[flash story] Kucing dan Kasur


Hari Senin tanggal 21 Januari 2013 punya peristiwa bersejarah. Peristiwa bersejarah yang terjadi di kamarku. Ini kejadian nyata lho. Seekor kucing warna hitam-putih yang tiap harinya keluar masuk rumah nyari-nyari kesempatan buat ambil makan, tiba-tiba mendekam di atas kasurku. Waktu itu hujan, jadi kukira dia mau tidur siang gitu. Waktu aku usir malah membelalak sambil mendesis-desis serak. Nggak mau beranjak juga. Sampai akhirnya aku melihat setitik noda. Ah, tepat setitik besar noda di atas seprei putih-merah muda ku. Kukira noda kotoran. Aku teriak gaje sambil berpikir tuh kucing sudah berak. Lalu tetap kucoba mengusirnya. Dia kembali mendesis. Awr! Sampai akhirnya aku melihat sesuatu dari balik perutnya. Kecil, hitam, basah, meluncur turun susah payah. Waaaa!!! Rupa dia beranak!
Aku cuma bisa teriak-teriak nggak tega. Ibuku juga nggak mau ngangkat. Bapak sampai bangun tidur dan sedikit marah. Bapak nyuruh ibu ngangkat kucingnya, tapi ibu dengan sigap menjawab tidak. Bahkan menjawabnya dengan bahasa daerah asal ibu. Sudah lama sekali tidak ibu gunakan.
Dan akhirnya si kucing meloncat turun, lari keluar kamar masuk kolong meja komputer, setelah bapak turun tangan narik seprei. Tapi kok masih ada suara ngeong kecil. Oh, rupanya si anak kucing terguling jatuh ke kolong tempat tidur. Sama bapak diangkat pakai kardus terus dikasih ke si induk. Singkat cerita si kucing lanjut beranak. Anaknya ada 3. Semalaman ngeang-ngeong.
Duh, jadi gitu yak kalau punya bayi. Repot dan susah tidur.
Sebenarnya waktu malam bapak mau mindahi mereka ke luar rumah. Tapi si kucing bandel banget. Sampai-sampai bapak becanda gini, “Woo, kucing wedhus.”
Hahaha.
Namun, di pagi hari suara tangis anak kucing mulai mengecil. Lalu tenang. Rupanya mereka bertiga sudah mati. Anak kucing yang mati terakhir adalah anak kucing yang pertama, yang terguling jatuh dari atas kasur. Wow, dia tangguh.
Si induk kucing pagi tadi sudah entah kemana meninggalkan ketiga jasad anaknya.
Eh, ternyata dia sudah di kursi depan rumah dekat pot-pot bunga. Berdua dengan si kucing jingga punya tetangga. Dua kucing itu pasangan kucing yang sering berantem sama aku. Si jingga cueknya minta ampun. Ekornya sih keren kayak anggora, tapi tetap saja dia kucing kampung. Anehnya, si induk kucing yang baru melahirkan sukanya melotot padaku.
Aku lagi menjemur kasur yang habis dia pakai beranak dia pelototi sambil lewat. Aku lewat kursi tempat dia bebaring dia juga melotot. Padahal si jingga cuek tidur enak. Aku lewat lagi, si hitam-putih melotot lagi. Tahu dah kenapa.
Jangan bilang no pciture, hoax. Aku sudah pegang hape siap mau rekam. Keadaan tidak mendukung. Nggak tega melihat seorang ibu kucing berjuang melahirkan anaknya seorang diri tanpa suami. Terus juga nggak sopan ambil gambar jasad anak-anaknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s