26 Maret 2016

on

Pria Stroberi Menuliskan Gusar

Dia bilang aku asam.
Kecut! Lidah aslinya berucap.
Dia bilang aku indah.
Keren, dia mendesahkan.
Dia bilang aku menjulang.
Jauh dari tonggak.
Terlalu jauh dari jemari mungilnya.
Asam meracuni keindahan.
Busuk dari dalam ke luar.
Dimuntahkan kebenaran yang menggerogoti sauh.
Terkikis habis.
Dia bilang akan roboh.
Hancur berkeping, remuk berceceran.
Serpih tulang putih susu.
Cipratan lendir.
Dia bilang aku kejam.
Membiarkan dia diketapel.
Tertembak bulatan logam.
Melesak kulitnya.
Merah lebam, darah menggumpal di balik kulit.
Dia bilang mau pergi saja.
Bersamaku tak ada cahaya.
Rumah bukan rumah. Lilin dihembuskan.
Dia benar pergi.
Aku tidak apa-apa.
Dia bersama yang lain.
Aku tidak apa-apa.
Toh, aku sudah mati ketika dia bilang aku asam.


Puisi Baskara saat dia tahu Tara pindah ke Makau.
Pria stroberi kita galau di toko kuenya.

Wulan Murti
novel: Fireworks for Love; Like Brother, Like Sister; Cinta Tak Kenal Batas Waktu
instagram&twiter : @yuelan13

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s