[cerpen] Melankolia Hujan Bunga

on

hehm…setelah merasa blog saya begitu sedikit isinya, saya akhirnya mengubek-ubek folder lama saya.
saya buka kembali sebuah cerpen yang pernah saya ikutkan ke sebuah lomba.
namun entahlah nasibnya.
maka karena itu, saya posting saja di sini.
silakan dibaca dan dikomentari ya?
pleaseeee…!!!

this is it:

Semua masih terpatri di pikiranku. Bukan bayangan, semuanya tampak nyata. Senyata apa yang telah kulihat. Entah ini kenangan baik atau buruk. Yang kutahu aku tak ingin kehilangan kenangan ini walaupun aku membencinya. Aku, hidup dalam kenangan ini.

Aku tertawa sendiri tiap kali teringat pertemuan pertama kami. Dia sedang sibuk mengetik. Aku mendekatinya untuk menanyakan titik wifi mana yang dapat dipakai. Dia mendongak dengan sedikit terkejut. Rambutnya yang panjang berayun serempak. Kuakui aku terpesona seketika. Dia menjawab dengan suara tegas yang terputus-putus. Nada bicaranya yang itu selalu terngiang di telingaku. Ah, aku merindukannya.
“Kak, besok kita wifi-an lagi ya?” ajaknya saat meneleponku.
“Hehm… besok jam berapa? Sepulang kau sekolah?” tanyaku.
“Iya. Aku bosan Kak. Jadi kakak mau kan?”
“Baiklah. Besok bertemu di city walk seperti biasa ya?”
Kami memang sering bertemu semenjak perkenalan kami itu. Dia gadis yang ceria. Dia termasuk orang yang banyak bicara. Gadis yang penuh gagasan. Gagasan-gagasan yang diluar dugaan sering keluar dari mulutnya. Dia bilang telah lama ia memikirkan semua gagasan itu. Dia memang cerdas.
Sering kali apa yang diucapkannya membuatku lebih terbuka. Membuat kegundahan yang menggelanyuti hatiku berkurang. Sekalipun dia lebih muda dariku, dia menjadi dewasa dihadapanku. Umur bukan hal dia ributkan. Dia dewasa bukan karena umur, melainkan karena dia mengingingkannya. Dia harus bersikap lebih dari umurnya.
Aku mengingat dengan jelas semua yang pernah ia katakan padaku. Semua yang ia ceritakan. Tentang teman-temannya yang berpacaran, soal-soal fisika yang membuatnya mengikuti pelajaran tambahan, tentang cita-citanya. Segalanya yang ia miliki nyaris telah ia bagi denganku.
Pertama kali aku tak mengerti mengapa ia melakukannya. Kupikir karena aku sahabatnya. Aku pendengar setianya. Aku memberinya tanggapan yang cukup memuaskan. Lalu aku pun sempat berpikir bahwa dia menyukaiku.
Namun semua dugaanku keliru. Aku memang sahabatnya, pendengar baiknya. Dia mengutarakan maksudnya banyak mencurahkan hidupnya padaku karena dia memilih. Dia memutuskan melakukannya.
“Aku bosan. Sangat bosan. Teman hanya memberi telinga, orang tua hanya memberi perintah, dan aku tak memiliki saudara,” katanya suatu hari.
“Mengapa berpikir seperti itu? Mereka kan memiliki niat yang baik padamu,” tanggapku.
Ia mendesah. Tangannya refleks menggaruk tengkuknya. “Aku tak mengerti. Aku lebih nyaman berbicara dengan kakak. Aku memilih berbicara denganmu.”
Aku tertawa. Wajahnya berubah menjadi kesal. Ia tak terima aku tertawa. Dia memukul lenganku.
“Kakak jahat! Sudah satu tahun kita bersahabatkan? Tak mengertikah kau, Kak?” ketusnya.
“Maaf-maaf,” timpalku.
Dia hanya mencibir padaku. “Orang tua itu sering bingung,” sindirnya.
“Memang siapa yang tua?” tanyaku berpura-pura tak mengerti.
“Tidak sadar? 20 tahun itu tua!”
Dia tertawa puas. Aku hanya menggelengkan kepala.
Memang umur kami terpaut 3 tahun. Dia sering menyindir umurku. Dia bilang aku gagal di masa remajaku. Yah, masa remajaku tak seperti masa remajanya. Waktu remaja kuhabiskan untuk belajar dan mencari uang. Aku bisa melanjutkan kuliah berkat kerja kerasku sendiri. Aku tak terima saat dia mengatakan aku gagal di masa remaja. Bukannya aku telah berhasil? Aku mampu membawa diriku sampai mewujudkan cita-citaku. Dia tetap bersikeras aku gagal sebagai remaja.
“Kau ini sebenarnya cerdas. Tapi mengapa kau bisa berpikir seperti itu? Bagaimana kegagalan yang kau maksud itu?” tanyaku.
Dia menggigit sedotan es jusnya. Tangannya menunjuk langit cerah hari itu. “Kau tidak menjadi dirimu sendiri. Kau menolak menjadi apa yang seharusnya. Dan sekarang kau meneruskan menjadi orang lain. Kau gagal karena kau bersembunyi dibalik topeng. Kau bukan kau yang semestinya,” terangnya. “Ah, tak tahu,” sergahku.
Aku sulit untuk mempercayai perkataannya itu. Aku menghindari kenyataan yang ada. Aku tak suka mengungkitnya. Dia sering membuatku kesal karena hal itu.
***
Menjelang ujian kelulusan SMA dia memintaku untuk mengantarnya ke kampusku. Dia ingin melanjutkan belajar di universitas negeri satu-satunya di kota kami. Dia bilang dia tak mau jauh dariku. Membuatku sedikit berprasangka. Dia memang sering menggodaku.
“Luas juga ya Kak. Kukira tidak seluas ini. Aku bisa tersesat kalau begini,” komentarnya setelah kami berkeliling kampus yang luas itu.
“Dasar! Nanti juga terbiasa,” kataku.
Dia memukul lenganku dengan keras. “Ya!” serunya.
Matanya berkeliling ke arah pepohonan tinggi yang menghijaukan kampus. Pohon angsana, sono, dan pinus yang banyak ditanam. Dia senang dengan hadirnya banyak pohon itu. Mungkin itu salah satu alasannya memilih kampus ini.
Cinta tumbuh karena terbiasa. Mungkin itu perumpamaan yang tepat untukku. Aku perlahan menyadari bahwa aku menyukainya. Aku membutuhkannya. Aku terbiasa bersamanya. Hingga saat aku tak bersamanya aku sakit. Aku demam. Aku membutuhkannya. Haha, buruk sekali. Tapi aku menyukainya.
Sayangnya aku hanya mampu menyimpan penyakit hati itu. Membiarkan hatiku bengkak karena virus itu. Melemah karena sakit. Dia menyukai orang lain. Dan orang itu pun menyukainya.
Aku mengenal orang itu. Orang itu bahkan salah satu temanku. Aku benar-benar sakit karenanya. Melihat kebahagian mereka. Aku iri. Bukankah seharusnya aku. Aku yang lebih lama mengenalnya. Aku yang pertama mengenalnya. Bukankah seharusnya aku? Bukan orang itu.
Namun mau bagaimana lagi. Aku hanya sahabatnya. Pertama menjadi teman, seterusnya sahabat. Setidaknya dia masih di sisiku. Dia masih membutuhkanku. Kepada siapa lagi dia dapat mengungkapkan gagasan-gagasannya. Tentu bukan orang itu. Orang itu tak akan mengerti. Karena akulah orang pertama mengerti jalan pikirannya, selamanya hanya aku. Aku.
Aku sedih saat aku kehilangan dia sebagai orang yang kucintai. Sangat menyedihkan. Aku merana beberapa hari setelah mengetahui mereka berpacaran. Aku ingin mengingkari kenyataan itu. Berupaya keras mengatakan bahwa itu hanya khayalan belaka. Berpura-pura ikut bahagia. Semakin jelas bahwa aku memang bukan diriku. Mungkinkah dia merasakannya? Seperti saat dia menilaiku dulu. Mungkinkah?
“Kau kenapa datang ke sini?” tanyaku padanya saat aku masih bersedih.
Dia mengerucutkan bibirnya. Kepalanya tertunduk. Tangannya memainkan ujung jaketnya. “kau sakit ya? Temanmu bilang kau seminggu tidak masuk kuliah,” tanyanya.
“Huh? Sejak kapan kau bertanya tanpa memandangku?” sahutku.
Aku menutup bukuku. Memandangnya dengan mata lebar.
“Kau kenapa? Apa ada masalah?” tanyanya kembali.
Dia belum memandangku. Apa dia telah merasakan perubahan pada diriku? Mungkinkah?
“Aku sehat. Kau bisa lihat sendiri. Aku tak ada masalah,” katakku datar.
Dia mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca. Dia meraih kedua tanganku. “Kau marah padaku ya? Mengapa?”
Aku menggeleng. Aku menarik tanganku. Lalu aku mencoba tersenyum padanya. “Aku tidak marah. Bagaimana bisa kau berpikir aku marah. Aku hanya, emm… aku hanya sedang memikirkan tugas akhirku. Kau tahu kan?”
“Begitu ya? Apa yang bisa kubantu?”
“Tidak ada. Aku sudah dapat mengatasinya sendiri. Kau kuliah saja yang rajin.”
Dia menghela nafas. Aku tahu dia tak percaya padaku.
“Kau pasti dibuat stress karena tugas akhirmu. Sebentar lagi kau jadi sarjana. Baiklah jika aku tak dapat membantu.”
“Kau berdoa saja untukku.”
Dia melangkah pergi. Dia meninggalkan aku. Dia tak kembali. Tak pernah kembali. Dan luka di hatiku makin menjadi. Bahkan tak sembuh. Hatiku habis tergerogoti virus. Matilah jiwaku.
Aku benar-benar kehilangan dirinya. Selamanya. Dia pergi terlalu jauh. Dia bahkan tak mengucapkan salam perpisahan. Aku tak dapat memilikinya lagi. Dia terbang tinggi. Jauh dari jangkauanku. Tak akan kembali sekalipun aku menangis darah memintanya kembali. Tak ada yang dapat dilakukannya. Semuanya telah terjadi.
Aku datang ke rumah yang dia katakan tak terang. Dan saat itu memang suram. Semua memakai warna gelap. Semua muram. Tak ada tawa, bahkan senyum pun tidak. Aku berjalan lurus ke tengah ruang. Tempatnya menungguku. Dia berbaring. Ada seulas senyum samar di wajah pucatnya. Wajahnya begitu dingin saat ku sentuh. Aku menoleh, orang itu ada di sana. Memandangku dengan mata membulat. Ada nyala amarah yang tersirat. Aku memalingkan muka.
Aku mengantarnya pergi. Aku masih di sana menemaninya saat orang-orang meninggalkannya. Bahkan orang itu juga meninggalkannya sendirian. Aku memandang batu yang terpahat namanya. Kubaca tanggal yang terukir. Aku sadar dia masih muda. Begitu muda.
Aku menangis untuk kesekian kalinya. Kusentuh batu persegi yang sedingin es itu. Aku meratapinya. Bersama hujan yang perlahan turun. Air mata bercampur air hujan. Jatuh membasahi tempatnya berbaring.
***
Dia paling menyukai pohon angsana di antara banyak pohon yang ditanam di kampus. Dia menyukai bunga-bunga kuning pohon angsana. Dia terpesona tiap kali langit kampus dihiasi angsana-angsana yang berbunga. Semua kuning. Cerah dan ceria, katanya. Hatinya akan bahagia sekalipun dia bersedih sebelumnya. Dia menunggu-tunggu saat bunga-bunga itu berguguran. Hujan bunga.
Seperti musim semi di negeri seberang. Kelopak-kelopak bunga beterbangan. Jatuh di atas apa saja di bawahnya. Di paving, di kanopi, di selokan, di atas mobil, di rambut orang yang lewat. Jatuh di wajahnya yang menengadah. Dia menjelma menjadi anak kecil. Berlari tanpa peduli orang di sekitarnya. Berlari ke tempat di mana bunga itu berguguran.
“Duduk sini Kak,” panggilnya saat kami keluar dari perpustakaan.
Aku mendekatinya. Kami duduk di tangga batu sempit yang menghubungkan jalan ke perpustakaan ke jalan utama. Di tangga itu pun penuh guguran bunga. Guguran angsana dan bougenvile. Kuning dan fusia.
“Kak, bagaimana jika saat hujan turun bunga kuning juga berguguran? Pasti sangat indah ya?” tanyanya dengan mata bersinar.
“Ini kan belum musim hujan. Tapi mungkin tahun depan saat musim hujan, saat bunganya bermekaran, kau dapat melihat hujan bunga kuning sekaligus hujan air,” jawabku.
Ia memejamkan mata. Wajahnya mendongak ke atas, ke pohon yang menguning itu. Sebuah senyum terulas di bibirnya. “Semoga aku dapat merasakan hujan air sekaligus hujan bunga kuning,” do’anya lirih.
Aku menarik nafas dengan berat. Seperti ada yang menggelanyuti paru-paruku. Ada yang menyumbat trakeaku. Mataku pun berat. Pandanganku buram. Kepalaku yang pening dihujami butir-butir air. Mendadak kenangan yang lain muncul. Seperti film yang diputar cepat. Namun suaranya jelas.
Kami berdiri di depan jendela kaca yang besar itu. Ia memandang ke arah jalan raya di bawah. Aku memandang punggungnya.
“Kak,” panggilnya pelan.
“Ya,” sahutku.
Ia memutar badan. Ia menangis. “Kakak, apa yang kau sembunyikan dariku?” tanyanya.
Aku terhenyak. “Tidak ada,” jawabku. Dia menggeleng. Tentu dia tahu aku berbohong.
“Katakan Kak! Katakan padaku!” serunya.
“Apa? Aku tak menyembunyikan apapun darimu!” bentakku.
Ia menyeka air matanya. “Kau bohong.”
Aku melangkah maju. Ia malah mundur. “Aku memang menyembunyikan sesuatu darimu. Lalu?” ujarku.
“Apa itu?” desaknya.
Aku makin mendekatinya. “Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu,” ungkapku.
Ia membelalakan matanya. Air matanya mengalir deras. Lalu aku melihat kaca di belakangnya pecah. Dia terbaring di bawah sana. Bersimbah darah. Saat aku turun, kulihat matanya menatap tajam ke arahku.
Perih selalu kurasakan saat hujan menghukumku. Butir-butir air itu meruntukiku. Tajam dan dingin. Tak memikirkan rasa yang timbul pada diriku. Terus meruntuki tubuhku. Aku jatuh bersimpuh. Angin besar yang mengalahkanku. Di hadapanku sebuah pohon menjulang. Aku mendongak ke atas. Kuning dan hijau. Sehelai demi sehelai kelopak kuning gugur di atas wajahku. Bunga kuning gugur bersama air. Aku menangis. Aku tak menginginkan ini. Aku mau merasakan ini. Ini harapannya. Ia telah pergi. Meninggalkanku. Aku tak dapat lagi melihatnya. Aku tak dapat lagi menyentuhnya. Aku tak pernah memilikinya. Dia hilang. Dan aku tak ingin mengingat apapun tentangnya. Aku benci. Aku benci diriku. Dia mati di hadapanku. Dia mati karena aku. Karena aku yang membunuhnya.

-TAMAT

by wulan murti a.k.a yuelan13

please don’t copy without my permission
thanks

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s