

Baskara hanya bisa memaki dalam hati. Empat baki panggangan pertama habis sebelum jam makan siang tadi. Lepas makan siang dia sudah memasukkan panggangan ketiga. Bersiap menjaga jeda kalau panggangan kedua turut ludes. Hanya saja, hujan datang. Kemungkinan bau hujan pertama menghalau aroma sedap roti dan kuenya.

Jahat!

Jam siang menjelang sore biasanya sejumlah pelanggan datang. Kopi atau teh dengan beberapa potong roti atau kue. Terkadang turis yang berlalu lalang ada yang lupa makan siang turut mampir. Bahkan warga lokal yang iseng pun tidak kepengin beli roti. Mereka dihalangi hujan deras sesiangan mencurah tak mau berhenti juga. Jam minum teh bakal lewat dan jam makan malam menjelang begitu saja.

Orang idiot mana yang menyebut hujan itu romantis? Sini bayar seluruh rotiku!

Ya, bukankah harusnya mereka datang ke toko. Duduk di samping jendela, memutar cangkir seraya memandang keluar melewati kaca. Dalam kepala menyairkan kata-kata yang pada saat rutinitas bahkan tidak dikenali sebagai kosa kata. Duduk di salah satu kursi tinggi, menyeruput es moccacino karena minum dingin adalah kesukaan sekalipun dingin udara.

Aroma gandum dan kayu manis terpanggang menggelitik khayalan mereka untuk saling mendekat. Pelukan sehangat setangkup croissant di pagi hari akan terasa. Mentega yang meleleh karena senyum manisnya. Butir-butir cokelat hitam seperti upil hasil kebosananmu.

Ugh! Menjijikan.

Pikiran Baskara jadi terserimpet. Urusan romantis memang bukan bidangnya. Akhirannya pasti baris tendangan komedi garing penuh humor kacangan tidak gurih. Tidak heran satu persatu wanita meninggalkan dirinya. Entah apapun alasan mereka ada dan kepergiannya. Dia pikir, membicarakan upil saat makan roti bukan hal yang bagus. Harusnya dia tahu sejak awal. Dianya saja yang bodoh.

Hehm

Ting-ting-tting!

Baskara mengangkat wajah seketika mendengar denting loncengnya. Seseorang, atau sebaiknya lebih banyak pelanggan, datang ke tokonya. Senyum lebar dia kembangkan. Rejeki harus disambut dengan senang hati melalui senyum manis wajah ganteng. Busungkan dada untuk menunjukkan roti dan kue yang terpajang berasal dari seorang pria berdada bidang penuh cinta kasih.

“Selamat sore,” sapa orang yang masuk itu. Suara, tidak wajahnya, menggugurkan senyum dan busungan dada Baskara seketika.

Tidak pernah ada pria berdada bidang penuh cinta kasih.
-bersambung-

P.S : kalau ada yang kurang nyambung dengan cerita singkat sebelumnya, mohon maklum. Hehe…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s