[FF] Irony Friday


Fanfic baru. Terinspirasi ketika nonton tv ada Yesung Suju nyanyi Gray Paper, OSt-nya That Winter, The Wind Blow. Mau mewek, tapi berusaha tegar. Kangen suara Yesung dan penampilannya pas nyanyi.

Rating: T

Genre: AU, dan sedikit humor

Length: Ficlet (1000 words)

“Awr!” Emi mengerang kesal. Dia menendang selimut dan melompat dari tempat tidur sekalipun badannya masih ingin bergelung di bawah selimut hangat. Sambil mengucek mata dia berkomat-kamit, “Dia tidak akan bisa… Tidak tahu diri… Demi Tuhan, dia menyebalkan.”

Emi menyambar handuk, berhenti menggerundel. Menuju kamar mandi masih dengan keadaan setengah sadar. Secara otomatis –salahkan rutinitas selama delapan belas tahun- menjalankan ritual pagi. Toilet, gosok gigi, cuci muka, lalu mengganti piyama dengan baju bersih. Baru menyapukan kosmetik sederhana.

“Kalau saja dia bukan anak bos, tidak akan kulakukan semua ini. Ini Jum’at! Dia mau membuatku bekerja dari pagi sampai malam.” Emi mendengus keras. “Kita lihat saja siapa nanti yang menang.” Emi terus bicara sendiri sambil membuat roti panggang untuk sarapan.

Emi berniat menikmati sarapan dengan sepenuh hati. Sebelum ponselnya berdering memekakkan telinga. Dia melonjak dari bar stool dengan selembar roti menggantung di atas dagu. Ponsel disambar cepat. Nama Kim Jong Woon, anak bosnya, terpampang. Bagai nama tersebut meloncat dari layar ponsel lalu jadi besar. Seratus kali. Jadi mulut besar yang berteriak pada Emi. Emi mengernyit pada bayangan itu.

“Yoboseyo,” bisik Emi.

“Ini soal waktu kapan kau angkat telepon. Apa kau juga akan lama untuk sampai di kantor, Emi agassi?” Kim Jong Woon bentak dengan nada kesal. Dia terdengar menggeram.

Emi meremas roti bakarnya. Kekesalannya makin memuncak. “Dalam perjalanan, manajer Kim!” jawab Emi dalam nada lebih tinggi dari yang diharapkan. Dia bisa membayangkan sang manajer –anak bos- menjauhkan ponsel dari telinga dan memerah mukanya.

“Kuharap dalam perjalanan bukan berarti kau baru berjalan keluar apartemen menuju lift,” cemooh Kim Jong Woon. “Cepat ke ruanganku begitu kau sampai kantor!” Dia menutup sambungan telepon.

“Menyebalkan!” seru Emi. Dia mencari tas dan mantel. Masih sambil menguyah roti bakar. Memakai mantel lalu menyandang tas. Meraih kunci dari meja kopi. Emi kemudian melesat keluar apartemen.

Udara pagi segar sekali. Matahari bersinar hangat. Jalan masih lengang. Saat lewat taman, suara burung dan serangga samar-samar terdengar. Sungguh sempurna, plus sangat menyenangkan, untuk mengakhiri hari kerja lalu memulai akhir pekan. Urgh! Kenapa si kepala balon itu tidak mengerti?

Oke, dia tidak akan pernah mengerti. Di kepalanya hanya ada bekerja, bekerja dan bekerja. Kalau bisa dia pasti akan menjadikan tujuh hari kerja. 24/7! Mulai pagi sampai malam. Oh, dia pikir semua orang gila kerja seperti dia apa!

Emi menggelengkan kepalanya. Anak tertua bos memang menyebalkan. Memuja kerja seakan dewa yang menghidupinya. Tidak seperti adiknya, pikir Emi. Adiknya lebih baik, lebih tampan, lebih menarik, lebih sopan, lebih-lebih lainnya. Emi membayangkan Kim Ye Sung adik Kim Jong Woon sambil mengetukkan jari ke roda kemudi.

Dia tertawa malu ketika bayangannya mulai meliar. Kim Ye Sung datang ke kantor bersamaan dengannya. Membukakan pintu dan memuji betapa cantik Emi pagi ini. Saking cantiknya, Kim Ye Sung memutuskan untuk menyanyikan sebuah lagu untuk Emi, dengan suara emasnya itu! Emi tertawa histeris. Pipinya terasa hangat dan mengembang.

“Kau terlambat!” gelegar suara Kim Jong Woon memecah balon kebahagiaannya. Bayangan Kim Ye Sung lenyap. Suara merdunya melemah lalu hilang. Malah muncul kakaknya yang keji. Berkacak pinggang di hadapan Emi. Wajahnya menyeramkan. Seakan-akan berubah jadi manusia serigala.

Kepala besar ala balonnya berubah bentuk. Telinga berpindah di atas kepala, berbulu. Bulu-bulu abu-abu juga muncul di area lain. Di wa…-moncongnya. Dia menyeringai, menunjukkan gigi taring besar.

“Aish~!” umpat Emi.

Selalu saja. Bayangan indah tentang Kim Ye Sung, anak kedua bosnya yang juga seorang penyanyi, dirusak oleh Kim Jong Woon. Kakak yang tidak ada apa-apanya dibanding Kim Ye Sung. Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi? Sungguh ironi.

***

Setelah mengebut dan parkir di basement kantor, Emi berlari ke tangga darurat. Dia memakai sepatu ballet hari ini. Tanpa hak dua belas senti yang biasa dia pakai. Tidak sabar menunggu lift, Emi berlari menaiki tangga. Untungnya kantor manajer Kim Jong Woon ada di lantai tujuh. Untung hanya sampai lantai tujuh!

“Jung Emi!”

Seruan dengan nada tinggi itu menyambut kedatangan Emi di depan pintu kantor Kim Jong Woon. Dalam sekejap Emi mematung. Dia tahu siapa pemilik suara itu. Dia juga bisa menebak apa yang akan diserukan orang itu begitu Emi membalikkan badan.

Emi pun membalikkan badan.

“Kau terlambat!” seru Kim Jong Woon. Dia mengecek jam di pergelangan tangannya. “Tiga menit dua puluh lima detik.” Seringai keji terulas di wajahnya. “Semoga kau tidak meninggalkan hal penting dan harus berlari pulang untuk mengambilnya.”

Emi membungkuk, meminta maaf. “Cheosong hamnida. Tapi data untuk rapat tidak ketinggalan kok,” ujar Emi, agak kesal. Dia bergegas mengaduk-aduk isi tasnya.

“Benarkah?” sahut Kim Jong Woon. Suaranya terdengar licik.

Emi mengaduk makin dalam. Mencari CD yang dimaksud. Tidak terlihat. Dia mulai cemas. Tapi lalu teringat kalau dia menyelipkannya di agenda. Oh, benar ada di dalam agenda. Emi mengeluarkannya dengan kelegaan luar biasa.

“Ini, manajer Kim!” ujar Emi penuh kemenangan.

Senyum apapun di wajah Kim Jong Woon lenyap. Awan gelap bagai bertengger di atas kepalanya. Menaungi ekspresi jengkel yang menghiasi wajah tampan itu. Sayang sekali.

“Siapkan ruang rapat. Presdir juga akan datang,” perintahnya. Matanya menyipit tinggal segaris, tajam. Seperti mau mengiris Emi jadi fillet daging.

“Hyeong!” Suara sapaan yang merdu menyela perang dingin atasan-bawahan itu. Wajah tampan berhias senyum hangat muncul di antara mereka. “Jung Emissi, annyeong!” senandungnya sambil melambai ramah pada Emi.

Otot-otot muka Emi mengendur. Dia otomatis tersenyum lebar dari telinga ke telinga. Tubuhnya terasa ringan sampai dia rasa dia bisa terbang. Mungkin iya. Sebab ratusan kupu-kupu terbang berduyun-duyun dalam perutnya. Uh, sebaiknya dia segera sembunyi saja.

“Jung Emi!”

Buk! Emi terhempas dari awang-awang. Kupu-kupu berubah jadi beruang yang mencakar-cakar dalam perutnya. Sudah itu dia bagai digilas tumit raksasa. Milik siapa lagi kalau bukan Kim Jong Woon.

“Segera laksanakan pekerjaanmu!” bentak Kim Jong Woon.

Emi menegakkan punggung. “Iya, manajer Kim.” Membungkuk hormat dalam-dalam meskipun wajahnya dilipat-lipat kesal.

“Bersemangatlah, Jung Emi!” bisik Kim Ye Sung. Tentu saja dengan suara merdu nan tulus. Dan ditambah kedipan mata indah. Plus senyum hangat. Juga lambaian tangan penuh energi.

Ya Tuhan. Kenapa seorang Kim Ye Sung harus mempunyai hubungan darah dengan Kim Jong Woon? Kasihan sekali pemuda tampan nan baik hati ini. Tidak seperti kakaknya. Oh, Tuhan. Kenapa juga aku harus berurusan dengan kakaknya? Kejam bagai diktaktor. Hidup ini sungguh… Awr! Ironi!

 

-Tamat-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s