18 Maret 2016


Mengenal Baskara (2)

—–
Pagi tadi sempat mendung menggantung di langit. Siang malah terik. Panas hawanya sampai kipas angin terasa seperti hembus kipas sate. Kalau saja oven tidak rusak, bisa beli AC untuk toko. Tapi tentu saja oven lebih penting, pikirnya sambil mengusap keringat di ujung hidung. Sedikit dia berharap mendung datang lagi.
Deretan tanaman di depan tokonya perlu disiram. Pagi karena mengharap hujan, dia tidak menyiram. Sekarang bunga-bunga layu dan lunglai. Itu bisa menjadikan tokonya terlihat kusam dari luar. Bisa makin sepi pengunjung. Padahal tidak boleh menyiram tanaman pada siang hari.
Kata Tara begitu.
“Tara,” ucapnya pelan. Seperti menyecap. Merasakan tiap hurufnya. Manis, kering, bantat.
Ting-ting! Bel pintu berbunyi. Pertanda datangnya pengunjung. Dia pun merapikan celemek dan meluruskan topi.
“Bas, mau ambil kue,” kata Galih. Dia pengunjung tetap toko kuenya. Sejak pertama buka, Galih lah pengunjung pertama. Lelaki kurus berjambang ini, suka makan kue.
Baskara mengangguk. Kue tart pesanan Galih sudah siap dikulkas. Baskara mengambilnya lalu membungkusnya dengan kotak kertas warna merah bata. Kemasan yang desainnya bagus. Mudah dibuat dan dibawa. Idenya Tara.
“Mau tambah lilin?” Tanya Baskara seraya mengangsurkan kotak.
Galih menggeleng. “Tidak, Bas. Makasih ya.” Dia lalu bergegas keluar.
Ting-ting. Pintu tertutup. Sepi kembali. Derak kipas angin besar model kuno menimpali.

-bersambung-

Wulan Murti
novel: Fireworks for Love; Like Brother, Like Sister; Cinta Tak Kenal Batas Waktu
instagram&twiter : @yuelan13

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s