20 Maret 2016

on

Cerbung Baskara (2)

Dikasih judul apa ya biar pas? Ada kah saran? hehehe
Sementara dikasih nama toko rotinya mas Bask deh.


Loaves Bake Shoppe (part 2)

Toko kembali sepi. Denting lonceng di atas pintu senyap. Hanya dengung kulkas dan derak kipas angin. Baskara dan kue-kuenya sendiri lagi.
Hehm. Dia menghela nafas dalam. Kalau saja dia bisa membujuk Vero. Gadis berhidung mancung itu susah sekali dibujuk agar mau tetap tinggal. Padahal penciumannya tajam dan tangannya terampil. Berdua mereka bisa mengembang bisnis roti ini.
Sayangnya Vero keras kepala. Dia lebih memilih kembali ke Solo. Kota yang masih dibilang belum berpangsa pasar. Entah bagaimana Vero berpikir. Berkali-kali Baskara menjelaskan, tapi tidak didengarkan. Dasar gadis cantik tidak berotak!
Baskara menggeleng. Harusnya tidak mengumpat demikian. Dia masih menyukai gadis ramping semampai itu. Bukan kah dia juga yang mengajak Vero pindah ke Bali untuk membangun toko roti? Sejak awal dia sendiri yang mengatur semuanya. Sampai Vero tidak lagi bisa sejalan.
Sekarang Vero meninggalkannya. Salah siapa?
Kalau Tara pasti tidak begini jadinya. Dia pekerja keras dan pantang menyerah. Toko ini pasti sudah buka cabang. Paling tidak sudah balik modal. Bukannya makin susah begini. Kalau saja Tara yang dia ajak.
Baskara menghela nafas lebih dalam. Untuk apa dia mengingat Tara. Gadis itu ada di Solo sana. Terkungkung. Biarlah bertemu Vero. Biar melembek di kota keji itu. Siapa suruh mereka berbuat demikian pada Baskara. Biar saja.
Ting-ting! Pintu terbuka kembali. Baskara melonjak dari kursinya. Bergegas memasang senyum manis. Tapi dihapuskan begitu tahu Galih yang kembali.
“Lupa bayar,” ujarnya dengan cengiran. Dia menunjuk mesin kasir.
“Lupa tagih,” sahut Baskara kesal.
“Akhir-akhir ini kau kacau. Apa Vero benar tidak akan balik?”
Baskara menekan tombol angka. Dia berusaha mengingat pembelian Galih. Hanya saja keingintahuan Galih sangat menganggu. Galih, tahu terlalu banyak.
“Bayar saja dua ratus ribu,” geram Baskara.
Galih menarik dua lembar uang ratusan ribu dari dompet kain kumalnya. “Sudah seminggu lebih. Dia bilang cuma tengok ibunya. Masak selama ini.”
Baskara menatap tajam lawan bicaranya seraya menerima uang. “Dia dikawinkan,” jawabnya ketus.
Mata Galih melebar. “Oh, maaf.” Dia siap melesat keluar, tapi berhenti. “Ijinkan Nael dan Dodi bekerja full time.”
“Itu tujuanmu?”
“Kau perlu bantuan. Tidak mungkin kan mengurus toko sendirian. Lagi pula mereka bisa bekerja dengan baik. Vero yang supervisi magang mereka.”
Tangan Baskara terangkat dan membuat Galih bungkam. “Biar aku pikirkan. Cepat kembali ke kuemu.”
Dengan itu pintu dibuka dan ditutup cepat. Sepi lagi. Kecuali suara kayu dipukul.

-bersambung-

Wulan Murti
novel: Fireworks for Love; Like Brother, Like Sister; Cinta Tak Kenal Batas Waktu
instagram&twiter : @yuelan13

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s