Hujan di Malam Minggu


Hari ini berlangsung dengan menyedihkan. Keburukannya berlapis. Seperti susunan domino yang jatuh satu persatu. Lalu hujan mengguyur dengan deras.
Ya, hujan di malam minggu seperti ini.
Ah, aku tidak lantas kecewa. Bukankah malah jadi sejuk. Enak buat tidur. Jadi makin nyaman kasur yang empuk dan hangat.
Tahulah kau bahwa aku kini sendiri. Tidak benar-benar sendiri dalam harfiah sih. Dalam pengertian berpasangan lebih tepatnya. Tapi apa ada hubungan erat dengan hujan di malam minggu?
Asal tahu saja, malam ini aku mengirim pesan pendek padanya. Pada dia yang diam-diam kuharapkan mau memandangku. Dia membalas sekali dengan baik.
Aku yang terlalu berharap. Dia memang baik hati. Tapi dia jelas lupa siapa aku. Dia bisa saja tahu aku diam-diam menyukainya.
Jelas, dia juga terkurung dalam rumah oleh hujan. Dia sendiri. Oh, lagi-lagi bukan benar-benar sendiri. Dia banyak teman.
Dia dan aku sama-sama sendiri. Tapi tidak lantas dapat bersama. Karena hujan di malam minggu ini menjadi pagar.
Suatu hari ketika hujan sudah reda, aku ingin nekat bilang padanya. Aku suka padanya. Bukan berarti cinta. Aku suka padanya, bukan berarti aku rendahan. Aku suka padanya. Dia melakukan hal yang meluluhkan hatiku. Bukan berarti aku memaksa.
Namun hujan di malam minggu ini lebih menyayangiku. Dia tidak ingin aku kecapekan memikirkan orang itu. Dia senang hati meninabobokan aku. Aku beristirahat dengan nyenyak. Agar aku bisa bermimpi indah. Mungkin memimpikan sosok orang yang kusukai.
Ya Alloh, terima kasih atas hujan di malam minggu ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s