[cerpen] Kasih yang terlupakan

on

masih dari hasil folder lawas. 😛
kali ini semacam fanfic. atau malah jadi naskah/skrip ya?
hahaha!
soalnya nyerempet atlet.
yah, pokoknya seperti inilah.
insya allah fiksi belaka. *atau imajinasi kacaunya author*
soalnya atlet yang di sini fiksi belaka.
met baca
jangan lupa tinggalkan komen/like ;-D
terima kasih

Kasih yang terlupakan

Pagi itu Mina terlambat. Gara-gara bus yang di tumpanginya penuh sesak.
“Min, kamu dari mana saja? Jam segini baru muncul. Untung masih boleh langsung masuk,”tanya Tara temannya.
“Heh, kayak nggak tahu aku saja. Ya tentu saja aku masih bisa masuk, aku lewat gerbang samping kok. Tapi aku capek,”jawab Mina.
“Makanya bangun lebih pagi lagi,”saran Tara.
“Iya, iya. Aku usahakan,”sahut Mina.
“Kalian berdua! Ayo turun ke lapangan!”seru Pipin, teman sekelas mereka.
Teman-teman mereka sudah berbaris rapi di samping lapangan sepakbola. Begitu mereka masuk barisan, Ibu guru olah raga mulai memberi pengarahn.
“Hari ini kalian akan diambil nilainya. Jadi sekarang ke GOR. Di sana kalian harus lari! Mengerti?”kata Bu Guru.
“Ya Bu,”seru semua murid.
Lalu mereka berderet-deret berjalan menuju GOR yang berada di seberang sekolah mereka (tapi ke timur sedikit).
Hari itu GOR sudah ramai, lebih ramai dari pagi biasanya. Karena siang nanti akan ada pertandingan sepak bola yang bertaraf internasional. Tim nasional lawan tim Australia, tim U21.
“Bersedia! Siap! Yak!” Ibu Guru memberi aba-aba.
Kelompok lari pertama mulai beraksi. Disusul kelompok berikutnya. Yang terakhir kelompok murid putra.
“Habis ini istirahat ya Bu?” rayu Beni, si ketua kelas.
Sebelumnya Beni sudah dipaksa teman-temannya untuk berkata seperti itu.
“Ya. Tapi kalian harus kembali ke sekolah 15 menit sebelum jam pelajaran selanjutnya,” jawab Bu Guru.
“Terima kasih Bu,” sahut Beni.
Teman-temannya tersenyum pada Beni.
“Dasar kaliaqn ini,”gerutu Beni.
“Ada apa Ben?” tanya Rendra.
“Nggak. Kalian itu lho mesti begitu? Aku yang selalu diajukan. Aku lagi, aku lagi,” jawab Beni kesal.
“Ya maaf Ben. Kamu kan ketua kelasnya,” kata Tian.
“Iya. Terus kalau ada apa-apa aku juga yang tanggung jawabkan?” sahut Beni.
“Sudah-sudah. Maafkan kami ya Beni. Masalahnya, hari ini kita beruntung banget. Pelajarannya sudah selesai. Dan sebentar lagi semua pemain yang mau bertanding nanti siang mau dating. Latihan dan pemanasan. Jadi kita bisa nonton mereka dari dekat. Yah walau belum bertanding. Siapa tahu bisa minta tanda tangan atau foto bareng,” terang Farid panjang lebar.
“Masak sih?! Kok aku baru tahu?” seru Beni tak percaya.
“Woi! Ben! Kamu hidup di mana sih? Aku saja tahu kok, masak kamu yang anak putra dan suka sepak bola bisa tidak tahu?” timpal Tara.
Akhirnya Beni tenggelam dalam sorakan teman-temannya.
Saat mereka tenang kembali, sebuah bus warna putih memasuki GOR. Serentak pandangan mereka tertuju pada bus tersebut.
“Mendekat ke stadion sepak bola!” Rendra mengomandoib teman-temannya.
Tanpa diperintah dua kali, mereka bergegas menuju stadion sepak bola. Begitu pula bus tersebut.
Mereka berjejer di samping pintu stadion, di luar pagar pembatas yang di pasang oleh panitia. Di sekitar mereka ada beberapa fans lain yang ikut menyambut kedatangan timnas, beberapa wartawan, dan beberapa orang asing yang tampaknya suporter tim Australia.
Satu persatu pemain timnas menuruni bus dan berjalan masuk ke stadion di ikuti pelatih dan manajer tim. Juga para polisi.
Mereka meneriakan nama-nama pemain timnas yang disambut lambaian tangan si pemilik nama.
Selesai menurunkan semua penumpangnya, bus itu pun bergerak meninggalkan stadion.
“Aku nggak nyangka bisa ketemu langsung kayak gini,” kata Beni.
“Dasar Beni!” sahut Tian.
Lalu datang sebuah bus yang lain. Kali ini berwarna biru gelap. Perhatian mereka terarah pada bus tersebut.
“Tim Aussey ya?” tanya Belladona.
“Yap kali,”sahut Mina.
Dari tadi Mina merasa gugup berdiri di situ. Yah, dia memang berdiri di deretan paling depan. Jantungnya makin berdetak keras sewaktu bus yang membawa para pemain tim Australia itu datang. Keringat dingin mengalir di dahi Mina begitu bus tersebut berhenti. Dan pintu bus itu tepat berada di hadapan Mina. Napasnya tersengal begitu pintu bus terbuka dan penumpangnya mulai turun.
“Eh, ya ini U21 kan?” celetuk Rifky.
“Ya,”sahut Tian.
“Makanya masih seger-seger,”timpal Rendra.
“Mainnya bagus-bagus kok,”imbuh Beni.
Obrolan itu makin membuat jantung Mina berdegup kencang.
“Ehm, ada apa sih?”gerutu Mina dalam hati.
Suporter dari Australia mulai meneriakan nama-nama pemainnya.
Deg! Sebuah nama membuat Mina terpaku. Pandangannya lalu terarah pada sosok yang di tunjuk salah seorang dari suporter itu.
Mina benar-benar terkejut.
“Harry!”
Nama itu terus diteriakan. Si empunya nama pun melambaikan tangannya.
“Harry? Kewell?”celetuk Beni.
“Bukan! Kewell kan sudah tua,”sahut Tara.
“Heh, bukan tua!”koreksi Rendra.
Tara malah tersenyum kuda.
Tak ada yang mnyadari apa yang terjadi pada Mina. Tatapan Mina tertuju pada Harry. Seakan-akan tak percaya, Mina melihat Harry dari puncak kepala sampai ujung kakinya.
“Harry!” pekik Mina pada akhrinya.
Teman-temannya memandang Mina dengan heran.
“Harry!” seru Mina sekali lagi.
Tak sedetikpun Harry menengok pada Mina.
Mina nyaris menitikkan air mata.
“Harry,”katanya lirih.
Tiba-tiba Harry menoleh ke arah Mina. Wajahnya yang semula lentur berhias senyum menjadi kaku terheran-heran.
Pandangannya terfokus pada Mina yang berdiri di antara teman-temannya yang ikut terpaku. Keduanya akhirnya bertatap-tatapan. Tak ada satu kata pun yang terucap.
“Mi…
Begitu akan memanggil Mina seorang petugas menarik Harry menuju stadion.
Mina menghela napas. Air matanya mengalir. Untung saja hanya teman-temannya yang memperhatikan Mina.
“Udahlah Mina. Nanti kita nonton bareng saja pulang sekolah. Hari ini pulang pagi kok,”hibur Beni.
“Wek! Pulang pagi?”seru Tian.
“Kok nggak bilang dari tadi sih?”lanjut Tian.
“Ya enggaklah. Nanti kalian jadi seenaknya,”jawab Beni tegas.
Tian mengangguk-angguk sok bijak.
“Iya, Min, nanti masih bisa nonton Harry,”hibur Vresa.
Mina berusaha mengangguk.
“Yah, nangis lagi,”celetuk Rendra.
“Gini aja teman-teman. Bagaimana kalau nanti siang kita nonton bareng. Jadi sekarang kita booking tiket. Mumpung belum ramai?”usul Pipin.
Semua setuju dengan usulan Pipin. Selanjutnya mereka mengumpulkan uang mereka pada Rifky yang akan mengurusi tiket mereka.
“Sekarang kita kembali ke sekolah dulu,”perintah Beni.
Tapi Mina masih belum menghentikan tangisnya. Setiap kali ada temannya yang bertanya atau menyebut nama Harry, Mina makin bersedih.
Dan dia juga tidak mau memberitahukan apapun pada mereka termasuk Tara, teman terdekatnya.
“Tara, tadi itu benar Harry Anderson?” tanya Mina.
“Iya, benar kok. Ada apa sih?” tanya Tara balik.
Alih-alih menjawab, Mina malah melamun.
Tara menghela napas panjang dan menggelengkan kepala.
“Sst?” panggil Rendra pada Tara.
“Heh, maksudmu apa?”bentak Tara.
“Sst. Jangan teriak. Hehehe, maaf deh. Eh, Mina kenapa sih?” tanya Rendra.
“Tahu? Memangnya kenapa? Kok perhatian banget?” selidik Tara.
“Eh, eh, jangan sembarangan begitu dong. Aku kan hanya bertanya. Lagi pula sebagai temankan aku juga harus perhatian. Jadi ada apa dengan Mina?” tanya Rendra sekali lagi.
“Hehehe, kupikir ada apa. Nggak dia hanya kangen sama Harry Anderson,” jawab Tara.
“Memangnya Mina penggemarnya Harry?” tanya Rendra kurang puas.
“Tanya saja sendiri. Sana tanya,”jawab Tara kesal.
Rendra langsung nyengir.
“Min, ada apa sih?” tanya Rendra.
“Hah, enggak kok. Nggak ada masalah,” jawab Mina.
“Kok nangis?” Rendra belum menyerah.
“Oh, begitu ya? Aku hanya ingat masa laluku dulu. Aku rindu sama Harry,” jawab Mina pada akhirnya.
Tara menjentikkan jarinya dan tersenyum penuh kemenangan.
“Rindu sama Harry? Masa lalu?” ulang Rendra tak percaya.
Mina mengangguk mengiyakan.
“Benarkan Ndra,”celetuk Tara.
Wajah Rendra berubah menjadi masam. Seakan kalah perang Rendra berjalan menuju mejanya dengan bahu turun.
“Kenapa Ndra?”tanya Feri teman sebangkunya.
“Aku sedih Fer.”
“Memangnya ada apa?” selidik Feri iba.
“Masak tadi aku kan tanya sama Mina kenapa dia nangis. Eh dia bilang kalau dia ingat masa lalunya dan dia rindu sama Harry. Gimana coba?”rengek Rendra.
“Halah-halah. Gitu aja sedih. Positif dong. Mungkin saja Mina hanya nge-fans sama Harry. Terus memangnya Mina pernah tinggal di luar negeri?” hibur Feri.
“Benar juga ya? Oh, thank you. You are my man.”
Rendra membusungkan dada kembali.
Saat itu bel pulang berbunyi nyaring disambut sorakan para siswa.
“Teman-teman jangan langsung pulang. Ini mau dibagi dulu tiketnya. Kita satu tribun. Masuknya nanti sama-sama. Duduknya sama-sama. Keluarnya juga sama-sama,” kata Beni.
Selesai membagikan tiket mereka bergegas keluar kelas.
Anak-anak kelas heran melihat mereka terus bergerombol menuju GOR.
“Eh, anak-anak Ilmu Alam 4 mau kemana sih?”tanya siswa kelas lain pada temannya.
“Nonton sepak bola kali,” sahut temannya.
Sedangkan mereka tetap berjalan dengan pedenya menuju stadion.
“Di situ strategis teman-teman!” seru Rifky seraya menunjuk salah satu sisi tribun.
Yang lain mengikuti Rifky lalu duduk berundak-undak.
Pertandingannya sendiri belum di mulai. Para pemainnya masih pemanasan di lapangan. Dan penontonnya juga baru mereka. Yah, karena Paman Rifky salah satu Pengelola stadion jadinya boleh masuk lebih dahulu dari penonton lain.
Mina mengedarkan pandangannya ke pelosok lapangan. Terutama bagian lapangan yang di pakai tim lawan. Lalu pandangannya terpaku pada sesosok yang berdiri menghadap ke arahnya. Tak disangka mata mereka saling beradu pandang. Tanpa disadari, Mina telah bangkit dari duduknya dan Harry, sosok itu tadi, berjalan menuju samping lapangan di bawah tribun tempat Mina teman-temannya duduk.
“Mina!” seru Harry.
“Harry!” balas Mina.
“How are you dear?” tanya Harry.
“Fine. How you? Why you never send any letter to me?” jawab Mina.
“Sorry, I was very busy. Than, I lost your address, sorry. I am very very happy to meet you again, now,” sahut Harry.
“Catch this one!” seru Mina seraya melempar sebuah buku cacatan kecil pada Harry.
“What is it?” tanya Harry seraya membukanya.
“Check it after match. You have to back there. Your Coach is calling you. We will meet agaian. I will watch you there with my friends. See you. I miss you,” kata Mina sebelum kembali ke tempat duduknya. Harry juga bergegas menyusul teman-temannya menuju ruang ganti. Penonton yang lain mulai memasuki stadion.
Sementara itu teman-teman Mina terheran-heran menyaksikan kejadian tadi. Mulut mereka masih ternganga saat Mina kembali duduk di antara mereka.
“Apaan sih tadi?”celetuk Rendra.
Teman-temannya diam saja tak menyahut. Yah sebenarbya Rendra menyukai Mina sejak kelas satu dulu. Tapi dia tak pernah mengungkapkan hal itu pada siapapun termasuk Mina. Takut dicampakan.
Akhirnya pertandingan yang ditunggu-tunggu berlangsung juga. Mina hanya diam saja tak ikut teman-temannya yang terus bersorak untuk timnas. Matanya terus mengekor pada sosok Harry.
“Min, kamu harus ansionalis. Walaupun Harry teman kamu tapi saat ini kamu harus membela timnas bukannya membela dia!” seru Beni.
“Iya Ben. Tenang saja. Aku bela timnas kita kok,”sahut Mina.
Setelah dua kali empat puluh lima menit plus lima menit tambahan, akhirnya wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan dengan kemenangan timnas 2-1 atas tim Australia. Mina ikut bersorak bersama teman-temannya. Sementara di lapangan Harry memperhatikan Mina sambil tersenyum.
“Min, sebenarnya Harry itu siapa? Apa hubungannya denganmu?” tanya Tara sewaktu mereka berjalan keluar stadion.
“Em, dia itu teman masa kecilku dulu. Dulu aku pernah tinggal di Glasgow selama 3 tahun. Dia juga tinggal di sana. Umurnya terpaut satu setengah tahun denganku. Tapi kami begitu akrab. Dulu sebelum berpusah kami saling menukar alamat. Tapi ternyata ia pindah ke Australia tanpa memberitahuku. Ibunya orang Australia. Aku sempat berpikir ia sudah lupa padaku. Jadi tadi aku menangis karena terharu. Dia masih ingat aku.
“Kemudian kuputuskan untuk memberi dia sebuah cacatan. Isinya sih alamat dan nomor teleponku. Semoga saja dia segera memhubungi aku. Karena aku sangat merindukan dirinya.” cerita Mina.
Tara mengangguk-angguk.
“Ceritamu begitu mengharukan. Menyentuh jiwa. Tadi seperti sinetron saja. Aku sempat berpikir kau akan nekat loncat dari tribun,” kata Tara.
“Tara, aku masih bepikir jernih. Mana mungkin aku sampai berbuat seperti itu,”kata Mina.
Tara tertawa.
“Lalu, bagaimana kalau dia tidak meneleponmu?” tanya Tara.
“Entahlah. Setidaknya aku telah melakukan apa yang kurasa perlu untuk kulakukan. Tapi aku sangat berharap banyak padanya.,” jawab Mina.
“Yah, semoga saja dia segera menghubungimu. Aku tahu kok bagaimana rasanya rindu seperti yang kau rasakan sekarang ini. Semangat ya!” kata Tara.
Mina berjalan bolak-balik di kamarnya. Menunggu sesuatu sedari pulang sekolah tadi.
“Min, kamu kenapa sih? Kok mondar-mandir terus dari tadi?” tanya Tino, kakak laki-lakinya.
“Em, lagi nunggu telepon,” jawab Mina singkat.
“Wee, telepon dari siapa nih? Wah jangan-jangan dah punya pacar nih? Tak bilangin ibu lho,” goda Tino.
“Sembarangan kakak ini. Pacar apa sih? Telepon dari temanku. Harry, kakak masih ingat dia tidak ?” kata Mina.
“Maaf, maaf. Harry? Harry potter?” tanya Tino.
“Harry Anderson, yang dulu tetangga kita di Glasgow dulu itu lho. Ingat?”
“Oh, ya, ya. Si H. Memangnya kapan kalian bertemu? Dia ke sini?”
“Tadi aku ketemu sama dia. Tahu nggak dia sekarang jadi orang Australia. Terus dia ikut timnas Australia.”
“Terus dia ikut pertandingan tadi siang? Bagaimana kalian bertemu?”
“Ya kau benar. Saat aku penilaian lari, dia se-tim datang untuk pemanasan. Kami sempat saling melihat. Terus aku dan teman-teman sekelas kan nonton pertandingan tadi, nah sebelum pertandingan kami ngobrol sebentar di pinggir lapangan.”
Mina terus tersenyum senang. Melihat hal itu Tino hanya menggelengkan kepalanya.
“Kau meberinya nomor teleponmu?”
“Ya tentu saja. Aku harap dia masih ingat aku dan segera meneleponku. Aku sangat merindukannya.”
Pandangan Mina jadi menerawangan. Dia mengingat hari-hari yang dulu ia lalui bersama Harry di Glasgow.
“Woi! Jangan melamun dong adikku sayang!” bentak Tino.
“Hehehe, maaf kak.”
Namun telepon genggam milik Mina belum juga berdering. Jadi Mina masih bingung menunggu kabar dari sahabatnya Harry.
“Dia pasti sedang sibuk. Mungkin nanti,” kata Mina menghibur dirinya sendiri.
Mina datang ke sekolah dengan wajah muram. Tara heran melihat perubahan sahabatnya itu.
“Min, kamu tidak sakitkan?” tanya Tara khawatir.
Mina mengangguk.
“Mina, jangan-jangan Harry belum meneleponmu juga ya?” selidik Tara.
“Ehm, tidak. Dia sudah meneleponku. Bahkan kami mengobrol sampai dua jam,” jawab Mina.
“Lalu mengapa kau muram seperti ini?” tanya Tara.
“Karena dia mengundangku ke acara pertunangannya minggu depan. Dia bilang sejak kami sama-sama pindah dia terus berusaha menghubungiku, tapi tak pernah berhasil. Satu tahun yang lalu dia bertemu dengan seorang gadis. Mereka berteman akrab dan akhirnya mereka sepakat untuk hidup bersama,” jawab Mina.
Tara tertegun mendengar jawaban Mina.
“Sebenarnya dia sangat senang bertemu denganku Kembali. Dan seandainya dia tidak bertemu gadis itu, Harry akan melamarku. Tapi kenyataannya berkata lain. Aku sedih,” lanjut Mina.
Tara mengerjapkan matanya mulai berkaca-kaca.
“Sabar ya kawan. Mungkin dia memang cinta pertamamu, tapi walaupun dia tidak memilihmu sebagai pendampingnya kau harus tetap semangat,” hibur Tara.
Mina memeluk Tara dengan erat.
“Lagi pula sebentar lagi kita ujian akhir. Jaga semangatmu. Doakan saja Harry dan tunangannya,” kata Tara.
Mina melepaskan pelukannya dan mengangguk pada Tara.
Dari jauh Rendra menyaksikan dua sahabat itu. Rendra ingin sekali ada di sana ikut menghibur Mina. Namun ia menahan diri untuk melakukan hal tersebut.
“Mungkin bukan Harry, Mina, tapi aku,” gumam Rendra.
Rendra terus menatap lekat-lekat sosok Mina. Orang yang diam-diam ia sukai.
“Ya, suatu hari nanti aku yang akan menggantikan Harry,”bisik Rendra.
Rendra lalu berjalan mendekati Mina dan Tara. Ia menggunakan kata-kata bijaknya untuk menghibur Mina. Dan dari dalam hati, Rendra membisikkan perasaannya pada Mina.
“Mina, aku sayang kamu.”
TAMAT

by: wulan murti a.k.a yuelan13

don’t copy without my permission

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s