Sumur Artesis


fuih~ lelah juga hari ini. maklum saya baru pulang belanja kilat. *hauwah*
haha
skip!
sekarang saya mau membahas mengenai sumur air dalam atau sumur artesis. seperti yang saya singgung pada postingan sebelumnya.
dan saya juga ada pengumuman. saya sudah buat fanfic baru! siap diterbitkan. hihihi. please anticipate it!^^

oke, sebagai awalan. saya mau copas hasil guling-guling saya di gudang abang google.

APA ITU AIR ARTESIS?

Filed under Seputar Permasalahan Air Sumur by admin

Sumur air dalam Vs Sumur Artesis
Banyak orang mengatakan (terutama tukang sumur) kalau mereka menerima pembuatan sumur artesis, sebetulnya apakah semua sumur air dalam di sebut sumur artesis. Nah, dari pada simpang siur ada baiknya kita fokus sejenak untuk membahas ini. Sumur artesis adalah sumur air yang biasanya berada di kedalaman >60 meter, sumur artesis adalah sumur yang bertekanan tinggi karena dia terjebak dalam batuan yang memiliki tekanan, sehingga ketika dilakukan pengeboran, air dapat naik sendiri tanpa harus di pompa, haaaah ! air naik sendiri ?? BETUL naik sendiri tanpa di pompa. Karena tekanannya cukup tinggi untuk menyembur sampai ke permukaan. Tapi Artesis ini di bagi menjadi 3, ada artesis negatif, artesis 0 dan artesis +.
January 21, 2010 at 3:17 pm

sumbernya: http://ahlisumur.com/apa-itu-air-artesis.html

uuu…saudara-saudara jadi sedikit tahu kan?

lalu mengapa saya wanti-wanti soal sumur artesis?
baca berita ini:

Senin, 17 Juli 2006 SEMARANG
Line
Bahaya, Kendalikan Sumur Artesis

SEMARANG- Kekeringan di Semarang saat musim kemarau kali ini diperkirakan makin meningkat, mengingat kondisi lingkungan kian buruk. Luas daerah yang kekeringan dan kekurangan air bersih bisa lebih parah, karena berkurangnya daerah-daerah resapan yang merupakan tandon air.

Pakar hidrologi Unika Soegijapranata, Budi Santosa MT mengatakan, berkurangnya daerah resapan di Kota Semarang, termasuk daerah pinggiran akibat kebijakan pembangunan yang tidak terkendali dan mengabaikan aspek lingkungan.

Karena itu, pembuatan sumur artesis yang makin banyak dilakukan warga ataupun pengelola perumahan, termasuk juga yang ada di daerah pinggiran harus dikendalikan.

Jika tidak, akan membahayakan. Yakni makin berkurangnya tandon air bawah tanah dan mengakibatkan penurunan permukaan tanah.

Budi mengatakan, salah satu penyebab berkurangnya daerah resapan adalah maraknya pembangunan perumahan di daerah atas yang semestinya menjadi lahan hijau atau konservasi. “Kota Semarang banyak kehilangan daerah resapan akibat pembangunan perumahan,” kata dia kepada Suara Merdeka.

Pemerintah Kota dinilai kurang mempertimbangkan izin, sehingga pembangunan perumahan terkesan tidak terkendali. Daerah-daerah atas, terutama yang mempunyai potensi sebagai daerah resapan, tetap dijadikan lahan perumahan.

Pertimbangan bisnis dituding menjadi alasan pemberian izin, sementara aspek pelestarian dan keamanan lingkungan kurang mendapat perhatian. “Maka saat musim hujan, terjadi banjir. Sebab, tanah tidak dapat secara optimal menyerap air. Ini karena permukaan tanah tertutup bangunan,” paparnya.

Seperti diberitakan Suara Merdeka, Rabu (12/7), delapan dari 16 kecamatan di Kota Semarang kini rawan kekeringan. Data yang dirilis Badan Kesbanglinmas Kota, Senin (10/7) menunjukkan kedelapan wilayah rawan kekeringan itu adalah Mijen, Banyumanik, Candisari, Pedurungan, Tugu, Gunungpati, Gajah Mungkur, dan Tembalang.

”Data itu sementara, untuk angka pastinya kami masih menginventarisasi. Mudah-mudahan nanti hasilnya bisa kami paparkan,” kata Kepala Kesbanglinmas, Drs Sujitno.

Kendalikan Artesis

Penanganan kekeringan, kata Budi, seharusnya sudah dipikirkan jauh sebelum musim kemarau tiba. Saat musim hujan harus dipikirkan bagaimana menampung air hujan, sehingga dapat dimanfaatkan ketika musim kemarau.

Untuk jangka pendek, kekeringan yang terjadi dapat diatasi dengan pembuatan sumur artetis.

Kendati demikian, dalam penggunaannya tidak boleh sembarangan. Perlu pengendalian dan pengelolaan yang baik, agar air yang diambil tidak melebihi potensi yang ada.

Jika berlebihan juga akan merugikan masyarakat, karena menimbulkan rongga-rongga pada bagian bawah tanah. Rongga ini, menurut Budi, menyebabkan tanah di atasnya menekan ke bawah jika ada beban di permukaan. “Ini akan menimbulkan penurunan permukaan tanah.”

Untuk jangka panjang, sumur artesis kurang efektif digunakan. Akan lebih menguntungkan bila menampung air pada waduk atau embung.

”Hanya, masalah ini tidak akan selesai sampai di situ. Tanpa adanya pengelolaan yang baik, hasil yang diperoleh juga tidak optimal.Selain itu biayanya juga besar,” ujarnya. (H31-18s)

sumbernya: http://www.suaramerdeka.com/harian/0607/17/kot06.htm

memang sih ini berita lama. tapi apa yang terjadi sekarang? sudah kah ditangani? kita nggak tahu. atau malah makin rame dibuat.
nah lho!
makanya. ayo kawan sadar!
jaga air!
dukung konservasi sumber daya air!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s