[flash true story] buat ibu

on

sebuah flash story yang tertulis beberapa waktu lalu. terinspirasi saat saya jatuh sakit. padahal saat itu – masih sampai saat ini juga sih – saya tengah menyelesaikan tugas akhir saya. demi S.Sn dah.
spesial buat ibu saya, juga buat ayah deh.
hehehe

Genduk

nDuk, makan dulu ya, nduk,” pinta ibu dengan nada mengiba dan penuh kasih.
Ah, aku begitu senang dipanggil nduk oleh ibu dan ayahku. Rasanya begitu penuh cinta. Hangat dan sangat dekat. Seperti dipeluk erat-erat.
Aku senang dipanggil demikian, nduk.
Mungkin kau, mereka, kalian, akan terheran-heran. Apa bagusnya panggilan nduk? Kalian tidak akan suka. Kalian malah jijik pada panggilan nduk.
Ini semua karena pergeseran. Karena kebudayaan makin maju bergerak. Menggeser kata dan artinya. Menggeser orientasinya. Seperti kerak bumi yang bergeser disebabkan kekuatan besar dalam bumi, seperti itulah pergeseran budaya.
Kau, kalian, mereka, dia, tahunya nduk itu panggilan untuk pembantu, panggilan rendah, ndeso, dan yang kurang enak lainnya. Menyedihkan. Sungguh membuat hati sedih. Pergeseran menyentuh kalian.
Genduk atau sering lebih singkat berbentuk nduk. Panggilan untuk anak perempuan. Tidak terbatas pada rakyat jelata, anak perempuan dari priyayi, anak perempuan dari pangeran, anak perempuan dari raja, dipanggil genduk oleh ayah ibu mereka. Itu bahasa Jawa. Genduk tanda bahwa dia perempuan.
Nada saat mengucapkan nduk atau genduk selalu dengan penekanan kasih. Ada selimut sayang membungkus kata nduk. Hangat, cinta, rindu, perhatian, menguar dari kata nduk. Adanya yang baik-baik.
Seumur-umur, aku belum pernah mendengar nduk dalam makian. Orang tua senantiasa memanggil nduk ketika menasehati. Ketika mengajarkan kebaikan, ketika menegur, ketika membagi kasih sayang. Dalam kesedihan, dalam duka, dalam suka, dalam amarah, dalam ketidakmampuan, kata nduk bagai mantra penyejuk. Mantra penenang.
Karena tiap menyebut nduk, ayah ibu akan ingat, anak yang berdiri di hadapanku ini adalah anak perempuanku. Dia buah kasihku. Dia ibu dari cucu-cucuku. Dia saudara perempuan anak-anakku. Dia perempuan yang kubanggakan dan kusayangi.
Sebab-sebab itulah aku rindu dipanggil nduk. Aku suka dipanggil nduk. Aku bangga dipanggil nduk. Aku perempuan.
Sedihnya, ibu akan sering memanggilku nduk ketika aku susah makan, susah bergerak. Saat aku sakit. Ibu akan membujukku untuk makan. “nDuk, makan dulu ya? Biar bisa minum obat. Biar cepat sembuh, nduk!”
Air mataku akan membanjiri. Rasa sakit dan senang membaur. Menusuk.
Ibuku, selalu cemas tiap aku sakit. Ibu akan ikut malas makan. Bahkan ikut merasa sakit.
Telaten ibu mengurusku. Mengompres dahiku dengan air hangat. Tiap sejam mengganti kompresnya. “nDuk, cepat sembuh, nduk.”
Aku senang saat itu. Ibu senantiasa di sampingku. Memijati badanku yang rasanya remuk. Mengelus dahiku. Memelukku erat.
Tapi ibuku tersakiti batinnya. Melihatku mengerang kesakitan. Menyaksikanku muntah-muntah padahal tidak kuat makan. Hati ibu lebih remuk.
Namun aku senang dipanggil nduk.
Aku ingat, seringnya kata nduk dipakai ketika aku sakit. Ketika aku berbuat tidak benar. Ketika aku melakukan kesalahan.
Ibu ayah tersakiti. Jiwa mereka menangis. Anakku sakit. Anakku nakal. Anakku terpelintir jalan hidupnya.
Ibu ayah memanggil genduk kembali dalam rengkuhan mereka. Menarik tangan sebelum terhanyut.
Lalu, apa aku jadi jahat ketika mengharapkan dipanggil nduk. Sementara saat itu ibu akan sering tersakiti. Mungkinkah ini berarti aku senang ibu sakit hati. Aku menyakiti hati ibu.
Gendukmu ini minta maaf, bu.

Iklan

4 Comments Add yours

  1. bintangrina berkata:

    Hallo Wulan Murti, andaikata aku ini kakekmu tentu akan berkata
    nduk cah ayu Murti mengapa wajahmu di Blog ini miring. Apa kau terkena musibah ketika ada gempa besar (hehehe…maaf ya saya risi melihat foto miring) Panggilan nduk itu memang indah dan mengandung kasih yang murni, Otomatis semua anak dan cucuku sehari-hari kupanggil dengan nduk. Sayang kini aku berada jauh aku di barat anak-cucu ditimur dan jawa tengah. Tulisan anda membuatku rindu kepada mereka.
    Salam kenal dari saya Bintang Rina

    1. wu berkata:

      hallo kakek Bintang Rina, salam kenal.
      hehehehe
      (maaf ketawa dulu)
      saya sendiri kemarin sudah niat mau ganti foto, tapi belum ada yang bagus.
      sekarang sudha berganti.
      hehehe
      iya, kek (weh, maaf jadi panggil kakek).
      saya suka deh kalau dipanggil nduk sama ortu.
      tapi sekarang ini tuh temen2 yang kurang ajar kadang manggil nduk buat ngejek atau godain itu.
      nggak suka deh.
      wah, maaf jadi membuat kangen.
      semoga lekas terobati.
      🙂
      di barat? jawa barat?

      1. bintangrina berkata:

        Buat Wulan Murti. Saya memang di Jabar, namun anak dan cucu ada di Jogya dan Malang serta Jember. Waktu kecil saya tinggal di Malang.Jadi memangil nduk itu rasanya mesra.
        Namun panggilan itu hanya untuk hubungan umur , darah dan kebudayaan yang dilandasi kasih sayang..Di luar itu jelas tidak berhak, bahkan melecehkan. Kalau ada yang memanggil nduk , Wulan tidak perlu marah, tetapi dibalas saja dengan memanggil Le (asal kata tole) atau Jang (asal kata ujang). Kalau wanita ya dipanggil mbokde (hehehehe, ada kakek kok mengajari yang kasar ya…)
        sekian salam dari oldman Bintang Rina..

      2. wu berkata:

        hehhe
        begitu ya kek
        matur nuwun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s