12 Oktober 2016

on

Toko Roti

(Lanjutan cerbung mas Baskara)
Awal pertemuan mereka tak ada yang istimewa. Sekedar sama-sama satu jurusan sekolah. Dia sendiri terpaksa masuk ke jurusan tersebut karena pesan terakhir ibunya. Toko roti milik kakek harus ada penerusnya. Bukan sekedar penerus, tapi keturunan yang juga ahli roti seperti kakeknya. Dia tidak terlalu menyukai pertemuan mereka di sekolah kejuruan itu.

Gadis itu ambisius. Matanya berputar ke berbagai arah saat bicara soal roti. Tidak bisa disela barang sedetik pun. Dia tahu lebih banyak dari murid-murid. Itu membuatnya makin tidak gembira untuk mengenal si gadis. Teman satu kelas yang menjengkelkan tapi terlanjur satu grup karena tugas MOS.

Dia tidak ingin menjerat nasibnya begitu banyak pada si gadis. Pelan-pelan dia menyebar ke murid-murid lain sekalipun gadis itu masih saja mengikuti kemanapun. Sebab murid lain pun tidak bisa melepaskan diri dari jenius kelas mereka. Itu seperti ketergantungan yang parah. Dia menyadari hal tersebut sejak awal.

Sebagai pemuda yang cerdas, dia tahu bagaimana harus mengolah semua itu. Seperti halnya mencampur dua macam tepung dan memisahkan putih telur dari kuning telur, dia bisa memanfaatkan pertemanan mereka. Bukan kah menjadi sahabat jauh lebih baik dari pada menjadi musuh yang tiada henti bersaing. Dia hanya perlu mencari takaran yang tepat. Seberapa banyak menarik perhatiannya, memisahkan ilmu dari kecerewetannya, lalu mengaduk searah tujuan yang dia inginkan.

Mudah sekali. Jika tepat jumlah gulanya, dia akan mendapat rasa manis sesuai. Memanipulasi gadis itu memang semudah itu. Dia hanya perlu menggunakan kelihaiaannya. Bahkan sekalipun bantat, toh masih bisa dikreasikan.

Namun itu dulu. Saat dia menggampangkan segala hal yang dia rasa dia kuasai. Dia lupa orang pun bertumbuh dan berkembang. Pemikiran pun mengembang seperti adonan beragi. Tapi tidak kosong ataupun berlubang. Gadis itu mengembang berisi sempurna. Dia tidak menyadari hal tersebut dan malah melempar telur busuk ke arahnya sendiri.

Dia hanyalah pemuda naif yang berpikir bisa melakukan segala hal. Dikiranya segala rencana telah tepat. Tanpa dia sadari dia sendiri yang salah membuat perbandingan. Kini dia memegang nampan yang keliru. Celemek yang dia pakai masih celemek kotak-kotak ceria palsu. Bukan putih bersih penuh kebanggaan.

Andai saja dia versi muda tidak sesombong itu. Mesin waktu pun terlalu mahal untuk dikorban guna memperbaiki ketololannya. Lebih baik dia berhemat dan membeli oven baru. Meski tetap saja toko rotinya masih lengang.

Jauh sekali dari mimpinya. Apalagi dari mimpi ibunya. Toko roti kakeknya kini diurus oleh sepupunya. Orang yang dia benci nomor dua. Dia bagai terusir karena hal tersebut. Seluruh keluarganya lebih memilih sang sepupu dari pada dirinya yang jelas-jelas punya ilmu soal roti dan kue. Sayang sekali ibunya telah tiada, tak dapat membelanya. Begitu pula kakeknya yang mungkin saja masih mau mempertimbangkannya.

Andai saja.

——

To be continue

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s