Makan ketupat


Hi!
Lebaran Idul fitri sudah, lebaran haji sudah. Tapi niatan bikin postingan soal ketupat belum terlaksana juga. Duh, malesnya saya.
Oke, sudahlah. Mari jadi anak rajin dan produktif. 😀
Jadi ini cerita soal kebiasaan yang saya alami di tempat tinggal saya. Kalau beberapa kawan pembaca punya kebiasaan masak dan makan ketupat dan opor pada saat hari raya idul fitri (dan idul adha), tempat saya tinggal enggak begitu. Keluarga besar saya biasanya malah bikin susis khas solo dan bakso. Nggak ada ketupat dan opor setelah sholat ied. Kenapa? Sebab ada waktunya sendiri.
Kira-kira sekitar seminggu setelah lebarang baru bikin ketupat dan opor, ditambah sambal goreng. Itupun nggak semua bikin. Ibu saya nggak pernah bikin. Di lingkungan saya yang bikin itu kalau ada anggota keluarganya, kalau nggak salah sih anak, yang sudah meninggal. Saya belum tahu pasti sih soal hal ini. Tapi jelasnya yang saya tahu, hanya beberapa keluarga saya saja yang bikin. Ada dua bulik saya yang salah satu putranya meninggal setelah dilahirkan, nah mereka ini yang bikin ketupat. Saya mah kecipratan aja. Hehhe
Hal unik lainnya adalah setelah selesai dimasak, beberapa ketupat akan digantung di pintu depan rumah. Ini juga belum saya ketahui dengan pasti kenapa musti dilakukan.
Well, apapun itu, opor, sambal goreng dan ketupat masakan bulik-bulik saya yahud. Nah, karena saya mau berbagi juga, ini saya cipratin fotonya.
mk 1
mk 2
mk 3
SIlakan berbagi cerita kalau mengalami hal yang mirip atau lebih unik. Atau malah salah satu diantara kawan pembaca ada yang lebih tahu soal kebiasaan ini.
Semoga menginspirasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s