[cerpen] Hati Mira (akhirnya saya post)


woa……………
sepinya.
hati ini juga lagi kesal.
well, maka saya putuskan untuk terbitkan cerpen gaje saya.
dibuat tahun lalu.
aneh dah.

this is it…

Hati Mira

“Diii!” panggil Mira pada sahabatnya, Dia. Sang pemilik nama menoleh. Wajahnya menyiratkan pertanyaan. Ia memandang Mira yang berdiri di selasar kelas. “Ada apa?” tanya Dia dingin.
“Aku mau ke rumahmu nanti sore, bolehkan?” jawab Mira. Dia mengerutkan dahi. Mira mengangguk meyakinkan. “Untuk apa? Bukannya tadi kau bilang kau sedang tak enak badan,” kata Dia.
Mira menggelengkan kepalanya.
“Yah, terserah kau saja,” timpal Dia.
Mira duduk di halte bus di depan sekolahnya. Sudah cukup lama ia duduk di sana. Bus yang semestinya ia naiki datang silih berganti. Baru menjelang pukul empat ia menaiki sebuah bus. Namun bukan bus yang ke arah rumahnya.
“Mira,” sapa seorang laki-laki sebayanya.
Mira mendongak pada laki-laki yang duduk di seberangnya. “Elang! Hai,” ujar Mira yang juga terkejut.
“Kau hendak ke mana?” tanya Elang.
“Huh? Aku, aku mau ke rumah Dia. Kau sendiri?” jawab Mira.
“Oh, begitu. Kebetulan aku juga mau ke sana. Tapi kenapa kau masih berseragam?”
Mira merapatkan jaket yang dipakainya. Ia menggeleng. “Aku tadi masih ada urusan di sekolah.”
Elang mengedikkan bahu. Mira menunduk, memandang sepatunya. Ketika sampai di tujuan, Elang menepuk pelan lengan Mira. Ia mengajak Mira turun.
Mira dan Elang berada di satu sekolah. Mereka terpaut satu angkatan. Namun karena Dia ikut ekstrakulikuler yang sama dengan Elang, membuat Mira dekat dengan Elang. Dua orang itu berjalan berdampingan menuju rumah berpagar rendah warna biru mutiara. Mira agak menjauh dari Elang. Karena Mira tahu bahwa Dia menyukai Elang.
Akhir-akhir ini Mira makin gundah. Sejak ia tahu Dia dan Elang ternyata sangat akrab. Bahkan bisa dibilang saling suka. Mira begitu menjaga sikap pada Dia dan Elang.
“Elang, Mira, kok bisa datang bersama?” heran Dia yang menyambut kedatangan keduanya.
“Iya, tadi kami satu bus. Benarkan Mira?” sahut Elang. Mira menjawab dengan anggukan. Ia tak nyaman berada di antara dua orang ini.
Dia mengajak Mira dan Elang duduk di beranda rumahnya yang asri. Elang mengobrol banyak dengan Dia. Seakan melupakan Mira yang diam menatap kolam teratai di depan beranda.
“Mira! Mira!” seru Dia.
Mira mengerjapkan matanya. Ia terkejut. “Ada apa Mira? Kau melamun?” tanya Dia.
“Ah, tidak. Oh, ya, aku mau meminjam buku catatan matematikamu, Dia. Besok ku kembalikan,” jawab Mira.
Dia mengerutkan dahi. Namun ia segera masuk untuk mengambil bukunya. “Kenapa tidak bilang dari kemarin? Tadikan bisa kubawakan ke sekolah,” ujar Dia seraya menyerahkan bukunya. Mira menerima buku catatan tersebut. Ia lalu memasukkannya ke ranselnya.
“Maaf, aku baru ingat tadi sepulang sekolah,” sesal Mira.
“Tidak apa. Aku hanya kasihan melihatmu jauh-jauh ke sini. Apa kau belum pulang?” timpal Dia.
Elang memperhatikan dua sahabat tersebut.
“Eng… belum. Baiklah, aku pamit dulu ya,” kata Mira. Mira bangkit dari kursi. Dia ikut berdiri.
“Nanti saja kuantar kau pulang,” cegah Dia.
“Tidak perlu, Dia. Aku tak mau merepotimu. Aku pulang dulu ya,” tolak Mira.
Mira mengangguk pada Dia dan Elang. Ia berjalan cepat-cepat meninggalkan rumah Dia. Di tengah perjalanan air matanya perlahan turun.
Setelah kejadian itu Mira makin menjaga jarak dengan Dia dan Elang. Perasaannya tak karuan tiap melihat Dia maupun Elang. Namun sebaliknya, Dia dan Elang menjadi sepasang kekasih.
“Apa yang terjadi padaku?” batin Mira. Mira meletakkan kepalanya di atas meja. Teman-teman sekelasnya tengah sibuk mengerjakan soal latihan. Tak ada yang menghiraukan Mira tengah bersedih itu.

“Mira! Mira! Mira!” seru seseorang. Mira mengerjapkan mata. Ia tersadar dari lamunannya. Ia menoleh pada orang yang duduk di sampingnya.
“Bara, maaf aku malah melamun,” ujar Mira.
Orang yang bernama Bara itu tersenyum. “Tak apa. Memang kau tadi melamunkan apa? Matamu menatap tajam bunga teratai itu,” kata Bara.
Mira menarik nafas. Ia kembali memandang teratai yang tengah mekar. Bara ikut memandang bunga tersebut. “Teratai itu bunga yang menakjubkan. Aku suka teratai,” kata Mira.
“Benarkah itu?” sahut Bara. Mira mengangguk. Ia lalu mengalihkan perhatian pada kertas kuisoner yang tergeletak di depannya. Kuisoner itu berasal dari Bara. Bara adalah kakak tingkatnya di fakultas seni rupa.
“Senang ya sudah hampir selesai kuliah,” kata Mira.
“Ah, kau ini. Nanti kau juga segera menyusul. Kau yang serius di semester tiga ini. Begitu juga semester selanjutnya,” nasehat Bara. Mira mengangguk. Ia menekuni kuisoner itu. Bara sendiri menyibukkan diri dengan laptopnya.
Maaf telah tak jujur, Bara. Hanya saja aku tak ingin membicarakan masalahku. Terlebih mengenai masa laluku itu. Aku tak ingin hubungan kita menjadi masalah. Aku tak mau berbagi duka. Maaf, Kak.
“Mira, hari minggu depan kau sibuk tidak?” tanya Bara.
Mira mengangkat wajah. Ia berpikir sejenak. Bara memandangnya penuh harap. “Ehm… sepertinya tidak,” jawab Mira.
“Kalau begitu, mau kah kau…
“Ah, ini, aku sudah selesai mengisi kuisonernya,” ujar Mira memutus perkataan Bara.
Bara menghela nafas. Ia menerima kertas yang diangsurkan Mira padanya. Ia memandang Mira yang memberesi barangnya.
“Aku harus cepat pulang. Kakak bilang saja kalau perlu bantuan lain. Sampai jumpa,” pamit Mira. Bara hanya melambai. Ia menatap nanar kepergian Mira. Mira yang meninggalkannya sendiri di kafe yang ramai itu.
“Ada apa sih dengan gadis itu? Tiap kali hendak kuajak pergi selalu menghindar. Padahal jika berkaitan dengan kuliah ia mau,” gumam Bara.

Mira bersandar ke kepala tempat tidurnya. Matanya menerawang jendela di hadapannya. Kenapa selalu seperti ini? Apa aku trauma? Apa hatiku terlalu sakit? Aku tahu Bara menyukaiku. Aku dapat merasakannya dari perhatian yang ia beri padaku. Namun semua itu mengingatkanku pada Elang dan Dia. Walaupun sudah dua tahun tak melihat mereka bersama, hatiku tetap ngilu. Mereka dan aku telah terpisah ratusan kilometer. Tapi tetap saja hatiku resah.
Teratai, bunga yang kuberikan pada mereka sebelum perpisahan sekolah. Masing-masing pada Elang dan pada Dia saat kami lulus. Entah mengapa aku memberikannya? Mungkin karena aku begitu menyukai bunga teratai. Aku memberi benda yang kusukai pada orang yang kusayangi.
Hatiku mungkin tak siap untuk membuka diri. Hatiku terlalu khawatir. Hatiku waspada, berprasangka pada apa yang akan terjadi. Jika aku terus seperti ini, apa aku akan menyakiti hati orang lain? Aku takut itu terjadi. Namun aku lebih takut jika aku hancur kembali seperti dulu.
“Drrt-drrt-drrt,” bunyi getaran ponsel di atas nakas. Layar ponsel yang menyala menampakkan nama Dia. Mira tertegun melihatnya. Ia ragu untuk menjawab panggilan itu. Mira perlahan mendekatkan ponsel ke telinganya. Tiba-tiba ponsel itu berhenti bergetar. Tangan Mira lunglai memegang benda itu.
“Drrt-drrt-drrt,” ponsel Mira kembali bergetar. Nama Dia kembali tertera di layar.
“Hallo,” ucap Mira.
“Mira, apa kabar? Ini Dia, masih ingatkan?” balas suara dari seberang.
Mira menelan ludah. “Masih. Apa kabar? Lama ya tak berjumpa,” kata Mira susah payah.
“Iya. Kau pasti sibuk sekali. Kalau aku sih sedikit santai.”
Dia tertawa kecil. Mira mencoba tertawa. Namun malah suara aneh yang keluar.
“Mira, bagaimana kalau kita bertemu? Kau bisa?”
Mira tertegun. Pikirannya mulai melayang-layang. “Kapan?” tanya Mira.
“Hari minggu depan. Kita bertemu di kedai kopi yang dulu,” jawab Dia.
“Baiklah. Kita bertemu di sana.”
“Iya. Sampai jumpa, Mira.” Sambungan telepon itu terputus. Ponsel Mira meluncur ke atas tempat tidur. Mira merebahkan diri. Matanya memandang lampu gantung di atasnya.
Setelah sekian lama. Dia ingin menemuiku. Dia masih mengingatku rupanya. Namun ada apa sekarang? Sekedar rindu atau ada yang terjadi?
Mira melangkah tanpa semangat di selasar kampus. Pandangannya tak fokus pada apapun. Ia berhenti di depan ruang studio gambar. “Sudah terlambat rupanya,” gumam Mira. Mira beranjak ke kursi yang berjajar di sepanjang selasar. Ia duduk di salah satu kursi. Dengan berat ia menarik nafas.
“Mira,” sapa Bara.
Mira mendongak. Tampak senyuman di wajah tampan Bara. Mira membalas tersenyum. “Aku terlambat masuk studio,” kata Mira.
“Tak biasanya kau terlambat. Ada apa?” komentar Bara.
Mira tertawa datar. “Sekali-kali bolehkan terlambat,” kata Mira.
Bara kembali tersenyum. Mira mengerucutkan bibirnya. Ia mengeluarkan buku catatannya. Bara bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan Mira. Mira memandangnya dengan tatapan penyesalan.
Maafkan aku. Maaf, hanya maaf yang bisa kuucapkan.

Hari Minggu tiba begitu cepat bagi Mira. Ia tampak enggan bangun pagi itu. Bahkan matahari yang menyelinap melalui celah jendela tak berhasil membangunkannya. “Drrt-drrt-drrt,” bunyi getaran ponsel Mira. Mira menggapai-gapai ponselnya. Tanpa melihat nama yang tertera di layar Mira langsung menerima telepon itu. “Siapa?” gumam Mira.
“Ini Dia. Mira, kau tidak lupakan dengan janji kita?” sahut si penelepon.
Mata Mira terbuka lebar. Ia duduk tegak. Ia menarik nafas panjang. “Ah, tidak lupa kok. Jangan khawatir,” kata Mira.
“Iya. Sampai jumpa,” tutup Dia.
Mira menurunkan ponselnya dari telinga. Bahunya turun. Kepalanya terkulai ke samping kanan.

Mira menyereput capuccino yang dipesannya. Sudah lima belas menit ia duduk di kedai kopi itu. Ia sengaja datang jauh lebih awal. Hatinya terlalu gundah.
“Mira, sudah lama? Maaf aku baru datang,” sapa gadis cantik berambut panjang.
Mira terkejut. Ia memandang takjub pada sahabat lamanya itu. “Ah, tidak kok. Duduklah,” balas Mira. Dia duduk dihadapan Mira. Mereka saling berpandangan sejenak. Lalu Dia memulai pembicaraan.
“Kau tetap manis, Mira. Sudah punya pacar?” kata Dia.
Alis Mira terangkat. Namun ia tersenyum samar. “Aku memang masih seperti dulu. Masih Mira yang kau kenal.”
“Aku senang mendengarnya. Sekarang aku sudah tidak seperti dulu.”
Mira memperhatikan penampilan Dia. Di mata Mira semuanya telah berubah. Penampilan Dia yang dulunya tomboi sekarang begitu feminim. Sikap dan nada bicaranya pun berubah.
“Jika itu lebih baik, tak perlu khawatir. Emm… jadi ada kabar apa, Dia?”
Dia menunduk. Mira merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
“Aku ingin menyampaikan bahwa aku akan segera menikah dengan Elang.”
Mira terbelalak. Pikirannya seketika kosong. Senyum yang sedari tadi ia pertahankan luluh sudah. “Kabar baik. Cepat ya?” tanggap Mira tanpa emosi.
“Mira, aku… aku sudah hamil.”
Dia menatap Mira. Mira terkejut kembali. Ia kecewa dan marah mendengarnya. “Kau, kau, harusnya belum,” ujar Mira dengan nada menghibur.
Dia memainkan gelas kopinya. Ia tampak ketakutan. Ada keraguan di air mukanya.
“Sudahlah, Dia. Kau bisa memulai dari awal. Bersemangatlah kawan!” hibur Mira.
Dia menggelengkan kepalanya. Matanya telah memerah. Ia mengeluarkan sebuah kotak kardus.
“Ini untukmu. Seharusnya dari dulu kuberikan padamu. Maafkan aku,” kata Dia.
Mira menerima kotak warna coklat tersebut. Ia membukanya dengan penuh tanya. Di dalam kotak terdapat beberapa amplop surat. “Siapa?” tanya Mira.
“Elang. Semua itu dari Elang,” jawab Dia lirih.
Mira terhenyak. Hatinya sakit. Luka lama kini terbuka kembali. “Semoga kalian bahagia,” ucap Mira.
Mira bangkit dan menarik tasnya. Dengan sembarangan ia memasukkan kotak tadi ke dalam tas. Ia memandang sejenak wajah pucat Dia. “Aku akan menerima undangannya kan? Alamatku masih sama,” ujar Mira. Mira lalu meninggalkan Dia. Ia menarik nafas dengan berat. Dadanya terasa sesak. Kepalanya berat.

Hujan turun begitu derasnya. Hujan pertama setelah kemarau yang panjang. Mira tersudut di halte. Ia memeluk gulungan besar kertas gambarnya yang terbungkus plastik. Ia memandang hujan yang tak kunjung reda. Tiba-tiba sebuah mobil warna hitam menepi ke halte. Mira tertarik melihatnya. Seseorang keluar dari mobil dengan payung biru. Ia menuju tempat Mira berdiri.
“Bara?” celetuk Mira.
“Ayo ikut aku saja! Nanti tugasmu rusak,” ujar Bara.
Orang-orang di halte memperhatikan keduanya. Memandang Bara yang menarik tangan Mira. Bara memayungi dirinya dan Mira sampai ke mobil.
“Aku merepotkanmu,” keluh Mira.
Bara hanya menggeram. Ia tampak fokus pada setir mobilnya. Wajahnya cemas. Mira merasa tak enak. Ia menunduk.
“Maaf, Mira. Aku hanya khawatir padamu,” kata Bara.
Mira memandang boneka kecil di dashboard. “Iya,” gumam Mira. Mira menjulurkan tangannya pada boneka itu. Boneka itu terbuat dari bulu-bulu yang lembut. Sebuah boneka figur dari film. “Bunny,” kata Mira.
“Kau mengenalnya?” heran Bara. Mira mengangguk.
“Film pertama yang kutonton dengan …”
Mira terdiam. Ia termangu pada boneka putih itu. Bara ikut terdiam.
“Siapa?” tanya Bara.
“Huh? Teman, temanku. Ah, bukan. Bukan siapa-siapa,” jawab Mira.
“Aku menontonnya sendiri. Aku nyaris menangis. Hehehe.”
“Aku menangis diam-diam. Tapi dia tahu dan memberiku sapu tangannya.”
“Aku suka saat bagian akhir yang menyedihkan itu. Juga yang memberi bunga itu.”
“Iya. Penuh emosi. Bunga?”
Mira terdiam. Matanya menerawang ke depan. Bara meliriknya. “Memberi orang yang kau kusukai dengan bunga. Tapi orang itu meninggalkanmu sekalipun telah menerimanya. Terlalu berharap,” kata Mira.
“Kenapa?” tanya Bara.
Mira menarik nafas. Ia menyandarkan punggungnya ke jok. Wajahnya memandang ke samping. “Aku patah hati lagi. Menyedihkan ya? Orang yang sama membuatku sakit hati untuk sekian kalinya.”
“Lalu?”
“Dan temanku ternyata mengkhianatiku. Menyembunyikan kenyataan dariku. Merebutnya dariku. Menyakitiku, juga dirinya.”
“Lupakan mereka.”
“Aku bersusah payah melakukannya. Namun kenangan itu merantai hatiku. Sakit, seperti saat mencabut pisau yang terhujam di dada.”
“Tak pernahkan kau menyadariku, Mira? Pandanglah aku! Aku akan membantu untuk pulih.”
“Itu yang selalu ingin kulakukan! Tapi bayangan mereka mengekangku! Aku benci kelemahanku ini!”
Suara Mira penuh emosi. Air matanya telah tumpah. Bara pun ikut emosi. Ia membanting laju mobil ke tepi jalan. Membuat Mira tersentak. “Kau mau mati?” marah Mira.
“Tidak!” bentak Bara. Mira terbelalak. Air matanya makin deras. Nafasnya tersengal-sengal.
“Mira, maafkan aku,” kata Bara cemas.
“Dia hamil! Elang dan Dia akan segera menikah! Dan aku belum dapat mengobati hatiku! Apa yang seharusnya kulakukan? Matipun tak apa,” ungkap Mira penuh amarah.
Bara menatap mata Mira yang berair. Mira masih sesenggukan di kursinya. Bara mendekat diri pada Mira. Dengan hangat ia mendekap Mira.
“Terimalah aku,” pinta Bara.
“Aku tak tahu,” timpal Mira.
“Aku akan tetap menunggumu. Aku akan selalu ada untukmu. Sekalipun kau tidak menginginkanku, aku ada.”
Mira terus menangis. Ia tak tahu harus berkata apa. Namun ia membiarkan dirinya dalam pelukan Bara.

-TAMAT-

Oleh: Wulan Murti a.k.a yuelan13

please don’t copy without my permission
thanks

Iklan

4 Comments Add yours

    1. wu berkata:

      terima kasih.
      cerpen jaman2 masih SMA tuh.
      hihihi

  1. Mamah.. berkata:

    Darlaaa,,
    aku mau nangis baca’nya…
    T_T

    1. wu berkata:

      Woaaa
      Cup cup mamah
      Mengena ya mah? Makasih. ({}) :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s