[Nulis Random] [flash story] Rindu Tak Berbalas Itu Racun


Pertanyaan itu masih aku ingat jelas. Seakan baru kemarin kau ucapkan. Lewat telepon malam itu. Saat kau lembur kerjaan. “Kamu kangen ya?”
Aku ingin bertemu denganmu. Dulu itu, sampai saat ini. Sama seperti dirimu beberapa bulan lalu yang merindukanku. Ingin bertemu denganmu yang merindukan diriku.
Kau tahu aku tengah sakit dulu. Hanya saja kau cuma tahu aku demam. Tidak lebih dari badan panas dan kepala pening. Tidak mengetahui sakit rindu yang menggerogoti organ dalam.
Janjimu, kita akan bertemu. Kau akan datang ke rumahku. Tidak perlu membawa apapun. Cukup datang dan tenangkan aku.
Tak pernah terjadi. Tak pernah datang. Kupasang telinga tiap hari. Kalau mungkin suara motormu meraung dari jalan menuju halamanku. Tak ada suara.
Sakit demamku sembuh. Kepalaku pulih. Tapi rindu ini makin menjadi. Dari dalam menguyah tiap organ. Tak bersisa.
Kosonglah diri ini. Selongsong yang ditinggali jiwa yang lelah. Jiwa tunggal tak berdaya. Jiwa yang terduduk di pinggir jurang kerinduan tak terbalas.
Dia sakit. Dia sekarat. Tak ada obat. Raganya terbebat. Masuk dalam jerat.
Tiap malam, terngiang janji itu. Sampai tertidur. Saat bangun, Tuhan masih beri kesempatan. Untuk teringat, rindu itu belum dipuaskan.
Entah bagaimana aku harus mengatakan padamu. Bahkan aku ingin memukul keras-keras. Ke perut gendutmu. Agar kau tahu sakitnya aku menahan rindu.
Kuteriakkan padamu sumpah serapah. Hingga kau paham aku tidak tahu kata manis lagi. Brengsek. Bedebah. Kau buat aku biadab.
Sebab rindu itu. Kau tanamkan dalam tiap penantianku. Rindu semu. Janji memudar.
Aku meneguk racun dari botol yang kupilih sendiri. Dari sekian banyak botol aneka rupa lain. Kuambil botol racun berlabel rindu. Diminum sampai tandas. Tak bersisa barang setetes pun.
Dari usus ke tenggorokan dia menjalar. Mencekik paru-paru lalu jantung. Disumbat aliran darah. Cuma air mata dia lepaskan.
Tinggal jiwa yang terperangah. Raganya hancur tak berbentuk. Remuk dari dalam. Jiwa turut menangis.
Aku masih ingat jelas, kata jiwa itu lantang. Kau, bedebah, cintaku. Aku rindu kepadamu. Mana janjimu dulu? Brengsek! Aku buang saja botolnya. Sekaligus dirimu yang tidak tahu diri.
Racunmu merusakku, tapi aku rela itu terjadi.

-Tamat-

wulan murti
×Fireworks for Love×

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s