[short story] Sesuatu yang Selalu Ada *special for Kibum oppa and Yesung oppa*


hi!
tanggal 21 Agustus adalah hari ulang tahun Kim Ki Bum Super Junior, dan tanggal 24 Agustus adalah hari ulang tahun Kim Jong Woon (Yesung) Super Junior.
SANGEIL CHUKAHAMNIDA URI SARANGHANEUN OPPA-DEUL!
LOVE, PRAY, SUPPORT, AND HAPPINESS ALWAYS FOR YOU!

sebagai wujud rasa cinta saya pada Kibum oppa dan terutama untuk Yesung oppa, saya persembahkan sebuah cerita pendek *beneran pendek*. niatnya mau bikin fanfic, tapi tak bisa, jadinya ya kayak berikut ini.
hehehehe…
happy reading dan mohon doanya untuk kedua oppa dan oppa yang lain *SUPER JUNIOR*
oia, tanggal 22 Agustus ini juga pas dirilis Mr. Simple ver-B.
daebak!!!

Sesuatu yang Selalu Ada

Musim tak lama lagi akan berganti dari panas ke gugur. Angin bertiup kering membawa sedikit dingin dan lebih banyak debu. Seiring putaran angin dari laut ke gunung dan dari gunung ke laut, semua penanda berapa lama waktu dilewati.
Satu tahun, dianggap cepat berlalu dan semua akan baik-baik saja. Dua tahun, rasa itu makin mengendap di dasar hati. Tiga tahun, telah terbentuk monster kecil yang menancapkan tentakel puluhan meternya ke seluruh tubuh. Bercabang-cabang mengiringi pembuluh darah.
Berkat si monster, angin apapun tak sanggup menumbangkan apalagi mencabut sampai akar. Si monster yang selalu mendengkur manis dalam hati. Sebagai pengingat akan hal-hal yang terjadi, telah terjadi dan yang akan terjadi. Ya, si monster berkuasa.

“Mengapa menulis itu?” tanya seorang pria bertopi miring, kaos longgar dan celana kargo. Matanya sipit, kulitnya putih, tapi dia membuat orang yang melihatnya terpikir Seattle. “Memang ada apa?” tanyanya sebelum pertanyaan pertama dijawab.
Plung! Seekor kura-kura mungil meloncat dari karang palsu dalam mangkok kacanya ke kubangan air. Orang yang ditanya pria pertama takjub memandang teman dalam heningnya itu. Matanya mengekor tiap gerak empat kaki berwarna hijau bebercak. “Apa kau mengerti yang kutulis?” dia melempar balik sebuah pertanyaan.
Bahu pria bertopi terangkat. Dia menyibak poni yang beberapa waktu dibiarkan panjang. “Tidak terlalu sih. Kau mau menerangkan padaku, Kak?”
Pria pemilik kura-kura terdiam. Entah apa yang dipikirkannya sampai tersenyum pada kura-kura mungilnya. “Wajahnya kecil dengan jerawat di pipi kanan. Kupikir mau minta tanda tanganku, tapi hanya memberi sebuah amplop.”
Dahi orang yang di hadapannya sukses berkerut mendengarnya berkata demikian. Pikirnya, apa kakak ini kambuh lagi keanehannya. Lama tak jumpa membuatnya tak tahu bagaimana perkembangan orang yang beberapa tahun lebih tua darinya, seperti itu kah?
Wajah si kakak terangkat, menengadah ke hamparan langit gelap yang tak terlihat bintangnya. “Mungkin perasaannya sama denganku. Kehilangan meskipun tahu dimana keberadaannya. Seperti melihat sebotol air di dalam kulkas saat begitu haus tapi tangan tak mau mengotori pegangan kulkas. Hausnya belum juga terobati.” Wajahnya tetap memandang langit. Dia tak tahu bagaimana bingungnya si pria American style. Dia benar-benar mengaduk kepenasaran si adik.
“Kau bisa mengatakannya dalam bahasa yang bisa kumengerti dengan cepat, Kak?” pintanya. Dia takut salah mempersepsikan. “Bukan kakak yang menulis itu semua kan?” tapi dia tahu yang sebenarnya.
Si kakak menggeleng. “Bukan aku. Penulisnya sangat menyukaimu. Perasaan rindunya begitu dalam dan terlalu banyak.”
Belum paham sepenuhnya si adik akan jawaban berikutnya. Dibaca kembali tulisan itu seraya dikaitkan dengan penjelasan si kakak. Dahi berkerut penanda otak yang kerja keras belum kendur juga.
Si kakak tak ambil pusing. Dia asyik bermain dalam diam bersama si kura-kura. Mungkin terjalin komunikasi batin antara keduanya. Komunikasi yang hanya dipahami majikan peliharaan.
“Ah!” seru pria muda membuat pemilik kura-kura melonjak. Dan dengan malas kura-kura menggoyangkan kepalanya. Terhibur kejadian yang terjadi dalam hitungan detik.
“Apa aku sepenting itu, Kak? Aku terlalu memikirkan impianku. Impian menjadi apa yang membahagiakanku. Namun ternyata ada yang tersakiti karenanya. Aku menodai cinta yang sepenuh hati diberikan padaku. Apa masih pantas kudapatkan? Kesetiaan yang senantiasa dialirkan padaku, aku merasa tak pantas.”
“Ya, kamu, aku, kita, punya impian masing-masing. Impian, impian kita tak akan padam dan kita tak akan berhenti untuk mewujudkannya. Dan tak ada yang menodai cinta, begitu pula tak ada cinta yang rusak. Kesetiaan padamu akan selalu ada, dan pantas untukmu,” bantah yang lebih tua. Matanya teduh memandang yang lebih muda. “Tidakkah kau rasakan betapa besarnya cinta untukmu. Dan cinta itu tidak akan luntur meski rindu menjadi amarah,” lanjutnya.
Si pria muda tercenung pada lembaran kertas biru tempat tulisan tertoreh. Hatinya berdenyut layaknya sayatan pada daging yang mulai terasa perih. Tes! Tak ada yang menahannya. Satu, dua, butiran air mata sebening embun berderai dari sudut mata. Masih ada perdebatan dalam batinnya. Pantas atau tak pantas.
“Selalu ada tempat yang disisihkan untukmu, bukan disisakan,” ujar si kakak seraya menepuk pundak si adik. Dia lalu melompat berdiri. Suaranya yang bagai paduan suara para seniman teralum harmonis. Lagu romantis yang senada dengan indahnya malam di pekan akhir Agustus.
Si kakak mengakhiri senandung dengan helaan nafas. Wajahnya terlihat antara ragu dan kecewa. “Tapi wajahnya campuran buldog dan smeagol, tak bertelinga,” gumamnya.
Untung saja si adik yang tenggelam dalam perenungan tak mendengar gumaman si kakak. Bisa-bisa merusak suasana haru yang dirasakan. Atau malah mengira sedang dijahili.
“Apa akan tetap ada, Kak?” tanya si adik mengagetkan.
“Huh?” celetuk si kakak. “Ah…, tenang. Selalu ada pastinya,” jawabnya dengan keyakinan penuh.
Si adik tersenyum tenang. Serta merta dia menyusul berdiri. Tanpa ijin dirangkulnya kakak.
“Ayo patungan beli kue ulang tahun, Kak,” ajak si adik.
Wah, tetapi ajakan si adik tak begitu saja diluluskan. Sepanjang jalan mereka berdebat konyol. Si kakak tak mau patungan dan tak mau membeli sendiri. Si adik tetap nekat ingin membeli secara patungan. Dia kukuh pada alasan ulang tahun mereka hanya terpaut tiga hari, jadi beli patungan saja. Sama kukuhnya dengan si kakak.

Suatu hari, angin akan bertemu gunung. Gunung menitipkan pesan untuk laut pada angin. Angin bergulung-gulung menuruni gunung, melewati lembah dan padang, hingga bertemu kembali dengan laut. Pesan gunung ternyata tercecer dalam perjalanan, tapi laut tak marah. Laut tetap mendapat inti pesan gunung.
Pesan gunung: Laut, saat bulan purnama kau akan naik. Kau akan dekat dengan langit. Ketika waktu itu tiba, maukah kau meletakkan sebutir diriku di antara bintang-bintang? Agar aku dapat bersinar untuk pelaut, pejalan kaki dan penjelajah.
Sementara yang tercecer ke seluruh negeri adalah cinta dan harapan. Tak ada yang merugi karenanya. Monster dalam hati mendengkur untuk terakhir kalinya, lenyap dalam kepulan debu bintang.

Si kakak dan si adik saling memandang. Sebuah surat baru mereka terima begitu keluar dari toko kue. Diulurkan oleh tangan-tangan penuh rindu dan cinta. Dan diterima, juga dibaca, oleh tangan-tangan penuh kasih dan sayang.

-Tamat-

by: wulan murti a.k.a yuelan13


don’t copy without my permission

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s