[flash story] Terwujudnya Harapan (Konyol)


Terwujudnya Harapan (Konyol)

Hari ini mungkin akan genap setahun kejadian menakjubkan itu telah terjadi. Ya, sebuah rentetan kejadian menakjubkan. Semenakjubkan lusinan kembang api yang dinyalakan beruntun. Dengan bunga-bunga, lidah api, dan pedar mempersolek langit gelap tak berbintang. Bulan kala itu sabit, terukir sendirian. Kini dia bisa menyebut hari-hari dulu dengan kata menyenangkan.
Dengan matanya yang bersinar di bawah kanopi dua lipatan kelopak mata dan bulu-bulu mata hitam pendek, dia memandang memori dalam hening. Angin bertiup kering dalam udara panas gara-gara gunung api terdekat habis bererupsi. Menyapu pipi coklat mudanya yang dihinggapi secuil daging merah menyala. Debu menempel di sana. Tapi matanya tidak akan disaputi debu-debu waktu dan kejadian. Dia masih bisa melihat kejadian menakjubkan tahun lalu.
Saat dia memakai pakaian dari kain brokat yang sebulan sebelumnya telah dibeli. Warna ungu seperti kelopak-kelopak aster yang mekar gemilang. Hanya saja dengan tambahan taburan benang warna emas berkilauan. Sangat pas dibadannya yang tidak kurus tapi tidak gemuk juga. Meskipun tidak ada yang menyebutnya seksi, atau menarik.
Selama hidupnya dia menggolongkan dirinya sebagai orang biasa. Perempuan muda normal yang hidup normal. Walaupun terkadang dia rasa di garis normal tidak ada tempat untuknya. Dia bukannya abnormal. Juga bukan paranormal. Kalau ayahnya sering cerita soal anak-anak dikawasan pelabuhan yang melompat-lompat ke truk disebut bajing lompat. Bisa jadi dia adalah bajing lompat kenormalan. Sebab kadang dia seperti gasing yang dilempar ke arena. Berputar kencang, melonjak-lonjak, berputar lalu terpental.
Dia punya teman di masa kuliah. Sama halnya ketika SMA, SMP, SD, bahkan jaman kanak-kanak dia selalu berada dalam gerombolan. Dia bisa larut dalam percakapan. Perjalanan senang-senang sering kali dia terlibat. Gaya pakaiannya… Tidak separah itu. Dia memakai pakaian sopan yang bersih, tersetrika halus, dan wangi. Kadang dia memakai kaos kaki kendor. Tapi dia baik-baik saja dan punya teman.
Matanya mengerjap. Lidah terjulur untuk membasahi bibirnya yang kering. Kegelisahan seperti itu kadang menguasainya tiap kali kenangan menakjubkan itu melintas di kepala. Dia suka pada kenangan itu. Tapi dia juga membencinya. Bukan pada kenangannya. Dia benci pada sikap yang diambil oleh kebodohannya atas efek domino kejadian itu. Telapak tangannya basah dan perlu dilap berulang kali pada kain katun rok lebar yang dipakai.
Dia tidak suka ketidakberaturan. Dia rapi dan terjadwal. Dia selalu tepat waktu. Bahkan kadang jauh sebelum waktunya. Misalnya saja datang setengah jam sebelum acara dimulai adalah terlambat baginya. Demi Tuhan, badannya demam kalau terlambat. Dia bahkan tidak menunggak sewaktu sekolah dasar.
Dikatakan perlu 3,5 tahun sampai 4 tahun untuk mencapai gelar S1. Dia bilang pada dirinya harus lulus tepat waktu. Delapan semester itu empat tahun. Meskipun dia tahu diam-diam kampus memberi rentang sepuluh semester. Untungnya pidato bapak rektor di upacara penyambutan mahasiswa baru tertanam dalam di-mind set-nya.
Dalam rekaan liarnya dia telah membuat rencana sejak remaja awal. Menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Ayolah, dia tidak akan membiarkan orang tuanya membayar satu juta tiga puluh enam ribu lima ratus rupiah demi semester tambahan yang bisa dihindari. Rencananya benar-benar sempurna. Dia menjalaninya penuh dedikasi dan ambisi. Gairah bergejolak menggelegar dalam aliran darah. Sekalipun dia mendapat nilai 2 untuk tiga mata kuliah.
Hanya saja rencana manusia hanyalah rencana. Rencana Tuhan melapis di atasnya. Setiap rencana ada cobaannya. Bukti pada Tuhan sejauh mana dia mempertahankan impian, rencananya. Diguncang badai saat itu. Masih ingat jelas saat badai absurb itu menimpanya. Dan dari situlah segalanya, yah bisa dikatakan, berawal.
Ketika itu dia menyadari dia sendirian. Ya, sendiri menghadapi tugas akhir. Bukan berarti dia tidak bisa mengerjakan sendiri. Bukan sendiri itu yang dimaksud. Selama ini dia juga mengerjakan sendiri tugasnya. Meskipun kadang buruk. Lihat saja tiga nilai C di kartu nilainya.
Hanya saja, dia melihat kenyataan masing-masing temannya ditemani, dibantu, didukung… pacar. Dia sendiri. Dia tak berkekasih selama ini. Jadi memusingkan ketika mereka menyadarkannya. Siapa yang menemaninya sidang tugas akhir nanti?
Oh, Tuhan. Ini konyol. Dia berpikir demikian saat itu. Tak apa-apa tak ada kekasih. Toh yang memaparkan konsep proyek tugas akhir di hadapan empat dosen hanya dirinya sendiri. Dia seorang, sekalipun seumpamanya dia berkekasih.
Dia mendapat masalah lain saat itu. Mendorong perkara pacar-dukung-TA keluar dari kepala. Terjun lepas dari fokusnya. Sementara dia sendiri tengah gundah soal proyek tugas akhirnya. Dia mendapati cobaan sebenarnya. Dilepas atau diteruskan… Atau dia turut terjun saja.
Beruntung dia punya teman-teman yang mendukung. Dan lupa soal kekasih mereka. Dia kembali pada rencananya dalam kondisi babak belur. Seperti tergelincir dari pertengahan bukit. Menggelinding di atas rimbun putri malu. Tergores-gores merangkak kembali ke puncak bukit.
Ya, dia akhirnya lulus dan lolos. Lulus jadi sarjana. Lolos soal pendamping tugas akhir.
Tapi saat itu dia tidak tahu ada bom lain yang siap dilempar. Meledak di depan wajahnya. Sedikit berefek lebih dalam daripada bom sebelum sidang. Dia berdiri diam mendengar tik-tak bom waktu. Lalu… Boomm!
Nah, inilah! Inilah awal- awal yang sebenarnya-dari kejadian menakjubkan dulu itu. Boom ini yang membuatnya teriak kencang dalam dada. Dia memulai kejadian itu. Dia minta pada Tuhan agar diberi pendamping wisuda. Hari-hari dalam sejumlah bulan dia berdoa agar diberi seorang lelaki yang ada di samping saat wisuda nanti. Saat sibuk urus sidang, urus surat, dia juga sibuk berdoa itu.
Kadang dia menggeleng prihatin pada dirinya sendiri. Mungkin saat itu dia melompat pada garis paranormal. Berpikir jauh dan menekan jiwanya dalam. Otaknya jadi berjumpilatan tak keruan.
Akan satu tahun berlalu setelah doanya diwujudkan Tuhan. Meskipun dalam jangka itu, dua bulan awal dia belum menyadarinya secara sadar. Dia seakan kurang bersyukur saja. Padahal Tuhan sudah berbaik hati memberi banyak atas satu doanya.
Kalau diingat baik-baik, dia sudah tidak terlalu ingat detail peristiwanya. Begini cerita yang masih diingatnya. (untuk kenangan menjelang peringatan satu tahunnya)
Ada gladi resik wisuda yang perlu dihadirinya. Ada lagu dan janji yang perlu diingat. Tanpa mengurangi rasa hormat, dia terganggu oleh hal lain. Seorang laki-laki yang duduk di belakangnya yang bicara terus. Padahal orang samping kanan kirinya terdengar tenang dan berusaha mengikuti bapak dari rektorat yang menerangkan tentang wisuda nanti.
Mari mundur sejenak. Perlu diberitahukan bahwa dia berhasil mendaki bukit dengan luka-luka di sekujur tubuh. Tapi Tuhan memberinya piala melalui predikat kelulusan dengan pujian. Dan menjadikan dia mendapat posisi duduk terpisah dari mayoritas teman-teman satu fakultasnya. Dia dan sejumlah teman lain mendapat deret kursi ketiga dari depan. Berbaur dengan wisudawan jurusan lain, fakultas lain. Bahkan dia duduk tepat di samping teman masa SMP yang sekitar tujuh tahun tak ditemuinya.
Kembali lagi. Dia agak terganggu dengan orang di belakangnya. Tebak-tebak dalam hati dia pikir pasti satu fakultas dengan teman SMP-nya ini. Dia menoleh dan mendapat sekilas wajah pria muda itu. Jantungnya melompat satu detak. Dia kembali ke bapak dari rektorat yang bicara banyak hal soal web resmi yang menyiarkan secara langsung acara wisuda. Meskipun telinganya berbagi pada ocehan orang di belakangnya.
Gladi resik selesai. Dia tidak lagi ingat soal pria muda itu. Tapi dia sudah bertukar nomor dengan teman SMP nya. Untuk janjian esok nanti.
Inilah dimana kejadian itu terjadi. Seharusnya dia sadar saat itu. Bersyukur dan menerima takdir baik-baik. Tapi tampaknya dia tengah meloncat-loncat dari normal ke tepi abnormal melesat ke ujung paranormal.
Hari wisuda dia berangkat tergesa-gesa untuk sampai tiga puluh menit sebelum acara dimulai. Dia masuk ke barisan yang telah dipersiapkan. Menyelip di antara teman satu jurusannya dan teman SMP. Dia memiringkan badan dan mendongak pada teman SMP. Teman SMP tumbuh menjulang puluhan senti sejak mereka berdiri sama tinggi waktu dulu. Mereka mengobrol antusias. Hingga sebuah suara menyapanya.
Suara itu tidak asing baginya. Dia memutar ke arah lain. Melihat lurus untuk memandang siku berlapis toga hitam. Oh, pria muda yang banyak bicara kemarin itu. Dia lebih tinggi dari teman SMP. Sayangnya dia tidak berani mendongak ke wajahnya. Jantungnya berdebar. Dia kesulitan menjawab pertanyaan sederhana pria muda itu. Bahkan dengan bodoh terdiam, yang kemudian sangat disesalinya.
Demi Tuhan! Dia menyapamu! Padahal ada teman laki-lakimu di depannya yang bisa dia tanyai. Tapi dia menanyaimu!
Oke, mereka berjalan masuk ke aula dan dia menggigit bibir kecewa. Untungnya bajing meloncat tepat waktu. Dia mengikis rasa kecewanya. Selesai wisuda, setelah bapak rektor memindah pita toga, dia bisa balik menyapanya. Bahkan menyalaminya dan mengucapkan selamat. Mungkin akan membawa ke sesuatu yang menarik.
Namun, dia hanya bangkit memandangnya melebur dengan teman-temannya. Dia berdebar melihatnya melangkah keluar. Ribuan orang mengarus keluar pula. Dia, terpaku di tempatnya. Sadar akan sesuatu. Boomm! Dia melompat ke garis paling bawah.
Hehm… Helaan nafasnya berat. Dia rasa dia kurang bersyukur pada Tuhan. Tuhan beri dia nilai bagus atas usaha. Tuhan beri dia tempat duduk menarik. Tuhan beri dia pendamping wisuda. Tuhan wujudkan doanya. Mengapa dia meminta lebih?
Dia menepuk jidat. “Konyol,” desisnya. Pada dirinya sendiri tentu saja. Meskipun seharusnya dia bilang, “Terima kasih ya Alloh, atas cinta yang tiada henti Kau curahkan padaku.”

-Tamat-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s