[WASPADA CURCOL] 24 September 2016


Malam minggu, hujan bentar, malas makan, untung sudah mandi. Di rumah, mainan hape, dengerin musik, nemenin bapak nonton tipi, emak pergi ke desa. Siangnya habis ketemuan dengan teman pecinta buku, pulang adopsi buku-buku murah. Diiming-imingi teman ke event Festival Payung Internasional #3 di Balekambang Solo. Nonton video-videonya Ryan Higa dan kawan-kawan di channel nigahiga dan higatv. Suka. Sukanya telat! Hahaha

I love Sean Fujiyoshi!

Hahaha  😅😅😅😅

Oke, pikiran saya sedang campur aduk nggak karuan. Silakan baca fiksi cepat berikut ini saja.

——–

Dunia Sama, Kita yang Beda

Sebulan berlalu tak terasa dengan banyaknya kegiatan. Mulai dari pertemuan penggemar di sejumlah toko buku, pemotretan untuk majalah, menandatangani ratusan buku, paket wisata gratis dari promotor, dan belanja oleh-oleh untuk teman-temanku di Oregon sana. Sebulan keliling Eropa untuk promo novel dewasa muda yang baru sebulan ini diluncurkan.

Aku sampai di Portland tadi pagi. Jetlag menempel rekat pada diriku. Seharian aku tidur tanpa bongkar bagasi dan tidak mandi atau makan dulu pula. Perjalanan tur promo yang selalu menguras tenagaku, tapi membahagiakanku.

Jam menunjukkan pukul empat sore. Rasanya masih ingin tidur pulas, hanya saja perutku berkata lain. Berkeriuk keras minta diisi. Aku pun beranjak dari tempat tidur tepat saat ponselku berdering.

Nama Kevin Lee terpampang di layar. Heran, dia meneleponku tepat saat aku sudah tiba di rumah. Padahal aku tidak memberitahu siapa-siapa kapan kepulanganku. Kecuali, ya, aku mengupdate instagram dengan foto tiba di bandara. Update rutin bagus untukku, kata publisisku, Martin Jackson.

“Hallo, Bro!” Angkatku setelah lama berdering.

Di seberang, terdengar teriakan dan kegaduhan lain. Rumah Kevin selalu ramai. “Sudah tiba? Sudah sadar?” Kevin bertanya cepat.

“Baru tiba tadi pagi. Ada apa?”sahutku sambil berjalan menuju kamar mandi.

“Datanglah ke tempatku. Ada pesta kecil, dan kami sedang membuat video klip terbaru.” Terdengar sorakan riuh.

Kulirik wajahku di cermin wastafel. Berantakan oleh maskara dan pudarnya bedak.”Aku baru tiba,” aku beralasan.

“Ayolah! Kami membutuhkanmu untuk video ini,” bujuk Kevin.

Kuhela nafas. Bujukan Kevin Lee belum pernah gagal meluluhkan hatiku. “Setengah jam lagi kalau begitu.”

“Kami menunggumu, Bae!” Dia menutup sambungan telepon.

Layar ponsel gelap saat kutaruh di rak wastafel. Kevin yang pertama meneleponku, bukannya Dennis Park. Mereka tinggal serumah, mereka sama-sama temanku. Aku lebih dekat dengan Dennis dari pada Kevin. Hal ini tiba-tiba mengangguku.

Sebulan aku tidak bertemu dengan Dennis. Meskipun kami tetap berkirim pesan dan menelepon, tapi ada yang mengganjal. Ketika nyaris bertemu setiap hari lalu terpisah selama sebulan penuh ada yang berkurang. Aku sebenarnya tak sabar untuk bertemu dengannya hari ini.

Beberapa mobil terparkir di dekat rumah Kevin. Milik teman-teman kami. Mereka ini musisi indie. Cukup biasa mengetahui mereka mengadakan pertemuan semacam ini sekalipun baru setahun aku mengenal mereka. Aku berdiri di depan pintu Kevin dengan jantung berdebar.

“Mira Dharma! Welcome back!” Sambut Kevin yang membukakan pintu untukku. Dia merangkulku singkat.

“Thank you, Bro. Boleh aku masuk?”

Dia membungkuk dramatis yang menimbulkan tawaku. Aku pun masuk ke ruang depan yang luas. Sudah penuh oleh sejumlah orang. Aku mengenal meraka, satu persatu kusalami dan menyapa akrab.

Tapi belum kutemukan Dennis di antara mereka. Malah ada satu orang baru yang tidak kukenal. Kusingkirkan pikiran anehku. Dennis baik-baik saja, dia hanya keluar membeli sesuatu.

“Bagaimana perjalananmu, Mi?” tanya Elise. Dia penyanyi utama grup ini. Rambut merah stroberinya diombre dengan hijau muda saat kutinggal ke Eropa.

Kuangkat bahu. “Fantastik!” Gelas sodaku berembun cepat. “Mereka antusias sekali dengan buku terbaru dan menanti sekuelnya. Bulan depan aku harus memulai pertapaanku lagi untuk itu.”

“Great job, girl!” Komentar Elise. Dia juga termasuk pembacaku. Fans berat bisa dibilang begitu.

Kami pun mengobrol banyak hal. Lalu memulai syuting kembali. Beberapa scene aku ikut tampil selain ikut membantu di belakang layar. Aku melesak kepanasan di sofa saat akhirnya Dennis kembali.

Dennis melambai riang padaku. Bibirnya membentuk kata ‘hon’ untuk honey padaku. Namun dia terhenti ketika hendak menghampiriku. Orang baru yang tadi tak kukenal meraih lengannya. Dia menariknya ke dapur tanpa tolakan dari Dennis.

Jantungku berdebar. Pikiranku melompat ke hal buruk. Sesuatu terjadi saat aku pergi. Sesuatu yang seharusnya aku menerimanya tapi ada kekecewaan terlarang.

“Dia merindukanmu,” bisik Kevin yang muncul tiba-tiba di lengan sofa. Kulirik pria keturunan asia timur yang lahir dan besar di amerika itu. Bassis indie terkenal ini berbisik lagi padaku. “Kau tidak apa-apa?”

“Siapa tadi itu?” ujarku.

“Tamara Lin. Dennis berkencan dengannya baru-baru ini,” jawab Kevin pelan.

Aku menunduk ke lengan jumperku yang berlubang. “Akhirnya dia mau berkencan juga. Aku kan sudah mengatakan padanya berkali-kali. Kami tidak akan pernah bisa bersama.”

“Dia mencoba, Mi,” timpal Kevin. “Apa kau benar baik-baik saja dengan semua ini? Dahimu berkerut sejak tadi. Kau yakin?”

“Aku tidak akan tiba-tiba muncul lalu menarik Dennis kembali padaku. Dia bebas melakukan apapun. Seberapa besar apapun aku juga menyukainya, kami tidak akan bisa bersatu. Berulang kali telah kukatakan padanya. Aku senang dia akhirnya mendengarku.” Kuusap ujung hidungku dengan ujung jilbabku.

“Aku tidak pernah mengerti. Kalian saling menyukai, tapi begini,” kata Kevin.

“Aku sudah cukup bahagia bisa bersama kalian semua. Nekat hidup di sini sangat berat tanpa bantuan kalian. Tidak akan kunodai kebaikan kalian dengan menyakiti Dennis,” kuungkapkan kegundahanku.

Kevin menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengerti. Sungguh.”

Aku pun tak pernah mengerti. Cinta yang kurasakan pada Dennis adalah cobaan terberat. Mungkin ini adalah pengorbanan yang harus kubuat atas kenekatan yang aku lakukan. Lari dari rumah untuk mengejar mimpi dan inilah karmaku. Jatuh cinta pada orang yang meskipun cinta padaku juga tapi kami tidak akan bisa bersama.

-Tamat-
Hahaha

Cerita singkat yang terlahir dari pikiran kacau. Semoga menghibur. Like dan komentar ya. 

Terima kasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s