[fan fiction] Fly me to your heart

on

hi! sesuai yang pernah saya umumkan kemarin. saya sudah buah oneshot fan fiction. judulnya Fly Me to Your Heart. genre romantic. ratingnya general. temanya daily romantic life. castnya: jungsu (eeteuk), youngjin (yesung), haeri (sunny), naeun (jesica). hehehe…and the author is wulan murti

disclaimer: all the real characters is not mine. the story plot just inspired by those characters.

sangat pendek dan ringan. ini percobaan bikin fan fic yang agak serius. ehmz….masih kaku. tapi semoga menghibur.

Fly me to your heart

Baru seminggu yang lalu Haeri mengantar kekasihnya, Jungsu, bergabung dengan militer. Kini dia sudah jalan bergandengan tangan dengan pria lain. Mereka mengobrol akrab, sesekali tertawa riang. Mesra layaknya sepasang kekasih.
Mereka memasuki sebuah coffeeshop.
Tampaknya sudah kebiasaan mereka mengunjungi tempat itu. Pelayannya menyapa ramah layaknya teman akrab. Bahkan mereka tidak perlu memberitahu detail pesanan, si pelayan sudah mengerti. Mereka tinggal duduk menunggu di kursi dekat jendela.
Sungguh mengherankan kelakuan Haeri ini. Dia berselingkuh di saat pacarnya menjalani wajib militer. Malah mungkin sudah lama sebelum Jungsu masuk wamil. Buktinya saja mereka begitu mesra dan punya tempat favorit.

“Hahaha!” Naeun merebut buku Haeri. “Cerita apa lagi kali ini, Haeri-ya? Masih dilema dengan dua pangeran impianmu?” Dibacanya prolog cerita yang sedang ditulis Haeri.
Kesal, Haeri mengerucutkan bibir. Bukan kali pertama sahabatnya mengejek tulisan dan dua pria yang disukainya. Malas benar menyahuti ocehan Naeun.
Namun sahabatnya itu menggoda makin seru.
“Ah, ayolah Haeri! Aku hanya bercanda. Jelek lho cemberut begitu.”
Bukannya terhibur, Haeri malah semakin kesal. Direbut kembali buku catatan miliknya dari tangan Naeun. Entah mengapa kali ini dia tidak bisa menahan emosi.
“Haeri-ya, kau marah? Waeyo? Aku kan hanya bercanda,” kata Naeun sambil mengejar Haeri menuruni tangga.
Tak ada jawaban. Haeri terus berjalan keluar sekolah. Masih cemberut, dia berjalan cepat berharap Naeun tidak sanggup mengikutinya. Dia tahu persis Naeun itu tipikal putri.
“Haeri-ya, mianhae! Jangan berjalan begitu cepat!” teriak Naeun beberapa langkah di belakangnya.
Karena terlalu marah, Haeri mempercepat langkahnya. Biar saja Naeun berkeringat mengejarnya. Salah sendiri mengejek terus. Haeri menoleh sekilas ke belakang. Naeun tengah mengusap keringat di dahinya.
Dug! Tak disangka begitu kembali berjalan Haeri menabrak orang. Orang itu sampai jatuh tersungkur.
“Cheosonghamnida! Cheosonghamnida!” ujar Haeri. Dia membungkuk di hadapan orang itu. Naeun sudah berhasil menyusulnya. Dia ikut meminta maaf.
Srrt! Orang itu menjulurkan tangan kanannya. “Kenapa hanya meminta maaf? Bantu aku berdiri.” Dia mengangkat wajah. Poninya tersibak.
Melihat wajah korban tabrakannya, Haeri membelalak. “Aaarggh!” serunya histeris. Alih-alih membantu, dia berlari pergi.
Kebingungan, Naeun cepat-cepat menarik tangan orang itu. Begitu orang itu berdiri, Naeun berlari menyusul Haeri.
“Youngjin-a, waeyo?” tanya seorang lain lagi yang muncul dari sebuah toko. Dia celingukan.
“Anak SMA jaman sekarang aneh-aneh, Jungsu hyung,” komentar orang itu, Youngjin.

Di depan pintu masuk apartemen Haeri dan Naeun duduk mengatur nafas. Lari sampai ke rumah sekaligus syok benar-benar menguras energi.
Naeun menoleh pada Haeri yang wajahnya masih merah. “Kenapa lari?”
Haeri memegang kedua pipinya dan menggelengkan kepala. Dia memekik. “Orang tadi Youngjin oppa! Aku malu!” serunya, “Oh, tidak! Oh, tidak!”
“Aigoo, itu bisa jadi kesempatan emas. Ah, kau.”
“Naeun-ya, aku bukan dirimu yang bisa bicara mudah dengan lelaki. Apalagi itu Youngjin oppa. Aku menabraknya!”
“Sudah ah, aku mau tidur.”
Naeun bangkit masuk apartemen. Beberapa detik kemudian Haeri menyusulnya. Tempat tinggal mereka ada di satu lantai. Hanya terpaut tiga unit lain. Sejak SMP mereka satu sekolah. Karena itu mereka tetangga sekaligus sahabat.
Naeun suka sekali menggoda Haeri kalau sedang menulis cerita tentang pujaan hatinya. Menurut Naeun itu kegiatan yang tidak bermanfaat. Kalau memang menyukai orang itu, dekati dan ungkapkan perasaanmu. Meskipun terkesan selalu jahil, Naeun sangat mendukung Haeri. Dia selalu menyuruh Haeri memberanikan diri mendekati orang yang disukai. Atau setidaknya dia harus memutuskan dahulu siapa yang benar-benar disukai. Jungsu atau Youjin.
***
“Jungsu itu lebih tua dari Youngjin. Youngjin lebih manis dari Jungsu. Mereka sama-sama pianis. Jadi kau pilih siapa?” tanya Naeun yang berbaring di tempat tidur Haeri.
“Itu pilihan yang berat. Masing-masing memiliki kesan dalam. Youngjin oppa pernah menolongku ketika anak kelas tiga menjahiliku. Kalau Jungsu oppa pernah memberiku setangkai mawar,” jawab Haeri. Dia bergelung di lantai memeluk bantal rilakkuma.
“Aduh Haeri sayang. Jangan berpikir terlalu jauh! Bunga mawar itu tidak istimewa. Bisa saja kan dia memberikan mawar itu untuk siapa saja yang ditemuinya. Kebetulan kau yang pertama ditemuinya.”
“Kenapa kau berkata dengan kejam lagi, Naeun?”
“Ani, ani! Bukan maksudku begitu. Hanya saja aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini terus. Setidaknya kau harus maju selangkah. Dalam hatimu siapa yang benar-benar kau sukai?”
“Beri aku sehari.”
“Baiklah, besok malam kauberitahu aku keputusanmu. Aku tidur di sini ya?”
Haeri mendesah. Dilemparkannya bantal ke Naeun yang mulai lelap.
Mudah bagi Naeun, tapi tak mudah baginya. Namun benar juga kata Naeun. Dia harus maju meski hanya selangkah. Kini dia tinggal berpikir dan menimbang dengan hati siapa yang benar-benar disukainya.
***
Haeri berangkat sekolah sendiri. Naeun terserang diare hingga tidak bisa masuk sekolah. Ah, Haeri jadi sedih. Sahabatnya sakit dan dia tidak bisa memberitahukan keputusannya.
“Mawar untukmu,” kata Jungsu pada seorang gadis.
Gadis itu tertawa kecil. “Terima kasih, oppa,” sahutnya ceria.
“Sama-sama. Jangan lupa mampir ke kedai kopi Rose Garden,” timpal Jungsu.
Haeri mematung tak jauh dari mereka. Mulut ternganga mendengar percakapan itu. Rupanya selama ini dia keliru. Jungsu ternyata pegawai Rose Garden yang tengah berpromosi dengan memberi mawar gratis.
Haeri teringat saat Jungsu dulu memberinya mawar. Dia hanya membelalak pada Jungsu yang tersenyum hangat. Lalu dengan dada berdebar Haeri berlari. Dia pikir Jungsu tertarik padanya dan begitu suka sampai memberi mawar.
“Jadi bukan hanya aku?” gumam Haeri nelangsa.
Tadinya dia hendak memberitahu Naeun kalau Jungsu lah pilihannya. Namun kejadian pagi tadi telah meruntuhkan segalanya. Semangatnya turun drastis. Pelajaran demi pelajaran lewat begitu saja.
Teng! Teng! Teng! Bel pulang berdentang tak begitu menarik hati Haeri. Rasanya malas pulang. Nanti harus melewati Rose Garden. Harus bertemu Jungsu. Aaa…, tidak, tidak!
“Kenapa bersedih gadis manis? Ayo ikut paman bersenang-senang!” goda paman mabuk.
Haeri menoleh ke sekeliling. Tidak ada orang. Jalanan menjelang malam sepi. Haeri bersiap lari. Tapi paman mabuk menarik tasnya.
“Mau kemana sayang,” kata paman mabuk.
Buk! Paman mabuk tersungkur. Langsung tak sadarkan diri.
“Youngjin oppa?” ujar Haeri terperangah.
“Cepat pulang! Tidak aman berjalan sendiri,” kata Youngjin.
Haeri menatap Youngjin yang berkharisma. “Mau kah…, mau kah…, mau kah oppa mengantarku?” pinta Haeri dengan gugup.
Youngjin mengangguk. Mereka berjalan berdampingan. Jantung Haeri berdebar hebat. Mimpi apa dia kemarin, bisa berjalan berdua dengan Youngjin.
“Kau masih ingat namaku….”
“Oppa terima kasih….”
Mereka bicara bebarengan. Pipi Haeri jadi merona. Youngjin sendiri tertawa kecil.
“Mianhae, oppa,” ucap Haeri.
Youngjin mengatakan tak perlu. Dia kebetulan saja melihat paman mabuk sedang menggoda Haeri. Dia tidak bisa membiarkan kejahatan berlangsung.
“Oh, ya, aku suka puisimu. Fly me to your heart. Bisa dijadikan lirik lagu,” kata Youngjin.
Haeri terperangah kembali. Fly me to your heart. Bukankah itu puisinya yang hilang. Tunggu! Hilangnya saat dia diganggu kakak kelas. Pipinya menjadi makin merah. Puisi itu kan untuk Youngjin. Dibuat ketika Haeri menonton permainan piano Youngjin.
“Ah, kau pasti bingung. Mianhae, aku menemukan kertas puisi waktu dulu. Saat bertemu lagi kemarin itu, kau malah lari. Jadi maukah kau datang ke pentas piano di Rose Garden hari Sabtu nanti?”
Haeri menahan nafas. Youngjin mengajaknya bertemu? Apa ini ajakan kencan? Aaakh!
“Ne, oppa! Aku masuk dulu ya. Gomapda!” kata Haeri cepat. Dia berlari masuk apartemen.
Youngjin melambai. “Ye! Sampai jumpa hari Sabtu!” ucapnya seraya tersenyum.
Haeri berlari menaiki tangga. Semangatnya saat ini bertolak belakang dengan semangat tadi pagi. Dia menggedor pintu unit apartemen Naeun. Ibu Naeun terheran-heran melihat tingkah laku sahabat anaknya.
Haeri menyusul Naeun di kamar mandi. “Naeun-ya, aku akan kencan dengan Youngjin oppa!” seru Naeun sambil membuka pintu.
Duk! Kepala Naeun terantuk dinding. Rupanya dia tertidur di atas toilet yang tertutup. Dia mengusap pelisinya. Kemudian mengerutkan dahi, bukan karena mendapati dirinya tertidur di kamar mandi. Tapi melihat Haeri menari-nari girang di depan kamar mandi.
“Youngjin oppa mengajak kencan! Kencan! Kencan!” senandung Haeri.
Naeun menggaruk kepala. “Sudah diputuskan memilih Youngjin oppa ya? Baguslah,” gumam Naeun. Dia menguap lebar. Tanpa mempedulikan tarian gurita Haeri, dia menuju kamarnya melanjutkan tidur.
“Kencan! Kencan! Kencan!” Haeri menari mengikuti Naeun ke kamar.
Blam! Pintu kamar tertendang tarian aneh Haeri. Meredam nyanyian girangnya.

-Tamat-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s