[cerpen] Terompet AKhir Tahun

Terompet Akhir Tahun

Ruang itu bercat putih bersih. Aromanya bersih dan sedikit bau obat. Ada tiga ranjang berjejer. Sebuah ranjang ditempati oleh seorang gadis berumur sekitar delapan belas tahun. Dia terbaring lemah dengan wajah pucat yang diceriakan. Di kursi dekat ranjangnya, duduk seorang laki-laki yang tampaknya tak jauh lebih tua darinya.
Ada percakapan diantara keduanya. Sebuah percakapan normal didengar dari temanya. Namun tidak bagi si laki-laki yang bernama Abdi itu. Jauh di dalam hatinya ada gejolak yang menyesakkan dada. Sama seperti orang terkasih yang kini terbaring lemah, Dira, mereka tersenyum palsu. Senyum yang dipaksakan.
“Besok sudah tanggal 31 Desember, Ab,” kata Dira lirih. Dia memandang sendu Abdi yang setia menemaninya.
“Malam tahun baru ya?” Tanya Abdi seperti orang melamun.
Dira mengangguk. “Aku ingin nonton kembang api,” harap Dira.
“Kita bisa naik ke atas pas tengah malam,” usul Abdi. Dia lalu tersenyum meyakinkan. Mereka bisa melihat kembang api yang biasa diledakkan tiap tahun baru. Beberapa titik keramaian kota akan mewujudkannya. Dari atap gedung rumah sakit mereka pasti bisa menikmatinya.
Dira ikut tersenyum. Pelan ia menarik selimutnya. Hawa dingin Desember menyusup lewat jendela. Abdi yang tanggap membantunya membenahi letak selimut. Juga menutup lebih rapat jendela dekat ranjang orang terkasihnya.
Pandangan Dira berkeliling menyapu ruang. Sudah seminggu ia menempati ruang rawat inap rumah sakit. Abdi, sahabat terdekatnya, dengan setia rutin menemaninya bergantian dengan orang tua Dira. Mata Dira terhenti pada sosok Abdi.
“Kau istirahat saja, Ab,” ujar Dira.
“Kau tidurlah dulu, sudah larut malam,” sahut Abdi.
“Baiklah, tapi kau juga istirahat ya?” kata Dira. Abdi mengangguk. Menatap Dira yang memejamkan mata. Mulai terlelap tidur.

Pagi-pagi ibu datang. Beliau tak datang dengan tangan kosong. Ada dua terompet kerucut ukuran sedang. Berwarna kuning perak meriah dengan merah. Ada rumbai-rumbai.
“Tadi ibu mampir sebentar beli terompet untukmu,” beritahu ibu.
Semburat merah muncul di pipi Dira. Membuatnya terlihat cerah dan segar. “Ah, ibu. Nanti aku bikin gaduh,” keluh Dira malu-malu.
Ibu mendekati dengan sebuah elusan cinta. “Ya nanti ditiupnya pelan-pelan, Nak. Jangan keras-keras,” hibur beliau.
Dira tertawa kecil. “Oh, ya, bu. Abdi sudah berangkat kuliah ya?” Tanya Dira yang sejak membuka mata tak mendapati keberadaan Abdi.
Ibu mengangguk sebagai jawaban. Ibu tahu bagaimana perasaan putrinya itu terhadap Abdi teman dekatnya.
“Kalau begitu sehabis mandi temani Dira jalan-jalan ke taman ya, Bu?” pinta putri tertuanya.
Beliau kembali mengangguk. Diiringi senyum dan mata yang berkaca-kaca. Ibu sangat menyayangi putrinya. Anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara. Kakak dan adik Dira laki-laki semua. Pantaslah jika Dira dekat dengan ibu dan banyak dilimpahi kasih sayang.
Selesai pemeriksaan dokter, Dira mengelilingi taman rumah sakit di atas kursi roda di dorong ibunya. Tak hanya mereka di taman hijau nan indah itu. Ada pasien dan penjaga mereka turut menikmati indahnya taman dalam area rumah sakit. Termasuk seorang pasien anak-anak yang satu kamar dengan Dira. Razaaq namanya.
Anak taman kanak-kanak yang mengalami kecelakaan jatuh dari pohon. Kaki kecilnya digips. Dia bermain dengan ibunya di dekat pohon akasia. Tapi tiba-tiba saja dia menangis. Kejadian itu menarik perhatian Dira.
“Kenapa itu bu si Razaaq?” heran Dira.
“Kita cek ke sana saja yuk, Nak,” ajak ibu seraya mengarahkan kursi Dira.
Dira dan ibunya telah sampai pada Razaaq yang menangis makin keras. “Ada apa, Razaaq? Kok nangis?” tanya Dira. Dira hati-hati mengulurkan tangan, mengelus lengan Razaaq.
Razaaq menengadahkan kepala. Air matanya membasahi wajah. Sambil sesenggukan ia menjawab, “Kak Dira, Razaaq sedih,” dengan lugunya.
“Sedih kenapa, Razaaq? Coba ceritakan pada kakak,” bujuk Dira.
Razaaq mencoba berhenti menangis. Matanya bulat memandang Dira. “Razaaq kan sudah janji beli terompet buat adik. Adik datang hari ini sama ayah. Tapi ibu bilang tak bisa beli terompet buat kami,” cerita Razaaq susah payah.
Ibu Razaaq tersenyum datar mendengar penuturan anaknya. Beliau hanya mampu merengkuh buah hati erat-erat. Hal itu membuat hati Dira mencelos.
“Razaaq berhenti nangis ya? Kakak kan punya dua terompet, satu buat Razaaq satu buat adik Razaaq. Bagaimana, Razaaq mau kan?” kata Dira.
Razaaq berbinar-binar mendengar perkataan Dira. Bibir mungilnya membuka dan menutup tanpa kata-kata.
“Iya, Razaaq. Nanti tante taruh di meja Razaaq ya terompetnya,” imbuh ibu Dira.
Razaaq membuka mulut penuh kesukacitaan. Ibunya menuntun untuk mengucapkan terima kasih. Dia sangat bahagia dapat memenuhi janji untuk adiknya.
Dira melanjutkan mengelilingi taman bersama sang ibu. Pikirannya sibuk mencerna sesuatu. Melamun dalam sampai ibunya mengajak bicara.
“Kau ikhlas kan, Nak?”
Dira tertawa malu. “Iya lah, Bu. Dira jadi malu. Sudah besar masih ingin dibelikan terompet,” ujar Dira.
“Bagus deh anak ibu yang ini,” puji ibu. Ibu membelokkan kursi roda dan Dira kembali ke ruang rawat. “Nanti Abdi datang lagi ya, Nak?” tanya ibu.
Dira tersenyum lebar. “Iya, Bu. Dia bilang mau datang temani Dira. Tidak mau ikut pesta dengan teman-teman seperti biasanya. Ganti suasana katanya,” ungkap Dira.
“Jadi kau punya teman nanti malam,” Ibu mengedip pada Dira. Membuat Dira tersipu malu. “Apa sih ibu ini?” elak Dira.
“Siang, tante, Dira,” sapa Abdi, subjek pembicaraan ibu dan anak, datang menyapa. Dia masih menggendong ranselnya. Tersenyum lebar walaupun lelah.
“Ini dia orangnya,” goda ibu. Dira melempar pandangan merajuk.
“Ada apa tante?” tanya Abdi penasaran.
“Ah, tidak apa-apa kok, nak Abdi,” jawab ibu sok misterius.
Ketiga berjalan beriringan menuju kamar inap Dira. Ibu membantunya naik ke ranjang. Kemudian beliau keluar untuk membeli resep yang sudah diberikan oleh seorang perawat. Sekaligus memberi waktu Abdi untuk berdua dengan Dira. Juga untuk menaruh dua terompet ke meja samping ranjang Razaaq.
“Semoga nanti malam cerah ya, Dira,” ujar Abdi memulai pembicaraan.
“Iya, semoga,” timpal Dira.
“Hu’um. Biar aku bisa membawamu ke atap gedung,” beritahu Abdi senang.
Dira jadi agak ragu. “Memangnya boleh? Lagi pula kan malam-malam,” tanya Dira.
“Boleh kok. Aku sudah bilang petugas rumah sakit. Asal hati-hati,” terang Abdi. “Kan atap rumah sakit sudah di desain bagus. Kata petugas khusus malam ini pasien mendapat ijin ke atap.”
Dira menerawang langit-langit ruang. Ia membayangkan menghitung bintang satu-persatu bersama Abdi hingga tahun berganti. Melihat keindahan langit dengan buncahan meriah kembang api.
“Dira, jangan melamun dong!”
“Ah, iya, Abdi.”
Abdi tersenyum melihat mimik Dira yang kebingungan. Senyum yang sangat disukai Dira. Senyuman termanis dan terhangat yang pernah dia dapatkan. Senyuman Abdi yang selalu berhasil menenangkan hati Dira. Senyum itu pula yang membuat Dira jatuh hati pada Abdi. Namun dia tak pernah mengungkapkan perasaannya itu. Seperti halnya Abdi yang tetap saja mengkamlufasekan perasaannya pada Dira.
“Kalian sudah jadian ya?” tanya salah seorang teman, Mili, beberapa waktu dulu. Dira hanya menggelengkan kepalanya sekuat tenaga. Dira menjadi tersipu malu tiap kali tuduhan seperti itu dilayangkan padanya. Perasaan sukanya tersembunyi jauh di dalam hatinya.
Abdi menemani Dira sepanjang hari. Sejenak menggantikan ibu Dira yang tampak lelah lahir batin. Mereka sudah sepakat untuk naik ke atap pukul sepuluh malam. Walaupun sebenarnya ibu tak begitu rela. Angin malam begitu dingin, lebih-lebih di atas gedung. Namun rayuan dan rajukan Dira berhasil meluluhkan hati ibunya.
Sulit bagi beliau menolak permintaan sang putri. Apa lagi jika Dira pernah berucap bahwa mungkin ini malam tahun barunya yang terakhir. Hati ibu mana yang tidak sedih mendengarnya. Maka dengan segala kekuatan berusaha memberikan segelanya.
Abdi menepati janjinya. Hati-hati dia memapah Dira menaiki anak tangga yang menuju ke atap. Di atas ternyata sudah ramai. Tidak hanya mereka yang memanfaatkan kesempatan menikmati malam di taman atap rumah sakit. Beberapa pasien ada di sana. Dan jangan lupa ada Razaaq yang tertawa senang di sebuah bangku bersama ayah, ibu dan adiknya.
Razaaq nekat bergerak banyak. Ibunya tak bosan-bosan mengingatkan sang anak. Melarangnya bergerak-gerak, bercanda berlebihan dengan adiknya. Anak itu menuruti perintah ibunya. Tapi, mereka ganti meniup terompet bersahut-sahutan dengan nyaringnya.
Dira memandang mereka dengan penuh harap. Terselip rasa iri terpancar di wajahnya. Dia mengajak Abdi untuk menghampiri keluarga kecil itu.
“Kak Dira, kak Dira!” panggil Razaaq “Ini Tian adikku,” seru Razaaq sambil mendorong adiknya agar mau menyalami Dira.
“Hai, Tian,” ujar Dira seraya menyalami tangan kecil itu.
“Hai, kak,” balas Tian.
Dira mengelus rambut Tian. Adik Razaaq yang baru berumur tiga tahun itu tertawa-tawa. Benar-benar lucu dan menghibur.
“Kak Dira, ini pacar kakak ya?” celetuk Razaaq menunjuk Abdi yang berada di samping Dira.
Dira terkejut mendengarnya. Mukanya seketika memerah. Ia tak tahu harus menjawab apa. Dia sampai mendenguskan tawa.
“Razaaq, jangan begitu, Nak,” ibu Razaaq menengahi “Maaf ya, Dira. Anak ini memang suka menyeletuk,” lanjut ibu Razaaq.
Dira memaklumi. Ia lalu dipapah Abdi menuju bangku lain yang kosong. Berpisah dengan keluarga Razaaq yang meriah sekali meniup terompet. Membuat malam yang dingin jadi hangat.
Dua orang sahabat duduk berdampingan. Merapatkan jaket menahan angin malam yang dingin. Hening menyelimuti.
“Kau kenapa, Dira?”
“Aku senang bisa membuat Razaaq dan Tian bahagia. Rasanya hangat dan manis bisa menjadi orang yang mampu membuat orang lain bahagia. Aku senang sekali dapat berguna.”
“Dira?”
“Iya, Ab.” Dira menoleh pada Abdi. “Terompet itu, ibu membelikannya untukku. Razaaq tadi pagi menangis karena belum mempunyai terompet untuk adiknya. Aku memberikan terompetku untuk mereka.”
Abdi mengerti sekarang. Arti dari perkataan Dira. Jadi dia yang telah menerbitkan keceriaan dua kakak beradik itu. Abdi turut bahagia. Karena dengan keceriaan Razaaq, Dira ikut bahagia pula.
“Kau baik sekali, Dira.”
“Hehehe. Ah, bukan begitu.”
“Baiklah. Apa kau mau terompet, Dira?”
Dira sampai melongo mendengar pertanyaan Abdi. Sebuah anggukan dari Abdi menegaskan pertanyaan tersebut. “Kau mau mencarikannya untukku, Ab?”
“Tentu saja!” sahut Abdi sangat yakin.
“Tapi sudah hampir tengah malam. Apa masih ada?”
“Masih ada! Pasti masih ada!”
Dira menatap langsung ke mata Abdi. Mata yang memancarkan suatu semangat dan keyakinan kuat. Sinar mata itu memancarkan sampai ke lubuk hati Dira. Ikut menguatkannya.
“Sudahlah, Ab. Tidak penting kok,” ujar Dira kemudian. Dia tak mau Abdi pergi. Itu yang sebenarnya dirasakan. Meskipun dia juga ingin Abdi memberikan sesuatu yang dapat dikenang.
Abdi menghela nafas. “Begini, kau di sini dengan keluarga Razaaq. Aku pergi dulu membeli terompet,” Abdi memutuskan. Dia bahkan dengan segera membantu Dira pindah ke bangku dekat keluarga Razaaq.
Setelah menitipkan Dira, dia bergegas turun. Berlari menuju tempat sepeda motornya diparkirkan. Melompat ke atas tunggangannya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Abdi memacu kendaraannya menuju salah satu pusat keramaian kota. Orang-orang ramai berpesta bersama. Tapi tak terlihat satu pedagang pun. Para pedagang yang dari pagi berjejer telah beranjak entah kemana.
Abdi segera memutar motor besar kesayangannya menuju pasar tradisional yang tak jauh dari lokasi itu. Untunglah jalanan tak seramai biasanya. Bahkan lengang. Sehingga dari jauh Abdi dapat melihat seorang pedagang terompet tengah memberesi dagangannya. Abdi cepat-cepat menghampiri.
Dia turun dari motornya. “Pak, beli terompetnya satu ya,” ucap Abdi sambil mengeluarkan dompet.
Pedagang itu membalikkan badan. “Waduh, mas! Maaf, ini semua sudah dipesan,” sahut bapak pedagang.
“Satu saja, Pak. Masak sih tidak bisa?” bujuk Abdi.
Bapak itu menggeleng. “Ini semua sudah dibayar, mas,” kata si bapak.
Abdi mendesah kesal. Tak habis pikir dia, siapa yang memborong terompet pada saat-saat terakhir. Tak tersisa barang satu saja. Ah!
Melihat tingkah Abdi, bapak pedagang jadi iba. “Penting banget ya mas? Coba ke jalan protokol saja. Sepertinya pada masih ramai berjualan di sana,” saran beliau.
Abdi kembali bersemangat. Ia sampai menyalami bapak itu. “Terima kasih, Pak! Semoga bapak sukses.” Abdi lalu melompat ke motor kembali.
Dia sampai ke jalan utama kota. Sudah banyak orang-orang di sana. Para penduduk kota yang hendak menyaksikan pesta kembang api. Di antara gerombolan anak muda berjaket merah marun menyembul terompet-terompet yang digantung. Abdi mendatanginya.
“Mas, terompetnya satu,” pinta Abdi.
Mas penjual mengangsurkan sebuah terompet model biasa. “Sepuluh ribu, mas,” katanya.
Abdi mengambil terompet yang sudah dibungkus kantong plastik dan menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan. Selesai bertransaksi, dia langsung memacu motornya kembali ke rumah sakit.
Sayangnya, kurang beberapa ratus meter motor Abdi macet. Dia terpaksa turun menuntun sepeda motornya. Dia melihat sebuah bengkel yang masih buka.
“Wah, ini lama, mas,” ujar bapak bengkel selesai mengecek kerusakan.
“Ya, sudah. Saya tinggal saja, pak,” sahut Abdi putus asa.
“Tenang saja, mas. Percaya sama saya. Saya tidak menipu kok,” kata si bapak jujur.
“Iya, Pak. Saya tinggal dulu ya,” pamit Abdi.
“Ya, hati-hati, Nak,” balas bapak sambil melanjutkan memperbaiki sepeda motor Abdi.
Abdi mengangguk. Kemudian ia melangkah meninggalkan sepeda motornya di bengkel tesebut. Refleks dia mengecek arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Jarum jam menunjukkan pukul dua belas kurang seperempat. Dia menjadi gelagapan.
Sambil menggenggam erat kantong plastik berisi terompet, Abdi berlari kencang. Lari sekencang-kencangnya. Sampai di rumah sakit ia melompat anak tangga dua-dau sekaligus. Memacu langkah kembali ke atap gedung. Namun sesampainya di atap, dia tak menemukan Dira. Seketika dia berbelok arah. Turun ke kamar Dira.
“Dira dimana, Bim?” tanya Abdi pada Bimo, adik Dira, yang duduk di depan kamar.
“Kakak dibawa ke ICU, mas,” jawab Bimo sendu.
Hati Abdi mencelos. Badannya lemas seketika.
Bimo jadi cemas melihat kondisi Abdi. “Mas Abdi nggak apa-apa kan?”
Dengan wajah pucat Abdi menggelengkan kepala.
“Lima menit lagi pergantian tahun, Mas,” celetuk Bimo.
Abdi terkejut. Ia menengok arlojinya. Abdi teringat kalau arlojinya dilebihkan lima menit. Dia masih punya waktu. Dia tidak terlambat. Tanpa babibu, dia menuju ruang ICU. Tapi ditengah jalan ia melihat Dira dibawa kembali ke ruang rawat inapnya. Tampaknya sudah siuman. Abdi merendengi.
“Dira, maaf aku kelamaan,” bisik Abdi.
Dira hanya mengedipkan mata.
Abdi menyibak tirai hijau jendela lebar-lebar. Agar pemandangan kota dapat terlihat. Agar Dira dapat menyaksikan atraksi kembang api membuncah di langit. Kembang api yang tak lama lagi ditembakkan ke udara.
“Dira baik-baik saja kan tante?” tanya Abdi cemas.
“Dira baik kok, nak Abdi. Tadi cuma pingsan,” jawab ibu Dira sedih.
Abdi mendekati Dira. Dia mengeluarkan terompet dari kantung plastik. “Ini terompetmu, Dira,” kata Abdi.
Dira meraih terompet untuknya dari tangan Abdi. Mata Dira berkaca-kaca. Bibirnya mengucapkan terima kasih tanpa suara. Abdi mengulaskan senyum termanisnya.
Deg! Dhuaarr! Der! Der! Dhuaaarrr!
Suara kembang api memecah kesunyian malam. Mereka berpaling ke arah jendela. Lewat jendela tampak pola-pola kembang api memenuhi langit. Tiba-tiba terdengar suara terompet. Dira memandang keluar jendela sambil meniup terompetnya pelan-pelan. Ibu Dira sampai menangis di samping suaminya.
Tangis ibu Dira makin tak terbendung. Ayah Dira mendekap beliau dengan erat. Turut pula Bimo memeluk punggung ibunya. Hanya kakak Dira yang belum hadir.
“Dira, aku sayang kamu,” ucap Abdi tulus.
“Aku juga sayang kamu, Abdi,” bisik Dira.
Dira menggenggam terompet pemberian Abdi. Mereka kembali menikmati spektakulernya kembang api. Air mata Dira perlahan mengalir menuruni pelupuk matanya.
“Diraaa!” pekik Abdi diantara gemuruh kembang api yang semakin meriah. Kedua tangannya mengguncang tubuh Dira.
“Dira! Dira!” rintih ibunya.
Dokter dan perawat datang mengupayakan berbagai hal. Entah alat apa. Suntikan apa. Semua menyerang tubuh Dira.
Ibu Dira memeluk erat Bimo. Bersandar kepada sang suami. Sementara Abdi terduduk lemas di dekat kaki ranjang.
“Dira, kau sudah berhasil memenuhi permintaanmu. Kau sudah memasuki tahun yang baru ini,” batin Abdi.

Tamat

sebuah cerpen yg gagal lomba.
*kalah*

semoga semua suka!

Published in: on Februari 28, 2012 at 4:40 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , ,

[short story] Sesuatu yang Selalu Ada *special for Kibum oppa and Yesung oppa*

hi!
tanggal 21 Agustus adalah hari ulang tahun Kim Ki Bum Super Junior, dan tanggal 24 Agustus adalah hari ulang tahun Kim Jong Woon (Yesung) Super Junior.
SANGEIL CHUKAHAMNIDA URI SARANGHANEUN OPPA-DEUL!
LOVE, PRAY, SUPPORT, AND HAPPINESS ALWAYS FOR YOU!

sebagai wujud rasa cinta saya pada Kibum oppa dan terutama untuk Yesung oppa, saya persembahkan sebuah cerita pendek *beneran pendek*. niatnya mau bikin fanfic, tapi tak bisa, jadinya ya kayak berikut ini.
hehehehe…
happy reading dan mohon doanya untuk kedua oppa dan oppa yang lain *SUPER JUNIOR*
oia, tanggal 22 Agustus ini juga pas dirilis Mr. Simple ver-B.
daebak!!!

Sesuatu yang Selalu Ada

Musim tak lama lagi akan berganti dari panas ke gugur. Angin bertiup kering membawa sedikit dingin dan lebih banyak debu. Seiring putaran angin dari laut ke gunung dan dari gunung ke laut, semua penanda berapa lama waktu dilewati.
Satu tahun, dianggap cepat berlalu dan semua akan baik-baik saja. Dua tahun, rasa itu makin mengendap di dasar hati. Tiga tahun, telah terbentuk monster kecil yang menancapkan tentakel puluhan meternya ke seluruh tubuh. Bercabang-cabang mengiringi pembuluh darah.
Berkat si monster, angin apapun tak sanggup menumbangkan apalagi mencabut sampai akar. Si monster yang selalu mendengkur manis dalam hati. Sebagai pengingat akan hal-hal yang terjadi, telah terjadi dan yang akan terjadi. Ya, si monster berkuasa.

“Mengapa menulis itu?” tanya seorang pria bertopi miring, kaos longgar dan celana kargo. Matanya sipit, kulitnya putih, tapi dia membuat orang yang melihatnya terpikir Seattle. “Memang ada apa?” tanyanya sebelum pertanyaan pertama dijawab.
Plung! Seekor kura-kura mungil meloncat dari karang palsu dalam mangkok kacanya ke kubangan air. Orang yang ditanya pria pertama takjub memandang teman dalam heningnya itu. Matanya mengekor tiap gerak empat kaki berwarna hijau bebercak. “Apa kau mengerti yang kutulis?” dia melempar balik sebuah pertanyaan.
Bahu pria bertopi terangkat. Dia menyibak poni yang beberapa waktu dibiarkan panjang. “Tidak terlalu sih. Kau mau menerangkan padaku, Kak?”
Pria pemilik kura-kura terdiam. Entah apa yang dipikirkannya sampai tersenyum pada kura-kura mungilnya. “Wajahnya kecil dengan jerawat di pipi kanan. Kupikir mau minta tanda tanganku, tapi hanya memberi sebuah amplop.”
Dahi orang yang di hadapannya sukses berkerut mendengarnya berkata demikian. Pikirnya, apa kakak ini kambuh lagi keanehannya. Lama tak jumpa membuatnya tak tahu bagaimana perkembangan orang yang beberapa tahun lebih tua darinya, seperti itu kah?
Wajah si kakak terangkat, menengadah ke hamparan langit gelap yang tak terlihat bintangnya. “Mungkin perasaannya sama denganku. Kehilangan meskipun tahu dimana keberadaannya. Seperti melihat sebotol air di dalam kulkas saat begitu haus tapi tangan tak mau mengotori pegangan kulkas. Hausnya belum juga terobati.” Wajahnya tetap memandang langit. Dia tak tahu bagaimana bingungnya si pria American style. Dia benar-benar mengaduk kepenasaran si adik.
“Kau bisa mengatakannya dalam bahasa yang bisa kumengerti dengan cepat, Kak?” pintanya. Dia takut salah mempersepsikan. “Bukan kakak yang menulis itu semua kan?” tapi dia tahu yang sebenarnya.
Si kakak menggeleng. “Bukan aku. Penulisnya sangat menyukaimu. Perasaan rindunya begitu dalam dan terlalu banyak.”
Belum paham sepenuhnya si adik akan jawaban berikutnya. Dibaca kembali tulisan itu seraya dikaitkan dengan penjelasan si kakak. Dahi berkerut penanda otak yang kerja keras belum kendur juga.
Si kakak tak ambil pusing. Dia asyik bermain dalam diam bersama si kura-kura. Mungkin terjalin komunikasi batin antara keduanya. Komunikasi yang hanya dipahami majikan peliharaan.
“Ah!” seru pria muda membuat pemilik kura-kura melonjak. Dan dengan malas kura-kura menggoyangkan kepalanya. Terhibur kejadian yang terjadi dalam hitungan detik.
“Apa aku sepenting itu, Kak? Aku terlalu memikirkan impianku. Impian menjadi apa yang membahagiakanku. Namun ternyata ada yang tersakiti karenanya. Aku menodai cinta yang sepenuh hati diberikan padaku. Apa masih pantas kudapatkan? Kesetiaan yang senantiasa dialirkan padaku, aku merasa tak pantas.”
“Ya, kamu, aku, kita, punya impian masing-masing. Impian, impian kita tak akan padam dan kita tak akan berhenti untuk mewujudkannya. Dan tak ada yang menodai cinta, begitu pula tak ada cinta yang rusak. Kesetiaan padamu akan selalu ada, dan pantas untukmu,” bantah yang lebih tua. Matanya teduh memandang yang lebih muda. “Tidakkah kau rasakan betapa besarnya cinta untukmu. Dan cinta itu tidak akan luntur meski rindu menjadi amarah,” lanjutnya.
Si pria muda tercenung pada lembaran kertas biru tempat tulisan tertoreh. Hatinya berdenyut layaknya sayatan pada daging yang mulai terasa perih. Tes! Tak ada yang menahannya. Satu, dua, butiran air mata sebening embun berderai dari sudut mata. Masih ada perdebatan dalam batinnya. Pantas atau tak pantas.
“Selalu ada tempat yang disisihkan untukmu, bukan disisakan,” ujar si kakak seraya menepuk pundak si adik. Dia lalu melompat berdiri. Suaranya yang bagai paduan suara para seniman teralum harmonis. Lagu romantis yang senada dengan indahnya malam di pekan akhir Agustus.
Si kakak mengakhiri senandung dengan helaan nafas. Wajahnya terlihat antara ragu dan kecewa. “Tapi wajahnya campuran buldog dan smeagol, tak bertelinga,” gumamnya.
Untung saja si adik yang tenggelam dalam perenungan tak mendengar gumaman si kakak. Bisa-bisa merusak suasana haru yang dirasakan. Atau malah mengira sedang dijahili.
“Apa akan tetap ada, Kak?” tanya si adik mengagetkan.
“Huh?” celetuk si kakak. “Ah…, tenang. Selalu ada pastinya,” jawabnya dengan keyakinan penuh.
Si adik tersenyum tenang. Serta merta dia menyusul berdiri. Tanpa ijin dirangkulnya kakak.
“Ayo patungan beli kue ulang tahun, Kak,” ajak si adik.
Wah, tetapi ajakan si adik tak begitu saja diluluskan. Sepanjang jalan mereka berdebat konyol. Si kakak tak mau patungan dan tak mau membeli sendiri. Si adik tetap nekat ingin membeli secara patungan. Dia kukuh pada alasan ulang tahun mereka hanya terpaut tiga hari, jadi beli patungan saja. Sama kukuhnya dengan si kakak.

Suatu hari, angin akan bertemu gunung. Gunung menitipkan pesan untuk laut pada angin. Angin bergulung-gulung menuruni gunung, melewati lembah dan padang, hingga bertemu kembali dengan laut. Pesan gunung ternyata tercecer dalam perjalanan, tapi laut tak marah. Laut tetap mendapat inti pesan gunung.
Pesan gunung: Laut, saat bulan purnama kau akan naik. Kau akan dekat dengan langit. Ketika waktu itu tiba, maukah kau meletakkan sebutir diriku di antara bintang-bintang? Agar aku dapat bersinar untuk pelaut, pejalan kaki dan penjelajah.
Sementara yang tercecer ke seluruh negeri adalah cinta dan harapan. Tak ada yang merugi karenanya. Monster dalam hati mendengkur untuk terakhir kalinya, lenyap dalam kepulan debu bintang.

Si kakak dan si adik saling memandang. Sebuah surat baru mereka terima begitu keluar dari toko kue. Diulurkan oleh tangan-tangan penuh rindu dan cinta. Dan diterima, juga dibaca, oleh tangan-tangan penuh kasih dan sayang.

-Tamat-

by: wulan murti a.k.a yuelan13


don’t copy without my permission

Published in: on Agustus 22, 2011 at 7:55 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

[cerpen] Kasih yang terlupakan

masih dari hasil folder lawas. :P
kali ini semacam fanfic. atau malah jadi naskah/skrip ya?
hahaha!
soalnya nyerempet atlet.
yah, pokoknya seperti inilah.
insya allah fiksi belaka. *atau imajinasi kacaunya author*
soalnya atlet yang di sini fiksi belaka.
met baca
jangan lupa tinggalkan komen/like ;-D
terima kasih

Kasih yang terlupakan

Pagi itu Mina terlambat. Gara-gara bus yang di tumpanginya penuh sesak.
“Min, kamu dari mana saja? Jam segini baru muncul. Untung masih boleh langsung masuk,”tanya Tara temannya.
“Heh, kayak nggak tahu aku saja. Ya tentu saja aku masih bisa masuk, aku lewat gerbang samping kok. Tapi aku capek,”jawab Mina.
“Makanya bangun lebih pagi lagi,”saran Tara.
“Iya, iya. Aku usahakan,”sahut Mina.
“Kalian berdua! Ayo turun ke lapangan!”seru Pipin, teman sekelas mereka.
Teman-teman mereka sudah berbaris rapi di samping lapangan sepakbola. Begitu mereka masuk barisan, Ibu guru olah raga mulai memberi pengarahn.
“Hari ini kalian akan diambil nilainya. Jadi sekarang ke GOR. Di sana kalian harus lari! Mengerti?”kata Bu Guru.
“Ya Bu,”seru semua murid.
Lalu mereka berderet-deret berjalan menuju GOR yang berada di seberang sekolah mereka (tapi ke timur sedikit).
Hari itu GOR sudah ramai, lebih ramai dari pagi biasanya. Karena siang nanti akan ada pertandingan sepak bola yang bertaraf internasional. Tim nasional lawan tim Australia, tim U21.
“Bersedia! Siap! Yak!” Ibu Guru memberi aba-aba.
Kelompok lari pertama mulai beraksi. Disusul kelompok berikutnya. Yang terakhir kelompok murid putra.
“Habis ini istirahat ya Bu?” rayu Beni, si ketua kelas.
Sebelumnya Beni sudah dipaksa teman-temannya untuk berkata seperti itu.
“Ya. Tapi kalian harus kembali ke sekolah 15 menit sebelum jam pelajaran selanjutnya,” jawab Bu Guru.
“Terima kasih Bu,” sahut Beni.
Teman-temannya tersenyum pada Beni.
“Dasar kaliaqn ini,”gerutu Beni.
“Ada apa Ben?” tanya Rendra.
“Nggak. Kalian itu lho mesti begitu? Aku yang selalu diajukan. Aku lagi, aku lagi,” jawab Beni kesal.
“Ya maaf Ben. Kamu kan ketua kelasnya,” kata Tian.
“Iya. Terus kalau ada apa-apa aku juga yang tanggung jawabkan?” sahut Beni.
“Sudah-sudah. Maafkan kami ya Beni. Masalahnya, hari ini kita beruntung banget. Pelajarannya sudah selesai. Dan sebentar lagi semua pemain yang mau bertanding nanti siang mau dating. Latihan dan pemanasan. Jadi kita bisa nonton mereka dari dekat. Yah walau belum bertanding. Siapa tahu bisa minta tanda tangan atau foto bareng,” terang Farid panjang lebar.
“Masak sih?! Kok aku baru tahu?” seru Beni tak percaya.
“Woi! Ben! Kamu hidup di mana sih? Aku saja tahu kok, masak kamu yang anak putra dan suka sepak bola bisa tidak tahu?” timpal Tara.
Akhirnya Beni tenggelam dalam sorakan teman-temannya.
Saat mereka tenang kembali, sebuah bus warna putih memasuki GOR. Serentak pandangan mereka tertuju pada bus tersebut.
“Mendekat ke stadion sepak bola!” Rendra mengomandoib teman-temannya.
Tanpa diperintah dua kali, mereka bergegas menuju stadion sepak bola. Begitu pula bus tersebut.
Mereka berjejer di samping pintu stadion, di luar pagar pembatas yang di pasang oleh panitia. Di sekitar mereka ada beberapa fans lain yang ikut menyambut kedatangan timnas, beberapa wartawan, dan beberapa orang asing yang tampaknya suporter tim Australia.
Satu persatu pemain timnas menuruni bus dan berjalan masuk ke stadion di ikuti pelatih dan manajer tim. Juga para polisi.
Mereka meneriakan nama-nama pemain timnas yang disambut lambaian tangan si pemilik nama.
Selesai menurunkan semua penumpangnya, bus itu pun bergerak meninggalkan stadion.
“Aku nggak nyangka bisa ketemu langsung kayak gini,” kata Beni.
“Dasar Beni!” sahut Tian.
Lalu datang sebuah bus yang lain. Kali ini berwarna biru gelap. Perhatian mereka terarah pada bus tersebut.
“Tim Aussey ya?” tanya Belladona.
“Yap kali,”sahut Mina.
Dari tadi Mina merasa gugup berdiri di situ. Yah, dia memang berdiri di deretan paling depan. Jantungnya makin berdetak keras sewaktu bus yang membawa para pemain tim Australia itu datang. Keringat dingin mengalir di dahi Mina begitu bus tersebut berhenti. Dan pintu bus itu tepat berada di hadapan Mina. Napasnya tersengal begitu pintu bus terbuka dan penumpangnya mulai turun.
“Eh, ya ini U21 kan?” celetuk Rifky.
“Ya,”sahut Tian.
“Makanya masih seger-seger,”timpal Rendra.
“Mainnya bagus-bagus kok,”imbuh Beni.
Obrolan itu makin membuat jantung Mina berdegup kencang.
“Ehm, ada apa sih?”gerutu Mina dalam hati.
Suporter dari Australia mulai meneriakan nama-nama pemainnya.
Deg! Sebuah nama membuat Mina terpaku. Pandangannya lalu terarah pada sosok yang di tunjuk salah seorang dari suporter itu.
Mina benar-benar terkejut.
“Harry!”
Nama itu terus diteriakan. Si empunya nama pun melambaikan tangannya.
“Harry? Kewell?”celetuk Beni.
“Bukan! Kewell kan sudah tua,”sahut Tara.
“Heh, bukan tua!”koreksi Rendra.
Tara malah tersenyum kuda.
Tak ada yang mnyadari apa yang terjadi pada Mina. Tatapan Mina tertuju pada Harry. Seakan-akan tak percaya, Mina melihat Harry dari puncak kepala sampai ujung kakinya.
“Harry!” pekik Mina pada akhrinya.
Teman-temannya memandang Mina dengan heran.
“Harry!” seru Mina sekali lagi.
Tak sedetikpun Harry menengok pada Mina.
Mina nyaris menitikkan air mata.
“Harry,”katanya lirih.
Tiba-tiba Harry menoleh ke arah Mina. Wajahnya yang semula lentur berhias senyum menjadi kaku terheran-heran.
Pandangannya terfokus pada Mina yang berdiri di antara teman-temannya yang ikut terpaku. Keduanya akhirnya bertatap-tatapan. Tak ada satu kata pun yang terucap.
“Mi…
Begitu akan memanggil Mina seorang petugas menarik Harry menuju stadion.
Mina menghela napas. Air matanya mengalir. Untung saja hanya teman-temannya yang memperhatikan Mina.
“Udahlah Mina. Nanti kita nonton bareng saja pulang sekolah. Hari ini pulang pagi kok,”hibur Beni.
“Wek! Pulang pagi?”seru Tian.
“Kok nggak bilang dari tadi sih?”lanjut Tian.
“Ya enggaklah. Nanti kalian jadi seenaknya,”jawab Beni tegas.
Tian mengangguk-angguk sok bijak.
“Iya, Min, nanti masih bisa nonton Harry,”hibur Vresa.
Mina berusaha mengangguk.
“Yah, nangis lagi,”celetuk Rendra.
“Gini aja teman-teman. Bagaimana kalau nanti siang kita nonton bareng. Jadi sekarang kita booking tiket. Mumpung belum ramai?”usul Pipin.
Semua setuju dengan usulan Pipin. Selanjutnya mereka mengumpulkan uang mereka pada Rifky yang akan mengurusi tiket mereka.
“Sekarang kita kembali ke sekolah dulu,”perintah Beni.
Tapi Mina masih belum menghentikan tangisnya. Setiap kali ada temannya yang bertanya atau menyebut nama Harry, Mina makin bersedih.
Dan dia juga tidak mau memberitahukan apapun pada mereka termasuk Tara, teman terdekatnya.
“Tara, tadi itu benar Harry Anderson?” tanya Mina.
“Iya, benar kok. Ada apa sih?” tanya Tara balik.
Alih-alih menjawab, Mina malah melamun.
Tara menghela napas panjang dan menggelengkan kepala.
“Sst?” panggil Rendra pada Tara.
“Heh, maksudmu apa?”bentak Tara.
“Sst. Jangan teriak. Hehehe, maaf deh. Eh, Mina kenapa sih?” tanya Rendra.
“Tahu? Memangnya kenapa? Kok perhatian banget?” selidik Tara.
“Eh, eh, jangan sembarangan begitu dong. Aku kan hanya bertanya. Lagi pula sebagai temankan aku juga harus perhatian. Jadi ada apa dengan Mina?” tanya Rendra sekali lagi.
“Hehehe, kupikir ada apa. Nggak dia hanya kangen sama Harry Anderson,” jawab Tara.
“Memangnya Mina penggemarnya Harry?” tanya Rendra kurang puas.
“Tanya saja sendiri. Sana tanya,”jawab Tara kesal.
Rendra langsung nyengir.
“Min, ada apa sih?” tanya Rendra.
“Hah, enggak kok. Nggak ada masalah,” jawab Mina.
“Kok nangis?” Rendra belum menyerah.
“Oh, begitu ya? Aku hanya ingat masa laluku dulu. Aku rindu sama Harry,” jawab Mina pada akhirnya.
Tara menjentikkan jarinya dan tersenyum penuh kemenangan.
“Rindu sama Harry? Masa lalu?” ulang Rendra tak percaya.
Mina mengangguk mengiyakan.
“Benarkan Ndra,”celetuk Tara.
Wajah Rendra berubah menjadi masam. Seakan kalah perang Rendra berjalan menuju mejanya dengan bahu turun.
“Kenapa Ndra?”tanya Feri teman sebangkunya.
“Aku sedih Fer.”
“Memangnya ada apa?” selidik Feri iba.
“Masak tadi aku kan tanya sama Mina kenapa dia nangis. Eh dia bilang kalau dia ingat masa lalunya dan dia rindu sama Harry. Gimana coba?”rengek Rendra.
“Halah-halah. Gitu aja sedih. Positif dong. Mungkin saja Mina hanya nge-fans sama Harry. Terus memangnya Mina pernah tinggal di luar negeri?” hibur Feri.
“Benar juga ya? Oh, thank you. You are my man.”
Rendra membusungkan dada kembali.
Saat itu bel pulang berbunyi nyaring disambut sorakan para siswa.
“Teman-teman jangan langsung pulang. Ini mau dibagi dulu tiketnya. Kita satu tribun. Masuknya nanti sama-sama. Duduknya sama-sama. Keluarnya juga sama-sama,” kata Beni.
Selesai membagikan tiket mereka bergegas keluar kelas.
Anak-anak kelas heran melihat mereka terus bergerombol menuju GOR.
“Eh, anak-anak Ilmu Alam 4 mau kemana sih?”tanya siswa kelas lain pada temannya.
“Nonton sepak bola kali,” sahut temannya.
Sedangkan mereka tetap berjalan dengan pedenya menuju stadion.
“Di situ strategis teman-teman!” seru Rifky seraya menunjuk salah satu sisi tribun.
Yang lain mengikuti Rifky lalu duduk berundak-undak.
Pertandingannya sendiri belum di mulai. Para pemainnya masih pemanasan di lapangan. Dan penontonnya juga baru mereka. Yah, karena Paman Rifky salah satu Pengelola stadion jadinya boleh masuk lebih dahulu dari penonton lain.
Mina mengedarkan pandangannya ke pelosok lapangan. Terutama bagian lapangan yang di pakai tim lawan. Lalu pandangannya terpaku pada sesosok yang berdiri menghadap ke arahnya. Tak disangka mata mereka saling beradu pandang. Tanpa disadari, Mina telah bangkit dari duduknya dan Harry, sosok itu tadi, berjalan menuju samping lapangan di bawah tribun tempat Mina teman-temannya duduk.
“Mina!” seru Harry.
“Harry!” balas Mina.
“How are you dear?” tanya Harry.
“Fine. How you? Why you never send any letter to me?” jawab Mina.
“Sorry, I was very busy. Than, I lost your address, sorry. I am very very happy to meet you again, now,” sahut Harry.
“Catch this one!” seru Mina seraya melempar sebuah buku cacatan kecil pada Harry.
“What is it?” tanya Harry seraya membukanya.
“Check it after match. You have to back there. Your Coach is calling you. We will meet agaian. I will watch you there with my friends. See you. I miss you,” kata Mina sebelum kembali ke tempat duduknya. Harry juga bergegas menyusul teman-temannya menuju ruang ganti. Penonton yang lain mulai memasuki stadion.
Sementara itu teman-teman Mina terheran-heran menyaksikan kejadian tadi. Mulut mereka masih ternganga saat Mina kembali duduk di antara mereka.
“Apaan sih tadi?”celetuk Rendra.
Teman-temannya diam saja tak menyahut. Yah sebenarbya Rendra menyukai Mina sejak kelas satu dulu. Tapi dia tak pernah mengungkapkan hal itu pada siapapun termasuk Mina. Takut dicampakan.
Akhirnya pertandingan yang ditunggu-tunggu berlangsung juga. Mina hanya diam saja tak ikut teman-temannya yang terus bersorak untuk timnas. Matanya terus mengekor pada sosok Harry.
“Min, kamu harus ansionalis. Walaupun Harry teman kamu tapi saat ini kamu harus membela timnas bukannya membela dia!” seru Beni.
“Iya Ben. Tenang saja. Aku bela timnas kita kok,”sahut Mina.
Setelah dua kali empat puluh lima menit plus lima menit tambahan, akhirnya wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan dengan kemenangan timnas 2-1 atas tim Australia. Mina ikut bersorak bersama teman-temannya. Sementara di lapangan Harry memperhatikan Mina sambil tersenyum.
“Min, sebenarnya Harry itu siapa? Apa hubungannya denganmu?” tanya Tara sewaktu mereka berjalan keluar stadion.
“Em, dia itu teman masa kecilku dulu. Dulu aku pernah tinggal di Glasgow selama 3 tahun. Dia juga tinggal di sana. Umurnya terpaut satu setengah tahun denganku. Tapi kami begitu akrab. Dulu sebelum berpusah kami saling menukar alamat. Tapi ternyata ia pindah ke Australia tanpa memberitahuku. Ibunya orang Australia. Aku sempat berpikir ia sudah lupa padaku. Jadi tadi aku menangis karena terharu. Dia masih ingat aku.
“Kemudian kuputuskan untuk memberi dia sebuah cacatan. Isinya sih alamat dan nomor teleponku. Semoga saja dia segera memhubungi aku. Karena aku sangat merindukan dirinya.” cerita Mina.
Tara mengangguk-angguk.
“Ceritamu begitu mengharukan. Menyentuh jiwa. Tadi seperti sinetron saja. Aku sempat berpikir kau akan nekat loncat dari tribun,” kata Tara.
“Tara, aku masih bepikir jernih. Mana mungkin aku sampai berbuat seperti itu,”kata Mina.
Tara tertawa.
“Lalu, bagaimana kalau dia tidak meneleponmu?” tanya Tara.
“Entahlah. Setidaknya aku telah melakukan apa yang kurasa perlu untuk kulakukan. Tapi aku sangat berharap banyak padanya.,” jawab Mina.
“Yah, semoga saja dia segera menghubungimu. Aku tahu kok bagaimana rasanya rindu seperti yang kau rasakan sekarang ini. Semangat ya!” kata Tara.
Mina berjalan bolak-balik di kamarnya. Menunggu sesuatu sedari pulang sekolah tadi.
“Min, kamu kenapa sih? Kok mondar-mandir terus dari tadi?” tanya Tino, kakak laki-lakinya.
“Em, lagi nunggu telepon,” jawab Mina singkat.
“Wee, telepon dari siapa nih? Wah jangan-jangan dah punya pacar nih? Tak bilangin ibu lho,” goda Tino.
“Sembarangan kakak ini. Pacar apa sih? Telepon dari temanku. Harry, kakak masih ingat dia tidak ?” kata Mina.
“Maaf, maaf. Harry? Harry potter?” tanya Tino.
“Harry Anderson, yang dulu tetangga kita di Glasgow dulu itu lho. Ingat?”
“Oh, ya, ya. Si H. Memangnya kapan kalian bertemu? Dia ke sini?”
“Tadi aku ketemu sama dia. Tahu nggak dia sekarang jadi orang Australia. Terus dia ikut timnas Australia.”
“Terus dia ikut pertandingan tadi siang? Bagaimana kalian bertemu?”
“Ya kau benar. Saat aku penilaian lari, dia se-tim datang untuk pemanasan. Kami sempat saling melihat. Terus aku dan teman-teman sekelas kan nonton pertandingan tadi, nah sebelum pertandingan kami ngobrol sebentar di pinggir lapangan.”
Mina terus tersenyum senang. Melihat hal itu Tino hanya menggelengkan kepalanya.
“Kau meberinya nomor teleponmu?”
“Ya tentu saja. Aku harap dia masih ingat aku dan segera meneleponku. Aku sangat merindukannya.”
Pandangan Mina jadi menerawangan. Dia mengingat hari-hari yang dulu ia lalui bersama Harry di Glasgow.
“Woi! Jangan melamun dong adikku sayang!” bentak Tino.
“Hehehe, maaf kak.”
Namun telepon genggam milik Mina belum juga berdering. Jadi Mina masih bingung menunggu kabar dari sahabatnya Harry.
“Dia pasti sedang sibuk. Mungkin nanti,” kata Mina menghibur dirinya sendiri.
Mina datang ke sekolah dengan wajah muram. Tara heran melihat perubahan sahabatnya itu.
“Min, kamu tidak sakitkan?” tanya Tara khawatir.
Mina mengangguk.
“Mina, jangan-jangan Harry belum meneleponmu juga ya?” selidik Tara.
“Ehm, tidak. Dia sudah meneleponku. Bahkan kami mengobrol sampai dua jam,” jawab Mina.
“Lalu mengapa kau muram seperti ini?” tanya Tara.
“Karena dia mengundangku ke acara pertunangannya minggu depan. Dia bilang sejak kami sama-sama pindah dia terus berusaha menghubungiku, tapi tak pernah berhasil. Satu tahun yang lalu dia bertemu dengan seorang gadis. Mereka berteman akrab dan akhirnya mereka sepakat untuk hidup bersama,” jawab Mina.
Tara tertegun mendengar jawaban Mina.
“Sebenarnya dia sangat senang bertemu denganku Kembali. Dan seandainya dia tidak bertemu gadis itu, Harry akan melamarku. Tapi kenyataannya berkata lain. Aku sedih,” lanjut Mina.
Tara mengerjapkan matanya mulai berkaca-kaca.
“Sabar ya kawan. Mungkin dia memang cinta pertamamu, tapi walaupun dia tidak memilihmu sebagai pendampingnya kau harus tetap semangat,” hibur Tara.
Mina memeluk Tara dengan erat.
“Lagi pula sebentar lagi kita ujian akhir. Jaga semangatmu. Doakan saja Harry dan tunangannya,” kata Tara.
Mina melepaskan pelukannya dan mengangguk pada Tara.
Dari jauh Rendra menyaksikan dua sahabat itu. Rendra ingin sekali ada di sana ikut menghibur Mina. Namun ia menahan diri untuk melakukan hal tersebut.
“Mungkin bukan Harry, Mina, tapi aku,” gumam Rendra.
Rendra terus menatap lekat-lekat sosok Mina. Orang yang diam-diam ia sukai.
“Ya, suatu hari nanti aku yang akan menggantikan Harry,”bisik Rendra.
Rendra lalu berjalan mendekati Mina dan Tara. Ia menggunakan kata-kata bijaknya untuk menghibur Mina. Dan dari dalam hati, Rendra membisikkan perasaannya pada Mina.
“Mina, aku sayang kamu.”
TAMAT

by: wulan murti a.k.a yuelan13

don’t copy without my permission

Published in: on Agustus 12, 2011 at 3:40 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

[cerpen] Pita Merah di Lengan Kami

hai-hai! saya mau posting sebuah cerpen yang sok idealis. hehehe…
terinspirasi dari kegiatan yang saya ikuti semasa SMA dulu.
setting di sebuah spot di SMA saya dulu.
hahaha! tokoh dari rekan-rekan saya.
*moga nggak pada minta honor karakternya saya catut*
okay, met baca!
jangan lupa like atau komen.
terima kasih

Pita Merah di lengan Kami

Orang-orang muda itu duduk di tepi ruang. Duduk melingkar di atas lantai keramik yang dingin dan berdebu. Mereka terdiri dari pemuda dan pemudi yang berumur sekitar 18 sampai 22 tahunan.
Wajah mereka dingin dan kaku. Angin bulan Juli yang masih dingin ikut memahat wajah kaku mereka. Mata mereka fokus di titik tengah lantai yang mereka kelilingi. Kosong, hanya ada titik-titik debu.
“Selanjutnya bagaimana? Haruskah kita menegaskan keberadaan kita?” kata salah seorang di antara mereka memecah keheningan.
“Itu nampaknya tidak baik. Akan mempersulit mereka, juga kita sendiri,” timpal seorang pemuda yang duduk tegap.
Mereka kembali terdiam. Masing-masing memegang selembar kertas putih. Di atas kertas ukuran kuarto itu tercetak berderet-deret kalimat yang dinomori. Kata peraturan tercetak tebal dengan huruf kapital berukuran 14 rata tengah di bawah garis yang membatasi kop.
Berbagai coretan dibubuhkan menindih cetakan tinta itu sebagai tanda bahwa diskusi mereka telah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Bahkan di bagian bawah kertas yang masih kosong dipenuhi tulisan-tulisan baru dengan bolpoin, meralat apa yang telah tercetak di kertas tersebut.
“Kita bahas yang lainnya dahulu saja?”cetus pemuda yang nampak paling tua.
Rekan-rekannya menanggapi dengan anggukan persetujuan.
“Bahas apa lagi? Peraturan yang mereka buat sudah kita revisi. Apa lagi coba?” kata seorang pemudi yang berwajah ambisius tiba-tiba.
Pemudi lain yang duduk di sebelahnya melirik tajam. Pandangannya penuh keraguan, setuju atau tidak setuju.
“Hehm,” pemuda yang berkacamata kotak berdeham.
“Kita kan belum membahas peran, tanggung jawab dan batas kita secara mendetail,” lanjutnya.
Pemudi yang melirik pemudi yang ambisius tadi kembali menekuni notesnya dan menulis dengan cepat dan bersemangat.
“Y, kau tulis semuanya ka?” tanya pemuda yang berkulit putih pada pemudi yang menulis itu.
“Iya, Kak. Tenang saja,” jawab Y lantang.
“Baiklah, kita di sini mewakili rekan lain yang tidak dapat hadir. Tadi kita sudah sepakat bahwa kita di sini berdiri di luar kepengurusan resmi adik-adik. Kita, SERAT, berperan sebagai dewan penasehat dan pengurus lapis ketiga,” kata pemuda yang duduk tegap.
Pemuda yang tampak paling tua mengubah posisi duduknya.
“Lapis ketiga, Kak?” celetuk pemudi berjilbab yang berseragam abu-abu.
“Kau ini, L. kapis kedua kan kita,” sahut pemuda berambut cepak yang juga berseragam abu-abu.
L menggumamkan sesuatu.
“Sudah. Kita lanjutkan saja,” kata pemuda berseragam yang berbadan besar.
Diskusi serius itu dilanjutkan kembali. Namun, seseorang di antara mereka yang tidak terlalu menyukai ketagangan seperti yang tadi terjadi melemparkan kelakar di sela keseriusan yang berlebih. Serius, bukan tegang.
Hampir satu jam mereka duduk di tepi ruang terbuka itu. tepatnya sebuah bangunan tanpa tembok keliling dan daun pintu. Hanya ada dua dinding di kedua sisi belakang. Sisanya empat tiang, di depan dan di samping. Warna bangunan itu senada dengan bangunan-bangunan lain di sisinya. Hijau lembut yang menyejukkan mata. Satu yang istimewa, nama bangunan itu sesuai dengan gaya arsitektur yang dianutnya, Joglo.
Bangunan itu, Joglo, seperti telah menjadi landmark di situ. Bagaimana tidak? Joglo menjadi tujuan utama untuk berkumpul. Tak jarang bangunan yang tak begitu luas itu diramaikan. Bahkan sampai senja menjelang. Sementara di pagi dan siangnya, guru yang mengajar menari memakainya untuk menggemulaikan anak-anak didiknya.
Dan mereka masih terduduk di lantai yang jarang tersentuh sapu itu. Sedikit rasa rindu terbesit di dada mereka. Mereka sudah tidak seperti yang masih berseragam bau-abu. Pakaian mereka bebas, terserah apa yang ingin mereka pakai dan tidak ada yang akan memarahi mereka karena pakaian. Mereka bukan lagi orang yang harus mematuhi peraturan dari birokrasi yang ada di tempat itu. Setidaknya tidak semua peraturan.
Ada pertanyaan yang terpendam di masing-masing jiwa. Pada intinya, pertanyaan itu sama saja. Mengapa mereka masih sudi melangkahkan kaki mereka di tempat itu. Padahal itu bukan kewajiban mereka. Dan di sisi lain hanya mereka dan sekelumit orang saja yang mau melakukan hal itu. Kekuatan apa yang begitu dahsyat hingga mampu menarik mereka untuk setia.
Menjelang sore tiba wajah tegang mereka mulai melentur. Ada satu bahasan yang paling alot. Walaupun sebenarnya tak perlu dibuat genting seperti itu. Namun suasana dari luar ingin merumitkan dengan menghembuskan hawa panas yang tak perlu.
“Sudahlah, tak perlu dibesar-besarkan. Intinya kita di sini ada untuk mengawasi jalannya kegiatan itu. Di salah satu bagian, kita sebagai penegak peraturan. Kita sebagai bel pengingat dan penasehat. Kita akan siap sedia ketika mereka mengangkat bendera putih, jika itu jalan terakhir,” kata pemuda yang duduk tegap penuh penekanan di beberapa kata.
Semua mengangguk penuh persetujuan. Tak ada lagi tanda tanya yang tersirat di wajah mereka. Y memberi titik di akhir kalimat yang ditulisnya.
Mereka duduk sedikit merenggang. Sebagian menggerakkan badannya hingga berbunyi. Sambil merapatkan jaket pemuda berkacamata kotak mencoba mengajak sedikit bercanda. Ia menggoda pemuda lain yang berambut layaknya landaknya. Pemuda lain seperti mengikuti skenario, menimpali sekenanya. Suasana itu membuat angin dingin bulan Juli kalah telak.
Terkadang suasana seperti inilah yang menjawab pertanyaan yang terpendam itu. Kehangatan lain yang didapat dari orang lain yang bukan sedarah. Adanya penerimaan, keterbukaan, keikhlasan, dan kejujuranlah yang melingkupi. Ada yang menyebut hal tersebut dengan persahabatan, persaudaraan. Namun, apapun sebutannya, intisarinya tetap saja sama.
Seorang di antara mereka menjadi teringat percakapan dirinya dengan sahabat lamanya beberapa waktu yang lalu.
“Mengapa kau masih datang ke tempat itu? Malah kau masih saja berurusan seperti itu. Kan sudah tidak ada kaitan apa-apa. Apa kau tidak capek? Kalau aku sih memilih di rumah. Biar saja diurus yang muda-muda.”
Hatinya sedikit tersinggung mendengar kalimat-kalimat itu. namun rasa bangga dan rasa ketidakrelaan melepas sesuatu bergegas menyergapnya. Jantungnya terasa hangat dan nyaman.
“Iya sih, capek juga. Tapi aku belum bisa meninggalkan semua ini begitu saja. Bukan berarti pula aku tidak mempercayai adik-adikku itu. malah adanya aku, dan rekan-rekan lain, di sini hanya ingin melihat mereka berhasil.”
Sahabat itu memandang heran. Lalu ia menghela napas, memaklumi.
Pemudi itu membatin jawaban tambahan yang enggan ia ucapkan pada sahabatnya.
“Semua itu karena cinta kami pada tempat itu. karena sebuah perasaan yang sama-sama kami rasakan. Ada sesuatu yang mengikat hati kami. Lebih lebar dan kuat dari pada seutas benang. Bukan benang merah, seperti yang orang sering bilang, yang menyimpulkan kami. Namun sesuatu yang lebih dari itu.”
Angin bulan Juli yang masih membawa hawa dingin itu masih setia berhembus. Menggelitik tengkuk pemuda-pemudi itu. Mereka menatap lapangan luas di depan mata. Rumputnya tumbuh tak beraturan. Ada dorongan ingin kembali berlari mengelilingi tepian lapangan hijau itu. Mereka memandang selang air yang memancarkan air membasahi lapangan itu. Lebih baik mereka hanya memandangnya, dari pada basah dan kena tanah yang becek.
“Kenapa kalian masih bersedia hadir?” pertanyaan ini pernah diungkapkan oleh seorang pembina kegiatan. Dengan penuh rasa mereka menjawab satu persatu dengan jawab yang berbeda-beda. Namun, maksudnya sama saja.
“Ada ikatan yang tak akan lekang dimakan jaman.”
Sinar kebanggaan memancar dari kedua mata mereka masing-masing. Dada mereka disesaki perasaan bahagia yang tak mudah ditemukan begitu saja. Mereka merasa di tempat itulah sumber kebahagian itu.
Ada yang mengikat mereka begitu eratnya. Tapi ikatan itu tak pernah meninggalkan bekas yang menyakitkan. Justru memberikan tanda yang akan selalu membuat hati tenang. Tak ada rasa terpaksa. Malah hati mereka sendiri yang mendorong mereka.
Ikatan itu lebih dari seutas benang. Lebih dari seutas benang merah. Bukan sekedar benang merah yang sering dipakai orang sebagai istilah. Sesuatu yang lebih.
Sesuatu itu sama dengan pita merah yang melingkar di lengan kanan kami. Pita yang melambangkan bahwa kami SERAT. Kamilah serat. Kami perseorangan adalah serat-serat tipis. Di tempat ini kami dirajut menjadi satu menjadi seutas pita panjang.
Pita yang penuh semangat, merah. Pita yang penuh cinta, merah. Pita yang penuh ketegasan, merah. Pita yang penuh perhatian yang hangat, merah.
Pita itu terikat kencang di lengan setiap pemuda-pemudi itu. Pita itu menanda siapa mereka. Pita itu penyatu mereka.
“Kita sudah tidak mempunyai andil di sini,” kata salah satu pemudi jauh hari lalu.
“Bahkan bisa saja dianggap orang luar,” imbuhnya.
Pemudi lain yang ia ajak bicara memperhatikan dengan heran.
“Namun bantuan kita masih dapat diberikan kapanpun. Toh, adik-adik kita terbuka menerima kita. Tapi tetap saja kita harus menghormati mereka. Kita harus percaya sepenuh hati pada mereka,” lanjutnya mantap.
“Aku percaya pada adik-adik kita,” timpal pemudi itu tanpa ragu.
Dan pita merah itu terikat kencang di lengan kami. Merah menyala ditimpa cahaya matahari. Sisanya yang menjuntai berkibar dihembus angin. Sudah kesepakatan bahwa pita merahlah yang kami pakai sebagai tanda pengenal. Begitu sedarhana. Namun amatlah berharga. Karena semua sepakat.
Pita itu tetap terikat walaupun telah dilepaskan dari lengan kami. Karena sebenarnya dengan atau tanpa pita itu, kami akan tetap setia hadir di tempat ini. Dan jauh di sanubari kami pita merah yang sesungguhnya telah mengikat kami.
“Lalu apa tanda pengenal kita?” tanya pemuda yang kurus.
“Bagaimana kalau pita merah?” usul pemuda yang duduk tegap.
“Keren,” gumam salah seorang diantara mereka.
Dan pita merah itu terikat di lengan kami.

TAMAT

Surakarta, 7 Agustus 2008

by: wulan murti a.k.a yuelan13

don’t copy without my permission

Published in: on Agustus 9, 2011 at 11:20 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

[cerpen] Melankolia Hujan Bunga

hehm…setelah merasa blog saya begitu sedikit isinya, saya akhirnya mengubek-ubek folder lama saya.
saya buka kembali sebuah cerpen yang pernah saya ikutkan ke sebuah lomba.
namun entahlah nasibnya.
maka karena itu, saya posting saja di sini.
silakan dibaca dan dikomentari ya?
pleaseeee…!!!

this is it:

Semua masih terpatri di pikiranku. Bukan bayangan, semuanya tampak nyata. Senyata apa yang telah kulihat. Entah ini kenangan baik atau buruk. Yang kutahu aku tak ingin kehilangan kenangan ini walaupun aku membencinya. Aku, hidup dalam kenangan ini.

Aku tertawa sendiri tiap kali teringat pertemuan pertama kami. Dia sedang sibuk mengetik. Aku mendekatinya untuk menanyakan titik wifi mana yang dapat dipakai. Dia mendongak dengan sedikit terkejut. Rambutnya yang panjang berayun serempak. Kuakui aku terpesona seketika. Dia menjawab dengan suara tegas yang terputus-putus. Nada bicaranya yang itu selalu terngiang di telingaku. Ah, aku merindukannya.
“Kak, besok kita wifi-an lagi ya?” ajaknya saat meneleponku.
“Hehm… besok jam berapa? Sepulang kau sekolah?” tanyaku.
“Iya. Aku bosan Kak. Jadi kakak mau kan?”
“Baiklah. Besok bertemu di city walk seperti biasa ya?”
Kami memang sering bertemu semenjak perkenalan kami itu. Dia gadis yang ceria. Dia termasuk orang yang banyak bicara. Gadis yang penuh gagasan. Gagasan-gagasan yang diluar dugaan sering keluar dari mulutnya. Dia bilang telah lama ia memikirkan semua gagasan itu. Dia memang cerdas.
Sering kali apa yang diucapkannya membuatku lebih terbuka. Membuat kegundahan yang menggelanyuti hatiku berkurang. Sekalipun dia lebih muda dariku, dia menjadi dewasa dihadapanku. Umur bukan hal dia ributkan. Dia dewasa bukan karena umur, melainkan karena dia mengingingkannya. Dia harus bersikap lebih dari umurnya.
Aku mengingat dengan jelas semua yang pernah ia katakan padaku. Semua yang ia ceritakan. Tentang teman-temannya yang berpacaran, soal-soal fisika yang membuatnya mengikuti pelajaran tambahan, tentang cita-citanya. Segalanya yang ia miliki nyaris telah ia bagi denganku.
Pertama kali aku tak mengerti mengapa ia melakukannya. Kupikir karena aku sahabatnya. Aku pendengar setianya. Aku memberinya tanggapan yang cukup memuaskan. Lalu aku pun sempat berpikir bahwa dia menyukaiku.
Namun semua dugaanku keliru. Aku memang sahabatnya, pendengar baiknya. Dia mengutarakan maksudnya banyak mencurahkan hidupnya padaku karena dia memilih. Dia memutuskan melakukannya.
“Aku bosan. Sangat bosan. Teman hanya memberi telinga, orang tua hanya memberi perintah, dan aku tak memiliki saudara,” katanya suatu hari.
“Mengapa berpikir seperti itu? Mereka kan memiliki niat yang baik padamu,” tanggapku.
Ia mendesah. Tangannya refleks menggaruk tengkuknya. “Aku tak mengerti. Aku lebih nyaman berbicara dengan kakak. Aku memilih berbicara denganmu.”
Aku tertawa. Wajahnya berubah menjadi kesal. Ia tak terima aku tertawa. Dia memukul lenganku.
“Kakak jahat! Sudah satu tahun kita bersahabatkan? Tak mengertikah kau, Kak?” ketusnya.
“Maaf-maaf,” timpalku.
Dia hanya mencibir padaku. “Orang tua itu sering bingung,” sindirnya.
“Memang siapa yang tua?” tanyaku berpura-pura tak mengerti.
“Tidak sadar? 20 tahun itu tua!”
Dia tertawa puas. Aku hanya menggelengkan kepala.
Memang umur kami terpaut 3 tahun. Dia sering menyindir umurku. Dia bilang aku gagal di masa remajaku. Yah, masa remajaku tak seperti masa remajanya. Waktu remaja kuhabiskan untuk belajar dan mencari uang. Aku bisa melanjutkan kuliah berkat kerja kerasku sendiri. Aku tak terima saat dia mengatakan aku gagal di masa remaja. Bukannya aku telah berhasil? Aku mampu membawa diriku sampai mewujudkan cita-citaku. Dia tetap bersikeras aku gagal sebagai remaja.
“Kau ini sebenarnya cerdas. Tapi mengapa kau bisa berpikir seperti itu? Bagaimana kegagalan yang kau maksud itu?” tanyaku.
Dia menggigit sedotan es jusnya. Tangannya menunjuk langit cerah hari itu. “Kau tidak menjadi dirimu sendiri. Kau menolak menjadi apa yang seharusnya. Dan sekarang kau meneruskan menjadi orang lain. Kau gagal karena kau bersembunyi dibalik topeng. Kau bukan kau yang semestinya,” terangnya. “Ah, tak tahu,” sergahku.
Aku sulit untuk mempercayai perkataannya itu. Aku menghindari kenyataan yang ada. Aku tak suka mengungkitnya. Dia sering membuatku kesal karena hal itu.
***
Menjelang ujian kelulusan SMA dia memintaku untuk mengantarnya ke kampusku. Dia ingin melanjutkan belajar di universitas negeri satu-satunya di kota kami. Dia bilang dia tak mau jauh dariku. Membuatku sedikit berprasangka. Dia memang sering menggodaku.
“Luas juga ya Kak. Kukira tidak seluas ini. Aku bisa tersesat kalau begini,” komentarnya setelah kami berkeliling kampus yang luas itu.
“Dasar! Nanti juga terbiasa,” kataku.
Dia memukul lenganku dengan keras. “Ya!” serunya.
Matanya berkeliling ke arah pepohonan tinggi yang menghijaukan kampus. Pohon angsana, sono, dan pinus yang banyak ditanam. Dia senang dengan hadirnya banyak pohon itu. Mungkin itu salah satu alasannya memilih kampus ini.
Cinta tumbuh karena terbiasa. Mungkin itu perumpamaan yang tepat untukku. Aku perlahan menyadari bahwa aku menyukainya. Aku membutuhkannya. Aku terbiasa bersamanya. Hingga saat aku tak bersamanya aku sakit. Aku demam. Aku membutuhkannya. Haha, buruk sekali. Tapi aku menyukainya.
Sayangnya aku hanya mampu menyimpan penyakit hati itu. Membiarkan hatiku bengkak karena virus itu. Melemah karena sakit. Dia menyukai orang lain. Dan orang itu pun menyukainya.
Aku mengenal orang itu. Orang itu bahkan salah satu temanku. Aku benar-benar sakit karenanya. Melihat kebahagian mereka. Aku iri. Bukankah seharusnya aku. Aku yang lebih lama mengenalnya. Aku yang pertama mengenalnya. Bukankah seharusnya aku? Bukan orang itu.
Namun mau bagaimana lagi. Aku hanya sahabatnya. Pertama menjadi teman, seterusnya sahabat. Setidaknya dia masih di sisiku. Dia masih membutuhkanku. Kepada siapa lagi dia dapat mengungkapkan gagasan-gagasannya. Tentu bukan orang itu. Orang itu tak akan mengerti. Karena akulah orang pertama mengerti jalan pikirannya, selamanya hanya aku. Aku.
Aku sedih saat aku kehilangan dia sebagai orang yang kucintai. Sangat menyedihkan. Aku merana beberapa hari setelah mengetahui mereka berpacaran. Aku ingin mengingkari kenyataan itu. Berupaya keras mengatakan bahwa itu hanya khayalan belaka. Berpura-pura ikut bahagia. Semakin jelas bahwa aku memang bukan diriku. Mungkinkah dia merasakannya? Seperti saat dia menilaiku dulu. Mungkinkah?
“Kau kenapa datang ke sini?” tanyaku padanya saat aku masih bersedih.
Dia mengerucutkan bibirnya. Kepalanya tertunduk. Tangannya memainkan ujung jaketnya. “kau sakit ya? Temanmu bilang kau seminggu tidak masuk kuliah,” tanyanya.
“Huh? Sejak kapan kau bertanya tanpa memandangku?” sahutku.
Aku menutup bukuku. Memandangnya dengan mata lebar.
“Kau kenapa? Apa ada masalah?” tanyanya kembali.
Dia belum memandangku. Apa dia telah merasakan perubahan pada diriku? Mungkinkah?
“Aku sehat. Kau bisa lihat sendiri. Aku tak ada masalah,” katakku datar.
Dia mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca. Dia meraih kedua tanganku. “Kau marah padaku ya? Mengapa?”
Aku menggeleng. Aku menarik tanganku. Lalu aku mencoba tersenyum padanya. “Aku tidak marah. Bagaimana bisa kau berpikir aku marah. Aku hanya, emm… aku hanya sedang memikirkan tugas akhirku. Kau tahu kan?”
“Begitu ya? Apa yang bisa kubantu?”
“Tidak ada. Aku sudah dapat mengatasinya sendiri. Kau kuliah saja yang rajin.”
Dia menghela nafas. Aku tahu dia tak percaya padaku.
“Kau pasti dibuat stress karena tugas akhirmu. Sebentar lagi kau jadi sarjana. Baiklah jika aku tak dapat membantu.”
“Kau berdoa saja untukku.”
Dia melangkah pergi. Dia meninggalkan aku. Dia tak kembali. Tak pernah kembali. Dan luka di hatiku makin menjadi. Bahkan tak sembuh. Hatiku habis tergerogoti virus. Matilah jiwaku.
Aku benar-benar kehilangan dirinya. Selamanya. Dia pergi terlalu jauh. Dia bahkan tak mengucapkan salam perpisahan. Aku tak dapat memilikinya lagi. Dia terbang tinggi. Jauh dari jangkauanku. Tak akan kembali sekalipun aku menangis darah memintanya kembali. Tak ada yang dapat dilakukannya. Semuanya telah terjadi.
Aku datang ke rumah yang dia katakan tak terang. Dan saat itu memang suram. Semua memakai warna gelap. Semua muram. Tak ada tawa, bahkan senyum pun tidak. Aku berjalan lurus ke tengah ruang. Tempatnya menungguku. Dia berbaring. Ada seulas senyum samar di wajah pucatnya. Wajahnya begitu dingin saat ku sentuh. Aku menoleh, orang itu ada di sana. Memandangku dengan mata membulat. Ada nyala amarah yang tersirat. Aku memalingkan muka.
Aku mengantarnya pergi. Aku masih di sana menemaninya saat orang-orang meninggalkannya. Bahkan orang itu juga meninggalkannya sendirian. Aku memandang batu yang terpahat namanya. Kubaca tanggal yang terukir. Aku sadar dia masih muda. Begitu muda.
Aku menangis untuk kesekian kalinya. Kusentuh batu persegi yang sedingin es itu. Aku meratapinya. Bersama hujan yang perlahan turun. Air mata bercampur air hujan. Jatuh membasahi tempatnya berbaring.
***
Dia paling menyukai pohon angsana di antara banyak pohon yang ditanam di kampus. Dia menyukai bunga-bunga kuning pohon angsana. Dia terpesona tiap kali langit kampus dihiasi angsana-angsana yang berbunga. Semua kuning. Cerah dan ceria, katanya. Hatinya akan bahagia sekalipun dia bersedih sebelumnya. Dia menunggu-tunggu saat bunga-bunga itu berguguran. Hujan bunga.
Seperti musim semi di negeri seberang. Kelopak-kelopak bunga beterbangan. Jatuh di atas apa saja di bawahnya. Di paving, di kanopi, di selokan, di atas mobil, di rambut orang yang lewat. Jatuh di wajahnya yang menengadah. Dia menjelma menjadi anak kecil. Berlari tanpa peduli orang di sekitarnya. Berlari ke tempat di mana bunga itu berguguran.
“Duduk sini Kak,” panggilnya saat kami keluar dari perpustakaan.
Aku mendekatinya. Kami duduk di tangga batu sempit yang menghubungkan jalan ke perpustakaan ke jalan utama. Di tangga itu pun penuh guguran bunga. Guguran angsana dan bougenvile. Kuning dan fusia.
“Kak, bagaimana jika saat hujan turun bunga kuning juga berguguran? Pasti sangat indah ya?” tanyanya dengan mata bersinar.
“Ini kan belum musim hujan. Tapi mungkin tahun depan saat musim hujan, saat bunganya bermekaran, kau dapat melihat hujan bunga kuning sekaligus hujan air,” jawabku.
Ia memejamkan mata. Wajahnya mendongak ke atas, ke pohon yang menguning itu. Sebuah senyum terulas di bibirnya. “Semoga aku dapat merasakan hujan air sekaligus hujan bunga kuning,” do’anya lirih.
Aku menarik nafas dengan berat. Seperti ada yang menggelanyuti paru-paruku. Ada yang menyumbat trakeaku. Mataku pun berat. Pandanganku buram. Kepalaku yang pening dihujami butir-butir air. Mendadak kenangan yang lain muncul. Seperti film yang diputar cepat. Namun suaranya jelas.
Kami berdiri di depan jendela kaca yang besar itu. Ia memandang ke arah jalan raya di bawah. Aku memandang punggungnya.
“Kak,” panggilnya pelan.
“Ya,” sahutku.
Ia memutar badan. Ia menangis. “Kakak, apa yang kau sembunyikan dariku?” tanyanya.
Aku terhenyak. “Tidak ada,” jawabku. Dia menggeleng. Tentu dia tahu aku berbohong.
“Katakan Kak! Katakan padaku!” serunya.
“Apa? Aku tak menyembunyikan apapun darimu!” bentakku.
Ia menyeka air matanya. “Kau bohong.”
Aku melangkah maju. Ia malah mundur. “Aku memang menyembunyikan sesuatu darimu. Lalu?” ujarku.
“Apa itu?” desaknya.
Aku makin mendekatinya. “Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu,” ungkapku.
Ia membelalakan matanya. Air matanya mengalir deras. Lalu aku melihat kaca di belakangnya pecah. Dia terbaring di bawah sana. Bersimbah darah. Saat aku turun, kulihat matanya menatap tajam ke arahku.
Perih selalu kurasakan saat hujan menghukumku. Butir-butir air itu meruntukiku. Tajam dan dingin. Tak memikirkan rasa yang timbul pada diriku. Terus meruntuki tubuhku. Aku jatuh bersimpuh. Angin besar yang mengalahkanku. Di hadapanku sebuah pohon menjulang. Aku mendongak ke atas. Kuning dan hijau. Sehelai demi sehelai kelopak kuning gugur di atas wajahku. Bunga kuning gugur bersama air. Aku menangis. Aku tak menginginkan ini. Aku mau merasakan ini. Ini harapannya. Ia telah pergi. Meninggalkanku. Aku tak dapat lagi melihatnya. Aku tak dapat lagi menyentuhnya. Aku tak pernah memilikinya. Dia hilang. Dan aku tak ingin mengingat apapun tentangnya. Aku benci. Aku benci diriku. Dia mati di hadapanku. Dia mati karena aku. Karena aku yang membunuhnya.

-TAMAT

by wulan murti a.k.a yuelan13

please don’t copy without my permission
thanks

Published in: on Juli 13, 2011 at 4:54 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , ,

[cerpen] Hati Mira (akhirnya saya post)

woa……………
sepinya.
hati ini juga lagi kesal.
well, maka saya putuskan untuk terbitkan cerpen gaje saya.
dibuat tahun lalu.
aneh dah.

this is it…

Hati Mira

“Diii!” panggil Mira pada sahabatnya, Dia. Sang pemilik nama menoleh. Wajahnya menyiratkan pertanyaan. Ia memandang Mira yang berdiri di selasar kelas. “Ada apa?” tanya Dia dingin.
“Aku mau ke rumahmu nanti sore, bolehkan?” jawab Mira. Dia mengerutkan dahi. Mira mengangguk meyakinkan. “Untuk apa? Bukannya tadi kau bilang kau sedang tak enak badan,” kata Dia.
Mira menggelengkan kepalanya.
“Yah, terserah kau saja,” timpal Dia.
Mira duduk di halte bus di depan sekolahnya. Sudah cukup lama ia duduk di sana. Bus yang semestinya ia naiki datang silih berganti. Baru menjelang pukul empat ia menaiki sebuah bus. Namun bukan bus yang ke arah rumahnya.
“Mira,” sapa seorang laki-laki sebayanya.
Mira mendongak pada laki-laki yang duduk di seberangnya. “Elang! Hai,” ujar Mira yang juga terkejut.
“Kau hendak ke mana?” tanya Elang.
“Huh? Aku, aku mau ke rumah Dia. Kau sendiri?” jawab Mira.
“Oh, begitu. Kebetulan aku juga mau ke sana. Tapi kenapa kau masih berseragam?”
Mira merapatkan jaket yang dipakainya. Ia menggeleng. “Aku tadi masih ada urusan di sekolah.”
Elang mengedikkan bahu. Mira menunduk, memandang sepatunya. Ketika sampai di tujuan, Elang menepuk pelan lengan Mira. Ia mengajak Mira turun.
Mira dan Elang berada di satu sekolah. Mereka terpaut satu angkatan. Namun karena Dia ikut ekstrakulikuler yang sama dengan Elang, membuat Mira dekat dengan Elang. Dua orang itu berjalan berdampingan menuju rumah berpagar rendah warna biru mutiara. Mira agak menjauh dari Elang. Karena Mira tahu bahwa Dia menyukai Elang.
Akhir-akhir ini Mira makin gundah. Sejak ia tahu Dia dan Elang ternyata sangat akrab. Bahkan bisa dibilang saling suka. Mira begitu menjaga sikap pada Dia dan Elang.
“Elang, Mira, kok bisa datang bersama?” heran Dia yang menyambut kedatangan keduanya.
“Iya, tadi kami satu bus. Benarkan Mira?” sahut Elang. Mira menjawab dengan anggukan. Ia tak nyaman berada di antara dua orang ini.
Dia mengajak Mira dan Elang duduk di beranda rumahnya yang asri. Elang mengobrol banyak dengan Dia. Seakan melupakan Mira yang diam menatap kolam teratai di depan beranda.
“Mira! Mira!” seru Dia.
Mira mengerjapkan matanya. Ia terkejut. “Ada apa Mira? Kau melamun?” tanya Dia.
“Ah, tidak. Oh, ya, aku mau meminjam buku catatan matematikamu, Dia. Besok ku kembalikan,” jawab Mira.
Dia mengerutkan dahi. Namun ia segera masuk untuk mengambil bukunya. “Kenapa tidak bilang dari kemarin? Tadikan bisa kubawakan ke sekolah,” ujar Dia seraya menyerahkan bukunya. Mira menerima buku catatan tersebut. Ia lalu memasukkannya ke ranselnya.
“Maaf, aku baru ingat tadi sepulang sekolah,” sesal Mira.
“Tidak apa. Aku hanya kasihan melihatmu jauh-jauh ke sini. Apa kau belum pulang?” timpal Dia.
Elang memperhatikan dua sahabat tersebut.
“Eng… belum. Baiklah, aku pamit dulu ya,” kata Mira. Mira bangkit dari kursi. Dia ikut berdiri.
“Nanti saja kuantar kau pulang,” cegah Dia.
“Tidak perlu, Dia. Aku tak mau merepotimu. Aku pulang dulu ya,” tolak Mira.
Mira mengangguk pada Dia dan Elang. Ia berjalan cepat-cepat meninggalkan rumah Dia. Di tengah perjalanan air matanya perlahan turun.
Setelah kejadian itu Mira makin menjaga jarak dengan Dia dan Elang. Perasaannya tak karuan tiap melihat Dia maupun Elang. Namun sebaliknya, Dia dan Elang menjadi sepasang kekasih.
“Apa yang terjadi padaku?” batin Mira. Mira meletakkan kepalanya di atas meja. Teman-teman sekelasnya tengah sibuk mengerjakan soal latihan. Tak ada yang menghiraukan Mira tengah bersedih itu.

“Mira! Mira! Mira!” seru seseorang. Mira mengerjapkan mata. Ia tersadar dari lamunannya. Ia menoleh pada orang yang duduk di sampingnya.
“Bara, maaf aku malah melamun,” ujar Mira.
Orang yang bernama Bara itu tersenyum. “Tak apa. Memang kau tadi melamunkan apa? Matamu menatap tajam bunga teratai itu,” kata Bara.
Mira menarik nafas. Ia kembali memandang teratai yang tengah mekar. Bara ikut memandang bunga tersebut. “Teratai itu bunga yang menakjubkan. Aku suka teratai,” kata Mira.
“Benarkah itu?” sahut Bara. Mira mengangguk. Ia lalu mengalihkan perhatian pada kertas kuisoner yang tergeletak di depannya. Kuisoner itu berasal dari Bara. Bara adalah kakak tingkatnya di fakultas seni rupa.
“Senang ya sudah hampir selesai kuliah,” kata Mira.
“Ah, kau ini. Nanti kau juga segera menyusul. Kau yang serius di semester tiga ini. Begitu juga semester selanjutnya,” nasehat Bara. Mira mengangguk. Ia menekuni kuisoner itu. Bara sendiri menyibukkan diri dengan laptopnya.
Maaf telah tak jujur, Bara. Hanya saja aku tak ingin membicarakan masalahku. Terlebih mengenai masa laluku itu. Aku tak ingin hubungan kita menjadi masalah. Aku tak mau berbagi duka. Maaf, Kak.
“Mira, hari minggu depan kau sibuk tidak?” tanya Bara.
Mira mengangkat wajah. Ia berpikir sejenak. Bara memandangnya penuh harap. “Ehm… sepertinya tidak,” jawab Mira.
“Kalau begitu, mau kah kau…
“Ah, ini, aku sudah selesai mengisi kuisonernya,” ujar Mira memutus perkataan Bara.
Bara menghela nafas. Ia menerima kertas yang diangsurkan Mira padanya. Ia memandang Mira yang memberesi barangnya.
“Aku harus cepat pulang. Kakak bilang saja kalau perlu bantuan lain. Sampai jumpa,” pamit Mira. Bara hanya melambai. Ia menatap nanar kepergian Mira. Mira yang meninggalkannya sendiri di kafe yang ramai itu.
“Ada apa sih dengan gadis itu? Tiap kali hendak kuajak pergi selalu menghindar. Padahal jika berkaitan dengan kuliah ia mau,” gumam Bara.

Mira bersandar ke kepala tempat tidurnya. Matanya menerawang jendela di hadapannya. Kenapa selalu seperti ini? Apa aku trauma? Apa hatiku terlalu sakit? Aku tahu Bara menyukaiku. Aku dapat merasakannya dari perhatian yang ia beri padaku. Namun semua itu mengingatkanku pada Elang dan Dia. Walaupun sudah dua tahun tak melihat mereka bersama, hatiku tetap ngilu. Mereka dan aku telah terpisah ratusan kilometer. Tapi tetap saja hatiku resah.
Teratai, bunga yang kuberikan pada mereka sebelum perpisahan sekolah. Masing-masing pada Elang dan pada Dia saat kami lulus. Entah mengapa aku memberikannya? Mungkin karena aku begitu menyukai bunga teratai. Aku memberi benda yang kusukai pada orang yang kusayangi.
Hatiku mungkin tak siap untuk membuka diri. Hatiku terlalu khawatir. Hatiku waspada, berprasangka pada apa yang akan terjadi. Jika aku terus seperti ini, apa aku akan menyakiti hati orang lain? Aku takut itu terjadi. Namun aku lebih takut jika aku hancur kembali seperti dulu.
“Drrt-drrt-drrt,” bunyi getaran ponsel di atas nakas. Layar ponsel yang menyala menampakkan nama Dia. Mira tertegun melihatnya. Ia ragu untuk menjawab panggilan itu. Mira perlahan mendekatkan ponsel ke telinganya. Tiba-tiba ponsel itu berhenti bergetar. Tangan Mira lunglai memegang benda itu.
“Drrt-drrt-drrt,” ponsel Mira kembali bergetar. Nama Dia kembali tertera di layar.
“Hallo,” ucap Mira.
“Mira, apa kabar? Ini Dia, masih ingatkan?” balas suara dari seberang.
Mira menelan ludah. “Masih. Apa kabar? Lama ya tak berjumpa,” kata Mira susah payah.
“Iya. Kau pasti sibuk sekali. Kalau aku sih sedikit santai.”
Dia tertawa kecil. Mira mencoba tertawa. Namun malah suara aneh yang keluar.
“Mira, bagaimana kalau kita bertemu? Kau bisa?”
Mira tertegun. Pikirannya mulai melayang-layang. “Kapan?” tanya Mira.
“Hari minggu depan. Kita bertemu di kedai kopi yang dulu,” jawab Dia.
“Baiklah. Kita bertemu di sana.”
“Iya. Sampai jumpa, Mira.” Sambungan telepon itu terputus. Ponsel Mira meluncur ke atas tempat tidur. Mira merebahkan diri. Matanya memandang lampu gantung di atasnya.
Setelah sekian lama. Dia ingin menemuiku. Dia masih mengingatku rupanya. Namun ada apa sekarang? Sekedar rindu atau ada yang terjadi?
Mira melangkah tanpa semangat di selasar kampus. Pandangannya tak fokus pada apapun. Ia berhenti di depan ruang studio gambar. “Sudah terlambat rupanya,” gumam Mira. Mira beranjak ke kursi yang berjajar di sepanjang selasar. Ia duduk di salah satu kursi. Dengan berat ia menarik nafas.
“Mira,” sapa Bara.
Mira mendongak. Tampak senyuman di wajah tampan Bara. Mira membalas tersenyum. “Aku terlambat masuk studio,” kata Mira.
“Tak biasanya kau terlambat. Ada apa?” komentar Bara.
Mira tertawa datar. “Sekali-kali bolehkan terlambat,” kata Mira.
Bara kembali tersenyum. Mira mengerucutkan bibirnya. Ia mengeluarkan buku catatannya. Bara bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan Mira. Mira memandangnya dengan tatapan penyesalan.
Maafkan aku. Maaf, hanya maaf yang bisa kuucapkan.

Hari Minggu tiba begitu cepat bagi Mira. Ia tampak enggan bangun pagi itu. Bahkan matahari yang menyelinap melalui celah jendela tak berhasil membangunkannya. “Drrt-drrt-drrt,” bunyi getaran ponsel Mira. Mira menggapai-gapai ponselnya. Tanpa melihat nama yang tertera di layar Mira langsung menerima telepon itu. “Siapa?” gumam Mira.
“Ini Dia. Mira, kau tidak lupakan dengan janji kita?” sahut si penelepon.
Mata Mira terbuka lebar. Ia duduk tegak. Ia menarik nafas panjang. “Ah, tidak lupa kok. Jangan khawatir,” kata Mira.
“Iya. Sampai jumpa,” tutup Dia.
Mira menurunkan ponselnya dari telinga. Bahunya turun. Kepalanya terkulai ke samping kanan.

Mira menyereput capuccino yang dipesannya. Sudah lima belas menit ia duduk di kedai kopi itu. Ia sengaja datang jauh lebih awal. Hatinya terlalu gundah.
“Mira, sudah lama? Maaf aku baru datang,” sapa gadis cantik berambut panjang.
Mira terkejut. Ia memandang takjub pada sahabat lamanya itu. “Ah, tidak kok. Duduklah,” balas Mira. Dia duduk dihadapan Mira. Mereka saling berpandangan sejenak. Lalu Dia memulai pembicaraan.
“Kau tetap manis, Mira. Sudah punya pacar?” kata Dia.
Alis Mira terangkat. Namun ia tersenyum samar. “Aku memang masih seperti dulu. Masih Mira yang kau kenal.”
“Aku senang mendengarnya. Sekarang aku sudah tidak seperti dulu.”
Mira memperhatikan penampilan Dia. Di mata Mira semuanya telah berubah. Penampilan Dia yang dulunya tomboi sekarang begitu feminim. Sikap dan nada bicaranya pun berubah.
“Jika itu lebih baik, tak perlu khawatir. Emm… jadi ada kabar apa, Dia?”
Dia menunduk. Mira merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
“Aku ingin menyampaikan bahwa aku akan segera menikah dengan Elang.”
Mira terbelalak. Pikirannya seketika kosong. Senyum yang sedari tadi ia pertahankan luluh sudah. “Kabar baik. Cepat ya?” tanggap Mira tanpa emosi.
“Mira, aku… aku sudah hamil.”
Dia menatap Mira. Mira terkejut kembali. Ia kecewa dan marah mendengarnya. “Kau, kau, harusnya belum,” ujar Mira dengan nada menghibur.
Dia memainkan gelas kopinya. Ia tampak ketakutan. Ada keraguan di air mukanya.
“Sudahlah, Dia. Kau bisa memulai dari awal. Bersemangatlah kawan!” hibur Mira.
Dia menggelengkan kepalanya. Matanya telah memerah. Ia mengeluarkan sebuah kotak kardus.
“Ini untukmu. Seharusnya dari dulu kuberikan padamu. Maafkan aku,” kata Dia.
Mira menerima kotak warna coklat tersebut. Ia membukanya dengan penuh tanya. Di dalam kotak terdapat beberapa amplop surat. “Siapa?” tanya Mira.
“Elang. Semua itu dari Elang,” jawab Dia lirih.
Mira terhenyak. Hatinya sakit. Luka lama kini terbuka kembali. “Semoga kalian bahagia,” ucap Mira.
Mira bangkit dan menarik tasnya. Dengan sembarangan ia memasukkan kotak tadi ke dalam tas. Ia memandang sejenak wajah pucat Dia. “Aku akan menerima undangannya kan? Alamatku masih sama,” ujar Mira. Mira lalu meninggalkan Dia. Ia menarik nafas dengan berat. Dadanya terasa sesak. Kepalanya berat.

Hujan turun begitu derasnya. Hujan pertama setelah kemarau yang panjang. Mira tersudut di halte. Ia memeluk gulungan besar kertas gambarnya yang terbungkus plastik. Ia memandang hujan yang tak kunjung reda. Tiba-tiba sebuah mobil warna hitam menepi ke halte. Mira tertarik melihatnya. Seseorang keluar dari mobil dengan payung biru. Ia menuju tempat Mira berdiri.
“Bara?” celetuk Mira.
“Ayo ikut aku saja! Nanti tugasmu rusak,” ujar Bara.
Orang-orang di halte memperhatikan keduanya. Memandang Bara yang menarik tangan Mira. Bara memayungi dirinya dan Mira sampai ke mobil.
“Aku merepotkanmu,” keluh Mira.
Bara hanya menggeram. Ia tampak fokus pada setir mobilnya. Wajahnya cemas. Mira merasa tak enak. Ia menunduk.
“Maaf, Mira. Aku hanya khawatir padamu,” kata Bara.
Mira memandang boneka kecil di dashboard. “Iya,” gumam Mira. Mira menjulurkan tangannya pada boneka itu. Boneka itu terbuat dari bulu-bulu yang lembut. Sebuah boneka figur dari film. “Bunny,” kata Mira.
“Kau mengenalnya?” heran Bara. Mira mengangguk.
“Film pertama yang kutonton dengan …”
Mira terdiam. Ia termangu pada boneka putih itu. Bara ikut terdiam.
“Siapa?” tanya Bara.
“Huh? Teman, temanku. Ah, bukan. Bukan siapa-siapa,” jawab Mira.
“Aku menontonnya sendiri. Aku nyaris menangis. Hehehe.”
“Aku menangis diam-diam. Tapi dia tahu dan memberiku sapu tangannya.”
“Aku suka saat bagian akhir yang menyedihkan itu. Juga yang memberi bunga itu.”
“Iya. Penuh emosi. Bunga?”
Mira terdiam. Matanya menerawang ke depan. Bara meliriknya. “Memberi orang yang kau kusukai dengan bunga. Tapi orang itu meninggalkanmu sekalipun telah menerimanya. Terlalu berharap,” kata Mira.
“Kenapa?” tanya Bara.
Mira menarik nafas. Ia menyandarkan punggungnya ke jok. Wajahnya memandang ke samping. “Aku patah hati lagi. Menyedihkan ya? Orang yang sama membuatku sakit hati untuk sekian kalinya.”
“Lalu?”
“Dan temanku ternyata mengkhianatiku. Menyembunyikan kenyataan dariku. Merebutnya dariku. Menyakitiku, juga dirinya.”
“Lupakan mereka.”
“Aku bersusah payah melakukannya. Namun kenangan itu merantai hatiku. Sakit, seperti saat mencabut pisau yang terhujam di dada.”
“Tak pernahkan kau menyadariku, Mira? Pandanglah aku! Aku akan membantu untuk pulih.”
“Itu yang selalu ingin kulakukan! Tapi bayangan mereka mengekangku! Aku benci kelemahanku ini!”
Suara Mira penuh emosi. Air matanya telah tumpah. Bara pun ikut emosi. Ia membanting laju mobil ke tepi jalan. Membuat Mira tersentak. “Kau mau mati?” marah Mira.
“Tidak!” bentak Bara. Mira terbelalak. Air matanya makin deras. Nafasnya tersengal-sengal.
“Mira, maafkan aku,” kata Bara cemas.
“Dia hamil! Elang dan Dia akan segera menikah! Dan aku belum dapat mengobati hatiku! Apa yang seharusnya kulakukan? Matipun tak apa,” ungkap Mira penuh amarah.
Bara menatap mata Mira yang berair. Mira masih sesenggukan di kursinya. Bara mendekat diri pada Mira. Dengan hangat ia mendekap Mira.
“Terimalah aku,” pinta Bara.
“Aku tak tahu,” timpal Mira.
“Aku akan tetap menunggumu. Aku akan selalu ada untukmu. Sekalipun kau tidak menginginkanku, aku ada.”
Mira terus menangis. Ia tak tahu harus berkata apa. Namun ia membiarkan dirinya dalam pelukan Bara.

-TAMAT-

Oleh: Wulan Murti a.k.a yuelan13

please don’t copy without my permission
thanks

Published in: on Februari 27, 2011 at 5:26 pm  Komentar (2)  
Tags: , , , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.