[cerpen] Pita Merah di Lengan Kami

on

hai-hai! saya mau posting sebuah cerpen yang sok idealis. hehehe…
terinspirasi dari kegiatan yang saya ikuti semasa SMA dulu.
setting di sebuah spot di SMA saya dulu.
hahaha! tokoh dari rekan-rekan saya.
*moga nggak pada minta honor karakternya saya catut*
okay, met baca!
jangan lupa like atau komen.
terima kasih

Pita Merah di lengan Kami

Orang-orang muda itu duduk di tepi ruang. Duduk melingkar di atas lantai keramik yang dingin dan berdebu. Mereka terdiri dari pemuda dan pemudi yang berumur sekitar 18 sampai 22 tahunan.
Wajah mereka dingin dan kaku. Angin bulan Juli yang masih dingin ikut memahat wajah kaku mereka. Mata mereka fokus di titik tengah lantai yang mereka kelilingi. Kosong, hanya ada titik-titik debu.
“Selanjutnya bagaimana? Haruskah kita menegaskan keberadaan kita?” kata salah seorang di antara mereka memecah keheningan.
“Itu nampaknya tidak baik. Akan mempersulit mereka, juga kita sendiri,” timpal seorang pemuda yang duduk tegap.
Mereka kembali terdiam. Masing-masing memegang selembar kertas putih. Di atas kertas ukuran kuarto itu tercetak berderet-deret kalimat yang dinomori. Kata peraturan tercetak tebal dengan huruf kapital berukuran 14 rata tengah di bawah garis yang membatasi kop.
Berbagai coretan dibubuhkan menindih cetakan tinta itu sebagai tanda bahwa diskusi mereka telah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Bahkan di bagian bawah kertas yang masih kosong dipenuhi tulisan-tulisan baru dengan bolpoin, meralat apa yang telah tercetak di kertas tersebut.
“Kita bahas yang lainnya dahulu saja?”cetus pemuda yang nampak paling tua.
Rekan-rekannya menanggapi dengan anggukan persetujuan.
“Bahas apa lagi? Peraturan yang mereka buat sudah kita revisi. Apa lagi coba?” kata seorang pemudi yang berwajah ambisius tiba-tiba.
Pemudi lain yang duduk di sebelahnya melirik tajam. Pandangannya penuh keraguan, setuju atau tidak setuju.
“Hehm,” pemuda yang berkacamata kotak berdeham.
“Kita kan belum membahas peran, tanggung jawab dan batas kita secara mendetail,” lanjutnya.
Pemudi yang melirik pemudi yang ambisius tadi kembali menekuni notesnya dan menulis dengan cepat dan bersemangat.
“Y, kau tulis semuanya ka?” tanya pemuda yang berkulit putih pada pemudi yang menulis itu.
“Iya, Kak. Tenang saja,” jawab Y lantang.
“Baiklah, kita di sini mewakili rekan lain yang tidak dapat hadir. Tadi kita sudah sepakat bahwa kita di sini berdiri di luar kepengurusan resmi adik-adik. Kita, SERAT, berperan sebagai dewan penasehat dan pengurus lapis ketiga,” kata pemuda yang duduk tegap.
Pemuda yang tampak paling tua mengubah posisi duduknya.
“Lapis ketiga, Kak?” celetuk pemudi berjilbab yang berseragam abu-abu.
“Kau ini, L. kapis kedua kan kita,” sahut pemuda berambut cepak yang juga berseragam abu-abu.
L menggumamkan sesuatu.
“Sudah. Kita lanjutkan saja,” kata pemuda berseragam yang berbadan besar.
Diskusi serius itu dilanjutkan kembali. Namun, seseorang di antara mereka yang tidak terlalu menyukai ketagangan seperti yang tadi terjadi melemparkan kelakar di sela keseriusan yang berlebih. Serius, bukan tegang.
Hampir satu jam mereka duduk di tepi ruang terbuka itu. tepatnya sebuah bangunan tanpa tembok keliling dan daun pintu. Hanya ada dua dinding di kedua sisi belakang. Sisanya empat tiang, di depan dan di samping. Warna bangunan itu senada dengan bangunan-bangunan lain di sisinya. Hijau lembut yang menyejukkan mata. Satu yang istimewa, nama bangunan itu sesuai dengan gaya arsitektur yang dianutnya, Joglo.
Bangunan itu, Joglo, seperti telah menjadi landmark di situ. Bagaimana tidak? Joglo menjadi tujuan utama untuk berkumpul. Tak jarang bangunan yang tak begitu luas itu diramaikan. Bahkan sampai senja menjelang. Sementara di pagi dan siangnya, guru yang mengajar menari memakainya untuk menggemulaikan anak-anak didiknya.
Dan mereka masih terduduk di lantai yang jarang tersentuh sapu itu. Sedikit rasa rindu terbesit di dada mereka. Mereka sudah tidak seperti yang masih berseragam bau-abu. Pakaian mereka bebas, terserah apa yang ingin mereka pakai dan tidak ada yang akan memarahi mereka karena pakaian. Mereka bukan lagi orang yang harus mematuhi peraturan dari birokrasi yang ada di tempat itu. Setidaknya tidak semua peraturan.
Ada pertanyaan yang terpendam di masing-masing jiwa. Pada intinya, pertanyaan itu sama saja. Mengapa mereka masih sudi melangkahkan kaki mereka di tempat itu. Padahal itu bukan kewajiban mereka. Dan di sisi lain hanya mereka dan sekelumit orang saja yang mau melakukan hal itu. Kekuatan apa yang begitu dahsyat hingga mampu menarik mereka untuk setia.
Menjelang sore tiba wajah tegang mereka mulai melentur. Ada satu bahasan yang paling alot. Walaupun sebenarnya tak perlu dibuat genting seperti itu. Namun suasana dari luar ingin merumitkan dengan menghembuskan hawa panas yang tak perlu.
“Sudahlah, tak perlu dibesar-besarkan. Intinya kita di sini ada untuk mengawasi jalannya kegiatan itu. Di salah satu bagian, kita sebagai penegak peraturan. Kita sebagai bel pengingat dan penasehat. Kita akan siap sedia ketika mereka mengangkat bendera putih, jika itu jalan terakhir,” kata pemuda yang duduk tegap penuh penekanan di beberapa kata.
Semua mengangguk penuh persetujuan. Tak ada lagi tanda tanya yang tersirat di wajah mereka. Y memberi titik di akhir kalimat yang ditulisnya.
Mereka duduk sedikit merenggang. Sebagian menggerakkan badannya hingga berbunyi. Sambil merapatkan jaket pemuda berkacamata kotak mencoba mengajak sedikit bercanda. Ia menggoda pemuda lain yang berambut layaknya landaknya. Pemuda lain seperti mengikuti skenario, menimpali sekenanya. Suasana itu membuat angin dingin bulan Juli kalah telak.
Terkadang suasana seperti inilah yang menjawab pertanyaan yang terpendam itu. Kehangatan lain yang didapat dari orang lain yang bukan sedarah. Adanya penerimaan, keterbukaan, keikhlasan, dan kejujuranlah yang melingkupi. Ada yang menyebut hal tersebut dengan persahabatan, persaudaraan. Namun, apapun sebutannya, intisarinya tetap saja sama.
Seorang di antara mereka menjadi teringat percakapan dirinya dengan sahabat lamanya beberapa waktu yang lalu.
“Mengapa kau masih datang ke tempat itu? Malah kau masih saja berurusan seperti itu. Kan sudah tidak ada kaitan apa-apa. Apa kau tidak capek? Kalau aku sih memilih di rumah. Biar saja diurus yang muda-muda.”
Hatinya sedikit tersinggung mendengar kalimat-kalimat itu. namun rasa bangga dan rasa ketidakrelaan melepas sesuatu bergegas menyergapnya. Jantungnya terasa hangat dan nyaman.
“Iya sih, capek juga. Tapi aku belum bisa meninggalkan semua ini begitu saja. Bukan berarti pula aku tidak mempercayai adik-adikku itu. malah adanya aku, dan rekan-rekan lain, di sini hanya ingin melihat mereka berhasil.”
Sahabat itu memandang heran. Lalu ia menghela napas, memaklumi.
Pemudi itu membatin jawaban tambahan yang enggan ia ucapkan pada sahabatnya.
“Semua itu karena cinta kami pada tempat itu. karena sebuah perasaan yang sama-sama kami rasakan. Ada sesuatu yang mengikat hati kami. Lebih lebar dan kuat dari pada seutas benang. Bukan benang merah, seperti yang orang sering bilang, yang menyimpulkan kami. Namun sesuatu yang lebih dari itu.”
Angin bulan Juli yang masih membawa hawa dingin itu masih setia berhembus. Menggelitik tengkuk pemuda-pemudi itu. Mereka menatap lapangan luas di depan mata. Rumputnya tumbuh tak beraturan. Ada dorongan ingin kembali berlari mengelilingi tepian lapangan hijau itu. Mereka memandang selang air yang memancarkan air membasahi lapangan itu. Lebih baik mereka hanya memandangnya, dari pada basah dan kena tanah yang becek.
“Kenapa kalian masih bersedia hadir?” pertanyaan ini pernah diungkapkan oleh seorang pembina kegiatan. Dengan penuh rasa mereka menjawab satu persatu dengan jawab yang berbeda-beda. Namun, maksudnya sama saja.
“Ada ikatan yang tak akan lekang dimakan jaman.”
Sinar kebanggaan memancar dari kedua mata mereka masing-masing. Dada mereka disesaki perasaan bahagia yang tak mudah ditemukan begitu saja. Mereka merasa di tempat itulah sumber kebahagian itu.
Ada yang mengikat mereka begitu eratnya. Tapi ikatan itu tak pernah meninggalkan bekas yang menyakitkan. Justru memberikan tanda yang akan selalu membuat hati tenang. Tak ada rasa terpaksa. Malah hati mereka sendiri yang mendorong mereka.
Ikatan itu lebih dari seutas benang. Lebih dari seutas benang merah. Bukan sekedar benang merah yang sering dipakai orang sebagai istilah. Sesuatu yang lebih.
Sesuatu itu sama dengan pita merah yang melingkar di lengan kanan kami. Pita yang melambangkan bahwa kami SERAT. Kamilah serat. Kami perseorangan adalah serat-serat tipis. Di tempat ini kami dirajut menjadi satu menjadi seutas pita panjang.
Pita yang penuh semangat, merah. Pita yang penuh cinta, merah. Pita yang penuh ketegasan, merah. Pita yang penuh perhatian yang hangat, merah.
Pita itu terikat kencang di lengan setiap pemuda-pemudi itu. Pita itu menanda siapa mereka. Pita itu penyatu mereka.
“Kita sudah tidak mempunyai andil di sini,” kata salah satu pemudi jauh hari lalu.
“Bahkan bisa saja dianggap orang luar,” imbuhnya.
Pemudi lain yang ia ajak bicara memperhatikan dengan heran.
“Namun bantuan kita masih dapat diberikan kapanpun. Toh, adik-adik kita terbuka menerima kita. Tapi tetap saja kita harus menghormati mereka. Kita harus percaya sepenuh hati pada mereka,” lanjutnya mantap.
“Aku percaya pada adik-adik kita,” timpal pemudi itu tanpa ragu.
Dan pita merah itu terikat kencang di lengan kami. Merah menyala ditimpa cahaya matahari. Sisanya yang menjuntai berkibar dihembus angin. Sudah kesepakatan bahwa pita merahlah yang kami pakai sebagai tanda pengenal. Begitu sedarhana. Namun amatlah berharga. Karena semua sepakat.
Pita itu tetap terikat walaupun telah dilepaskan dari lengan kami. Karena sebenarnya dengan atau tanpa pita itu, kami akan tetap setia hadir di tempat ini. Dan jauh di sanubari kami pita merah yang sesungguhnya telah mengikat kami.
“Lalu apa tanda pengenal kita?” tanya pemuda yang kurus.
“Bagaimana kalau pita merah?” usul pemuda yang duduk tegap.
“Keren,” gumam salah seorang diantara mereka.
Dan pita merah itu terikat di lengan kami.

TAMAT

Surakarta, 7 Agustus 2008

by: wulan murti a.k.a yuelan13

don’t copy without my permission

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s