[cerpen] Terompet AKhir Tahun

on

Terompet Akhir Tahun

Ruang itu bercat putih bersih. Aromanya bersih dan sedikit bau obat. Ada tiga ranjang berjejer. Sebuah ranjang ditempati oleh seorang gadis berumur sekitar delapan belas tahun. Dia terbaring lemah dengan wajah pucat yang diceriakan. Di kursi dekat ranjangnya, duduk seorang laki-laki yang tampaknya tak jauh lebih tua darinya.
Ada percakapan diantara keduanya. Sebuah percakapan normal didengar dari temanya. Namun tidak bagi si laki-laki yang bernama Abdi itu. Jauh di dalam hatinya ada gejolak yang menyesakkan dada. Sama seperti orang terkasih yang kini terbaring lemah, Dira, mereka tersenyum palsu. Senyum yang dipaksakan.
“Besok sudah tanggal 31 Desember, Ab,” kata Dira lirih. Dia memandang sendu Abdi yang setia menemaninya.
“Malam tahun baru ya?” Tanya Abdi seperti orang melamun.
Dira mengangguk. “Aku ingin nonton kembang api,” harap Dira.
“Kita bisa naik ke atas pas tengah malam,” usul Abdi. Dia lalu tersenyum meyakinkan. Mereka bisa melihat kembang api yang biasa diledakkan tiap tahun baru. Beberapa titik keramaian kota akan mewujudkannya. Dari atap gedung rumah sakit mereka pasti bisa menikmatinya.
Dira ikut tersenyum. Pelan ia menarik selimutnya. Hawa dingin Desember menyusup lewat jendela. Abdi yang tanggap membantunya membenahi letak selimut. Juga menutup lebih rapat jendela dekat ranjang orang terkasihnya.
Pandangan Dira berkeliling menyapu ruang. Sudah seminggu ia menempati ruang rawat inap rumah sakit. Abdi, sahabat terdekatnya, dengan setia rutin menemaninya bergantian dengan orang tua Dira. Mata Dira terhenti pada sosok Abdi.
“Kau istirahat saja, Ab,” ujar Dira.
“Kau tidurlah dulu, sudah larut malam,” sahut Abdi.
“Baiklah, tapi kau juga istirahat ya?” kata Dira. Abdi mengangguk. Menatap Dira yang memejamkan mata. Mulai terlelap tidur.

Pagi-pagi ibu datang. Beliau tak datang dengan tangan kosong. Ada dua terompet kerucut ukuran sedang. Berwarna kuning perak meriah dengan merah. Ada rumbai-rumbai.
“Tadi ibu mampir sebentar beli terompet untukmu,” beritahu ibu.
Semburat merah muncul di pipi Dira. Membuatnya terlihat cerah dan segar. “Ah, ibu. Nanti aku bikin gaduh,” keluh Dira malu-malu.
Ibu mendekati dengan sebuah elusan cinta. “Ya nanti ditiupnya pelan-pelan, Nak. Jangan keras-keras,” hibur beliau.
Dira tertawa kecil. “Oh, ya, bu. Abdi sudah berangkat kuliah ya?” Tanya Dira yang sejak membuka mata tak mendapati keberadaan Abdi.
Ibu mengangguk sebagai jawaban. Ibu tahu bagaimana perasaan putrinya itu terhadap Abdi teman dekatnya.
“Kalau begitu sehabis mandi temani Dira jalan-jalan ke taman ya, Bu?” pinta putri tertuanya.
Beliau kembali mengangguk. Diiringi senyum dan mata yang berkaca-kaca. Ibu sangat menyayangi putrinya. Anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara. Kakak dan adik Dira laki-laki semua. Pantaslah jika Dira dekat dengan ibu dan banyak dilimpahi kasih sayang.
Selesai pemeriksaan dokter, Dira mengelilingi taman rumah sakit di atas kursi roda di dorong ibunya. Tak hanya mereka di taman hijau nan indah itu. Ada pasien dan penjaga mereka turut menikmati indahnya taman dalam area rumah sakit. Termasuk seorang pasien anak-anak yang satu kamar dengan Dira. Razaaq namanya.
Anak taman kanak-kanak yang mengalami kecelakaan jatuh dari pohon. Kaki kecilnya digips. Dia bermain dengan ibunya di dekat pohon akasia. Tapi tiba-tiba saja dia menangis. Kejadian itu menarik perhatian Dira.
“Kenapa itu bu si Razaaq?” heran Dira.
“Kita cek ke sana saja yuk, Nak,” ajak ibu seraya mengarahkan kursi Dira.
Dira dan ibunya telah sampai pada Razaaq yang menangis makin keras. “Ada apa, Razaaq? Kok nangis?” tanya Dira. Dira hati-hati mengulurkan tangan, mengelus lengan Razaaq.
Razaaq menengadahkan kepala. Air matanya membasahi wajah. Sambil sesenggukan ia menjawab, “Kak Dira, Razaaq sedih,” dengan lugunya.
“Sedih kenapa, Razaaq? Coba ceritakan pada kakak,” bujuk Dira.
Razaaq mencoba berhenti menangis. Matanya bulat memandang Dira. “Razaaq kan sudah janji beli terompet buat adik. Adik datang hari ini sama ayah. Tapi ibu bilang tak bisa beli terompet buat kami,” cerita Razaaq susah payah.
Ibu Razaaq tersenyum datar mendengar penuturan anaknya. Beliau hanya mampu merengkuh buah hati erat-erat. Hal itu membuat hati Dira mencelos.
“Razaaq berhenti nangis ya? Kakak kan punya dua terompet, satu buat Razaaq satu buat adik Razaaq. Bagaimana, Razaaq mau kan?” kata Dira.
Razaaq berbinar-binar mendengar perkataan Dira. Bibir mungilnya membuka dan menutup tanpa kata-kata.
“Iya, Razaaq. Nanti tante taruh di meja Razaaq ya terompetnya,” imbuh ibu Dira.
Razaaq membuka mulut penuh kesukacitaan. Ibunya menuntun untuk mengucapkan terima kasih. Dia sangat bahagia dapat memenuhi janji untuk adiknya.
Dira melanjutkan mengelilingi taman bersama sang ibu. Pikirannya sibuk mencerna sesuatu. Melamun dalam sampai ibunya mengajak bicara.
“Kau ikhlas kan, Nak?”
Dira tertawa malu. “Iya lah, Bu. Dira jadi malu. Sudah besar masih ingin dibelikan terompet,” ujar Dira.
“Bagus deh anak ibu yang ini,” puji ibu. Ibu membelokkan kursi roda dan Dira kembali ke ruang rawat. “Nanti Abdi datang lagi ya, Nak?” tanya ibu.
Dira tersenyum lebar. “Iya, Bu. Dia bilang mau datang temani Dira. Tidak mau ikut pesta dengan teman-teman seperti biasanya. Ganti suasana katanya,” ungkap Dira.
“Jadi kau punya teman nanti malam,” Ibu mengedip pada Dira. Membuat Dira tersipu malu. “Apa sih ibu ini?” elak Dira.
“Siang, tante, Dira,” sapa Abdi, subjek pembicaraan ibu dan anak, datang menyapa. Dia masih menggendong ranselnya. Tersenyum lebar walaupun lelah.
“Ini dia orangnya,” goda ibu. Dira melempar pandangan merajuk.
“Ada apa tante?” tanya Abdi penasaran.
“Ah, tidak apa-apa kok, nak Abdi,” jawab ibu sok misterius.
Ketiga berjalan beriringan menuju kamar inap Dira. Ibu membantunya naik ke ranjang. Kemudian beliau keluar untuk membeli resep yang sudah diberikan oleh seorang perawat. Sekaligus memberi waktu Abdi untuk berdua dengan Dira. Juga untuk menaruh dua terompet ke meja samping ranjang Razaaq.
“Semoga nanti malam cerah ya, Dira,” ujar Abdi memulai pembicaraan.
“Iya, semoga,” timpal Dira.
“Hu’um. Biar aku bisa membawamu ke atap gedung,” beritahu Abdi senang.
Dira jadi agak ragu. “Memangnya boleh? Lagi pula kan malam-malam,” tanya Dira.
“Boleh kok. Aku sudah bilang petugas rumah sakit. Asal hati-hati,” terang Abdi. “Kan atap rumah sakit sudah di desain bagus. Kata petugas khusus malam ini pasien mendapat ijin ke atap.”
Dira menerawang langit-langit ruang. Ia membayangkan menghitung bintang satu-persatu bersama Abdi hingga tahun berganti. Melihat keindahan langit dengan buncahan meriah kembang api.
“Dira, jangan melamun dong!”
“Ah, iya, Abdi.”
Abdi tersenyum melihat mimik Dira yang kebingungan. Senyum yang sangat disukai Dira. Senyuman termanis dan terhangat yang pernah dia dapatkan. Senyuman Abdi yang selalu berhasil menenangkan hati Dira. Senyum itu pula yang membuat Dira jatuh hati pada Abdi. Namun dia tak pernah mengungkapkan perasaannya itu. Seperti halnya Abdi yang tetap saja mengkamlufasekan perasaannya pada Dira.
“Kalian sudah jadian ya?” tanya salah seorang teman, Mili, beberapa waktu dulu. Dira hanya menggelengkan kepalanya sekuat tenaga. Dira menjadi tersipu malu tiap kali tuduhan seperti itu dilayangkan padanya. Perasaan sukanya tersembunyi jauh di dalam hatinya.
Abdi menemani Dira sepanjang hari. Sejenak menggantikan ibu Dira yang tampak lelah lahir batin. Mereka sudah sepakat untuk naik ke atap pukul sepuluh malam. Walaupun sebenarnya ibu tak begitu rela. Angin malam begitu dingin, lebih-lebih di atas gedung. Namun rayuan dan rajukan Dira berhasil meluluhkan hati ibunya.
Sulit bagi beliau menolak permintaan sang putri. Apa lagi jika Dira pernah berucap bahwa mungkin ini malam tahun barunya yang terakhir. Hati ibu mana yang tidak sedih mendengarnya. Maka dengan segala kekuatan berusaha memberikan segelanya.
Abdi menepati janjinya. Hati-hati dia memapah Dira menaiki anak tangga yang menuju ke atap. Di atas ternyata sudah ramai. Tidak hanya mereka yang memanfaatkan kesempatan menikmati malam di taman atap rumah sakit. Beberapa pasien ada di sana. Dan jangan lupa ada Razaaq yang tertawa senang di sebuah bangku bersama ayah, ibu dan adiknya.
Razaaq nekat bergerak banyak. Ibunya tak bosan-bosan mengingatkan sang anak. Melarangnya bergerak-gerak, bercanda berlebihan dengan adiknya. Anak itu menuruti perintah ibunya. Tapi, mereka ganti meniup terompet bersahut-sahutan dengan nyaringnya.
Dira memandang mereka dengan penuh harap. Terselip rasa iri terpancar di wajahnya. Dia mengajak Abdi untuk menghampiri keluarga kecil itu.
“Kak Dira, kak Dira!” panggil Razaaq “Ini Tian adikku,” seru Razaaq sambil mendorong adiknya agar mau menyalami Dira.
“Hai, Tian,” ujar Dira seraya menyalami tangan kecil itu.
“Hai, kak,” balas Tian.
Dira mengelus rambut Tian. Adik Razaaq yang baru berumur tiga tahun itu tertawa-tawa. Benar-benar lucu dan menghibur.
“Kak Dira, ini pacar kakak ya?” celetuk Razaaq menunjuk Abdi yang berada di samping Dira.
Dira terkejut mendengarnya. Mukanya seketika memerah. Ia tak tahu harus menjawab apa. Dia sampai mendenguskan tawa.
“Razaaq, jangan begitu, Nak,” ibu Razaaq menengahi “Maaf ya, Dira. Anak ini memang suka menyeletuk,” lanjut ibu Razaaq.
Dira memaklumi. Ia lalu dipapah Abdi menuju bangku lain yang kosong. Berpisah dengan keluarga Razaaq yang meriah sekali meniup terompet. Membuat malam yang dingin jadi hangat.
Dua orang sahabat duduk berdampingan. Merapatkan jaket menahan angin malam yang dingin. Hening menyelimuti.
“Kau kenapa, Dira?”
“Aku senang bisa membuat Razaaq dan Tian bahagia. Rasanya hangat dan manis bisa menjadi orang yang mampu membuat orang lain bahagia. Aku senang sekali dapat berguna.”
“Dira?”
“Iya, Ab.” Dira menoleh pada Abdi. “Terompet itu, ibu membelikannya untukku. Razaaq tadi pagi menangis karena belum mempunyai terompet untuk adiknya. Aku memberikan terompetku untuk mereka.”
Abdi mengerti sekarang. Arti dari perkataan Dira. Jadi dia yang telah menerbitkan keceriaan dua kakak beradik itu. Abdi turut bahagia. Karena dengan keceriaan Razaaq, Dira ikut bahagia pula.
“Kau baik sekali, Dira.”
“Hehehe. Ah, bukan begitu.”
“Baiklah. Apa kau mau terompet, Dira?”
Dira sampai melongo mendengar pertanyaan Abdi. Sebuah anggukan dari Abdi menegaskan pertanyaan tersebut. “Kau mau mencarikannya untukku, Ab?”
“Tentu saja!” sahut Abdi sangat yakin.
“Tapi sudah hampir tengah malam. Apa masih ada?”
“Masih ada! Pasti masih ada!”
Dira menatap langsung ke mata Abdi. Mata yang memancarkan suatu semangat dan keyakinan kuat. Sinar mata itu memancarkan sampai ke lubuk hati Dira. Ikut menguatkannya.
“Sudahlah, Ab. Tidak penting kok,” ujar Dira kemudian. Dia tak mau Abdi pergi. Itu yang sebenarnya dirasakan. Meskipun dia juga ingin Abdi memberikan sesuatu yang dapat dikenang.
Abdi menghela nafas. “Begini, kau di sini dengan keluarga Razaaq. Aku pergi dulu membeli terompet,” Abdi memutuskan. Dia bahkan dengan segera membantu Dira pindah ke bangku dekat keluarga Razaaq.
Setelah menitipkan Dira, dia bergegas turun. Berlari menuju tempat sepeda motornya diparkirkan. Melompat ke atas tunggangannya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Abdi memacu kendaraannya menuju salah satu pusat keramaian kota. Orang-orang ramai berpesta bersama. Tapi tak terlihat satu pedagang pun. Para pedagang yang dari pagi berjejer telah beranjak entah kemana.
Abdi segera memutar motor besar kesayangannya menuju pasar tradisional yang tak jauh dari lokasi itu. Untunglah jalanan tak seramai biasanya. Bahkan lengang. Sehingga dari jauh Abdi dapat melihat seorang pedagang terompet tengah memberesi dagangannya. Abdi cepat-cepat menghampiri.
Dia turun dari motornya. “Pak, beli terompetnya satu ya,” ucap Abdi sambil mengeluarkan dompet.
Pedagang itu membalikkan badan. “Waduh, mas! Maaf, ini semua sudah dipesan,” sahut bapak pedagang.
“Satu saja, Pak. Masak sih tidak bisa?” bujuk Abdi.
Bapak itu menggeleng. “Ini semua sudah dibayar, mas,” kata si bapak.
Abdi mendesah kesal. Tak habis pikir dia, siapa yang memborong terompet pada saat-saat terakhir. Tak tersisa barang satu saja. Ah!
Melihat tingkah Abdi, bapak pedagang jadi iba. “Penting banget ya mas? Coba ke jalan protokol saja. Sepertinya pada masih ramai berjualan di sana,” saran beliau.
Abdi kembali bersemangat. Ia sampai menyalami bapak itu. “Terima kasih, Pak! Semoga bapak sukses.” Abdi lalu melompat ke motor kembali.
Dia sampai ke jalan utama kota. Sudah banyak orang-orang di sana. Para penduduk kota yang hendak menyaksikan pesta kembang api. Di antara gerombolan anak muda berjaket merah marun menyembul terompet-terompet yang digantung. Abdi mendatanginya.
“Mas, terompetnya satu,” pinta Abdi.
Mas penjual mengangsurkan sebuah terompet model biasa. “Sepuluh ribu, mas,” katanya.
Abdi mengambil terompet yang sudah dibungkus kantong plastik dan menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan. Selesai bertransaksi, dia langsung memacu motornya kembali ke rumah sakit.
Sayangnya, kurang beberapa ratus meter motor Abdi macet. Dia terpaksa turun menuntun sepeda motornya. Dia melihat sebuah bengkel yang masih buka.
“Wah, ini lama, mas,” ujar bapak bengkel selesai mengecek kerusakan.
“Ya, sudah. Saya tinggal saja, pak,” sahut Abdi putus asa.
“Tenang saja, mas. Percaya sama saya. Saya tidak menipu kok,” kata si bapak jujur.
“Iya, Pak. Saya tinggal dulu ya,” pamit Abdi.
“Ya, hati-hati, Nak,” balas bapak sambil melanjutkan memperbaiki sepeda motor Abdi.
Abdi mengangguk. Kemudian ia melangkah meninggalkan sepeda motornya di bengkel tesebut. Refleks dia mengecek arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Jarum jam menunjukkan pukul dua belas kurang seperempat. Dia menjadi gelagapan.
Sambil menggenggam erat kantong plastik berisi terompet, Abdi berlari kencang. Lari sekencang-kencangnya. Sampai di rumah sakit ia melompat anak tangga dua-dau sekaligus. Memacu langkah kembali ke atap gedung. Namun sesampainya di atap, dia tak menemukan Dira. Seketika dia berbelok arah. Turun ke kamar Dira.
“Dira dimana, Bim?” tanya Abdi pada Bimo, adik Dira, yang duduk di depan kamar.
“Kakak dibawa ke ICU, mas,” jawab Bimo sendu.
Hati Abdi mencelos. Badannya lemas seketika.
Bimo jadi cemas melihat kondisi Abdi. “Mas Abdi nggak apa-apa kan?”
Dengan wajah pucat Abdi menggelengkan kepala.
“Lima menit lagi pergantian tahun, Mas,” celetuk Bimo.
Abdi terkejut. Ia menengok arlojinya. Abdi teringat kalau arlojinya dilebihkan lima menit. Dia masih punya waktu. Dia tidak terlambat. Tanpa babibu, dia menuju ruang ICU. Tapi ditengah jalan ia melihat Dira dibawa kembali ke ruang rawat inapnya. Tampaknya sudah siuman. Abdi merendengi.
“Dira, maaf aku kelamaan,” bisik Abdi.
Dira hanya mengedipkan mata.
Abdi menyibak tirai hijau jendela lebar-lebar. Agar pemandangan kota dapat terlihat. Agar Dira dapat menyaksikan atraksi kembang api membuncah di langit. Kembang api yang tak lama lagi ditembakkan ke udara.
“Dira baik-baik saja kan tante?” tanya Abdi cemas.
“Dira baik kok, nak Abdi. Tadi cuma pingsan,” jawab ibu Dira sedih.
Abdi mendekati Dira. Dia mengeluarkan terompet dari kantung plastik. “Ini terompetmu, Dira,” kata Abdi.
Dira meraih terompet untuknya dari tangan Abdi. Mata Dira berkaca-kaca. Bibirnya mengucapkan terima kasih tanpa suara. Abdi mengulaskan senyum termanisnya.
Deg! Dhuaarr! Der! Der! Dhuaaarrr!
Suara kembang api memecah kesunyian malam. Mereka berpaling ke arah jendela. Lewat jendela tampak pola-pola kembang api memenuhi langit. Tiba-tiba terdengar suara terompet. Dira memandang keluar jendela sambil meniup terompetnya pelan-pelan. Ibu Dira sampai menangis di samping suaminya.
Tangis ibu Dira makin tak terbendung. Ayah Dira mendekap beliau dengan erat. Turut pula Bimo memeluk punggung ibunya. Hanya kakak Dira yang belum hadir.
“Dira, aku sayang kamu,” ucap Abdi tulus.
“Aku juga sayang kamu, Abdi,” bisik Dira.
Dira menggenggam terompet pemberian Abdi. Mereka kembali menikmati spektakulernya kembang api. Air mata Dira perlahan mengalir menuruni pelupuk matanya.
“Diraaa!” pekik Abdi diantara gemuruh kembang api yang semakin meriah. Kedua tangannya mengguncang tubuh Dira.
“Dira! Dira!” rintih ibunya.
Dokter dan perawat datang mengupayakan berbagai hal. Entah alat apa. Suntikan apa. Semua menyerang tubuh Dira.
Ibu Dira memeluk erat Bimo. Bersandar kepada sang suami. Sementara Abdi terduduk lemas di dekat kaki ranjang.
“Dira, kau sudah berhasil memenuhi permintaanmu. Kau sudah memasuki tahun yang baru ini,” batin Abdi.

Tamat

sebuah cerpen yg gagal lomba.
*kalah*

semoga semua suka!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s